
Rm. Thomas Suratno SCJ dari Komunitas SCJ Teluk Betung Bandar Lampung Indonesia
AUDIO RESI:
ANTIFON PEMBUKA – Yohanes 8:12
Aku ini cahaya dunia. Yang mengikuti Aku hidup dalam cahaya.
Atau untuk Martir Beato Yohanes Maria dari Salib:
Orang kudus ini wafat demi hukum Tuhan dan tidak takut akan perkataan mereka yang tak mengenal Allah karena ia dibangun atas dasar batu karang yang kokoh
PENGANTAR:
‘Siapa tak mengenal Kitab Suci, tak mengenal Kristus’ demikianlah kata Konsili Vatikan II. Bila kita menganggap cukup mengenal kabar gembira, tetapi tak pernah mengadakan hubungan entah dengan mendengarkan entah dengan membaca, maka kita tidak mengenal Kitab Suci benar-benar. Injil bahkan minta untuk menyelidiki pendengaran kita. Benarkah Tuhan yang berbicara, bila kita mendengarkan Kitab Suci?
DOA KOLEKTAN:
Marilah bedoa: Allah Bapa kami yang mahabaik, nyatakanlah kepada kami dengan sabda-Mu: Siapakah Engkau itu? Semoga kebenaran ini menjadi cahaya sepanjang jalan kehidupan kami. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, ….
ATAU untuk Martir Beato Yohanes Maria dari Salib:
Allah yang mahakuasa dan kekal, dalam martirMu Beato Yohanes Maria dari Salib yang telah memberikan teladan bagi gereja tentang kekuatan, anugerahilah kami dengan perantaraannya semangat rekonsiliasi antar sesama umat manusia dalam hati yang rela berkorban, kami persembahkan diri kami kepadaMu untuk saudara-saudari kami demi Kristus Tuhan kami …
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Ezra 1:1-6
“Barangsiapa termasuk umat Allah, hendaknya ia pulang ke Yerusalem dan mendirikan rumah Allah.”
Pada tahun pertama pemerintahan Koresh, raja negeri Persia, Tuhan menggerakkan hati Koresh untuk menggenapkan firman yang diucapkan Nabi Yeremia. Maka di seluruh kerajaan diumumkan secara lisan maupun tulisan demikian, “Beginilah perintah Koresh, raja Persia: ‘Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Allah semesta langit. Ia menugasi aku mendirikan rumah bagi-Nya di Yerusalem, yang terletak di Yehuda. Barangsiapa di antara kalian yang termasuk umat Allah, semoga Allah menyertai dia! Hendaknya ia berangkat pulang ke Yerusalem yang terletak di Yehuda, dan mendirikan rumah Tuhan, Allah Israel, yakni Allah yang diam di Yerusalem. Dan setiap orang Israel yang masih hidup, di mana pun ia berada sebagai pendatang, harus disokong oleh penduduk setempat dengan perak dan emas, harta benda dan ternak, di samping persembahan sukarela bagi rumah Allah di Yerusalem’.” Maka, berkemas-kemaslah kepala-kepala keluarga orang Yehuda dan orang Benyamin, serta imam dan orang-orang Lewi; pendek kata setiap orang yang hatinya digerakkan Allah untuk berangkat pulang dan mendirikan rumah Allah yang ada di Yerusalem. Dan semua orang di sekeliling mereka membantu mereka dengan perak dan emas,harta benda dan ternak, dan dengan pemberian yang indah-indah, selain segala sesuatu yang dipersembahkan dengan sukarela.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 126:1-2ab,2cd-3,4-5,6
Ref. Aku wartakan karya agung-Mu, Tuhan, karya agung-Mu karya keselamatan.
-
Ketika Tuhan memulihkan keadaan Sion, kita seperti orang-orang yang bermimpi. Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tawaria, dan lidah kita dengan sorak-sorai.
-
Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa, “Tuhan telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” Tuhan telah melakukan perkara besar kepada kita, maka kita bersukacita.
-
Pulihkanlah keadaan kami, ya Tuhan, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb! Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.
-
Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.
BAIT PENGANTAR INJIL:
U : Alleluya
S : (Mat 5:16) Hendaknya cahayamu bersinar di depan orang, agar mereka melihat perbuatanmu yang baik, dan memuji Bapamu yang di surga.
BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 8:16-18
“Pelita ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk dapat melihat cahayanya.”
Sekali peristiwa Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur; tetapi ia menempatkannya di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah melihat cahayanya. Sebab tiada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tiada suatu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu perhatikanlah cara kalian mendengar. Karena barangsiapa sudah punya akan diberi, tetapi barangsiapa tidak punya, apa pun yang dianggap ada padanya, akan diambil.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus
RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Thomas Suratno SCJ
Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah hati Yesus melalui Hati Maria.
Sahabat Resi yang terkasih, kita jumpa lagi dalam RENUNGAN SINGKAT DEHONIAN hari ini – Senin, 22 September 2025 – Pekan Biasa XXV. Bersama saya, Romo Thomas Suratno, SCJ dari Komunitas SCJ Telukbetung-Bandar Lampung mendengar dan merenungkan Sabda Tuhan, yakni Firman Tuhan yang tersurat Luk 8:16-18.
Sahabat Resi yang terkasih, lampu untuk menerangi rumah merupakan salah satu kebutuhan penting di dalam setiap keluarga. Pada zaman yang sudah modern ini masih banyak rakyat yang belum menikmati layanan listrik. Berbagai upaya dipakai untuk menghasilkan tenaga listrik tanpa mengandalkan BBM seperti bantuan tenaga matahari dan angin. Namun demikian masih juga ada daerah belum dijangkau sehingga pelita tetap merupakan sebuah andalan dalam keluarga-keluarga yang miskin.
Sahabat Resi yang terkasih, orang-orang Palestina dulu juga pernah memiliki rumah yang di desain sedemikian rupa supaya mudah dijangkau oleh cahaya pelita. Biasanya ada tempatnya dengan posisi agak tinggi sehingga orang yang keluar dan masuk rumah dapat saling melihat (Mat 5:15). Kalau kita perhatikan baik-baik, penginjil Matius dan Lukas sama-sama menekankan pentingnya pelita sebagai sumber cahaya dan cahaya itu tak boleh dipadamkan. Cahaya itu hendaknya tetap bersinar dan semua orang tetap melihat sinarnya.
Sahabat Resi yang terkasih, pasti kita bertanya apa yang Yesus maksudkan dengan perumpamaan ini? Setiap pengikut Kristus sudah dianggap sebagai lahan untuk ditaburkan benih Sabda Tuhan. Setiap pribadi boleh memeriksa bathin, apakah termasuk daerah pinggir jalan, tanah berbatu, semak berduri atau tanah yang baik. Sang penabur bebas menaburkan benihnya dan lahan memiliki komitmen untuk menumbuhkannya. Nah, pada hari ini Yesus menghendaki agar setiap pribadi yang dipanggil untuk mendengar Sabda, dia sekaligus menjadi pelaku Sabda. Artinya Sabda Tuhan yang yang didengar tidak bisa disembunyikan seperti cahaya yang ditutup di bawah tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur. Pengikut Kristus yang baik tidak boleh menutup dirinya terhadap Sabda yang ia telah dengar, sebaliknya ia harus membuka dirinya dan menjadi pelaku Sabda. Penginjil Lukas dalam perikop kita menulis, “Sebab tiada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan , dan tiada suatu rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan.”
Sahabat Resi yang terkasih, Tuhan adalah pelita yang menyinari kegelapan hidup manusia (2Sam 22:29). Pemazmur berdoa, “Firman Tuhan adalah pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mzm 119:105). Kemudian Yesus menganggap Yohanes sebagai pelita yang menyala tetapi orang-orang Yahudi hanya mau menikmatinya sesaat (Yoh 5:35). Firman Tuhan itu laksana terang yang menyala dan menerangi langkah kaki manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik. Sabda Tuhan menjadi penerang untuk mengusir kegelapan dan dosa yang dapat dilakukan oleh manusia. Jadi Sabda Tuhan itu memiliki kuasa bagi kita bukan hanya sekedar mendengarnya tetapi melakukannya di dalam hidup kita. St. Yakobus dengan tepat menulis harapannya, “Hendaknya kamu menjadi pelaku Firman dan bukan hanya pendengar saja, sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yak 1:22). Apa yang harus kita lakukan?
Sahabat Resi yang terkasih, Yesus menghendaki kita semua sebagai pelaku SabdaNya hari ini. Menjadi pelaku Sabda berarti memberi kesaksian nyata tentang Sabda Tuhan seperti cahaya pelita di dalam rumah. Maka perbuatan-perbuatan baik hendaknya dilakukan dengan komitmen yang jelas dan ketekunan untuk menghasilkan buah yang melimpah. Jangan menghalangi cahaya pelitamu atau meredupkan bahkan mematikan cahayanya. Jadilah pelaku Firman. Singkat kata, Jangan berhenti untuk berbuat baik!
DOA: Ya Tuhan semoga hari ini Sabda-Mu sungguh menjadi “pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”. Dan karena aku telah menerima firman-Mu, maka aku berharap diriku juga menjadi pelita yang dapat menerangi hidup sesamaku. Janganlah aku berpuas diri hanya sebagai pendengar firman tetapi doronglah aku untuk menjadi pelaku firman-Mu. Amin.
Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara dalam nama Bapa dan Putera dan Roh kudus. Amin.
DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:
Allah Bapa sumber kedamaian, berkat roti anggur ini berkenanlah menerima iman kami akan Yesus Putra kesayangan-Mu, yang telah mengurbankan hidup-Nya guna memperoleh kedamaian bagi kami. Sebab Dialah ….
ATAU untuk Martir Beato Yohanes Maria dari Salib:
Kuduskanlah persembahan ini ya Tuhan dengan karuniaMu agar terbakar laksana kurban sejati karena cinta sebagaimana beato Yohanes Maria dari salib telah serahkan dalam pemberian tubuhnya, demi Kristus Tuhan kami…
ANTIFON KOMUNI – Lukas 8:16
Pelita itu hendaknya ditempatkan di atas kaki dian, supaya semua orang yang masuk rumah melihat cahaya.
DOA SESUDAH KOMUNI:
Marilah berdoa: Allah Bapa sumber cahaya abadi, Engkau telah memancarkan cahaya-Mu di dunia, yaitu Yesus, Saudara kami. Kami mohon semoga berkat cahaya itu kami dapat semakin memahami Engkau. Demi Kristus.
ATAU untuk Martir Beato Yohanes Maria dari Salib:
Semoga melalui misteri suci yang telah kami terima, Tuhan berkenan menguduskan kami sebagaimana beato Yohanes Maria dari Salib telah setia dalam pelayanannya dan memperoleh kemenangan atas penderitaannya. Demi Kristus Tuhan kami…
DOWNLOAD AUDIO RESI:
Resi-Senin 22 September 2025 oleh Rm. Thomas Suratno SCJ dari Komunitas SCJ Teluk Betung Bandar Lampung IndonesiaUnduh
YOHANES MARIA DARI SALIB (Juan De La Cruz)
Martir SCJ
Satu dari sekian banyak kisah Para kudus
Romo Juan lahir di San Esteban de los Patos (Avila) pada tanggal 25 September 1891. Kota Avila merupakan tempat dimana Santa Teresa dari Yesus berasal. Di sanalah tempat orang-orang Kristen yang kuat dan beriman yang sederhana dan tegas. Kebanyakan warganya adalah petani dan peternak.
Juan adalah anak pertama dari lima belas bersaudara dan saat dibaptis diberi nama Mariano yang adalah nama si ayah. Ayah dan istrinya yang keenam, doña Emerita, berusaha keras memberikan pendidikan Kristen yang kokoh dengan iman dan kehidupan Kristen yang berkomitmen. Keluarganya peduli terhadap gereja. Pak Mariano sepulang dari ladang, sore harinya memimpin novena dan doa rosario. Di sana tidak ada imam yang mengurus komunitas Kristiani di sana. Kalau ada apa-apa berkaitan dengan gereja, pak Mariano lah yang dipanggil.
Pada usia sepuluh tahun, dia menyatakan keinginannya untuk menjadi imam. Romo parokinya mengajarinya membaca dan kemudian ia menjalani pendidikan calon imam di Seminari Avila. Kemudian, dia masuk ke seminari untuk belajar Filsafat dan Teologi. Sebagai seminaris ia dikenal karena merupakan “teladan dalam segala hal, membedakan dirinya karena kerendahan hatinya yang mendalam, juga sebagai pemuda yang memiliki bakat luar biasa.” Salah satu karakteristik yang tetap meskipun menjalani hidup yang keras, penuh pengorbanan dalam doa dan kerja keras, “dia sangat ceria, bersenang-senang dengan semua anak. Ia bukan anak nakal yang suka merusak harmoni di antara teman sekelasnya. Dia dikenal sebagai seorang yang agak suci.” Tekadnya untuk melayani Tuhan tak perlu dikawatirkan tapi ia punya dorongan untuk hidup yang lebih mendalam dan kesatuan dengan Allah. Ia memiliki keprihatinan pelayanan paroki yang kurang ideal karena keterbatasan romo paroki seperti romo-romo Dominikan Santo Tomas de Avila yang kesehatannya buruk.”
Seorang imam yang baik di daerah yang sulit
Pada tanggal 18 Maret 1916, dia ditahbiskan menjadi seorang imam di Avila. Ia berusaha mengikuti jejak Yesus dari Nazareth, dengan mendedikasikan tahun-tahun hidupnya untuk pelayanan paroki di kota-kota kecil di provinsi tersebut. Memang fisiknya tidak kuat tetapi sosoknya dekat dengan Tuhan di tengah-tengah rakyat Castilia yang menderita akibat kemiskinan, situasi politik, dan kurangnya harapan.
Di Avila ada banyak paroki di Hernansancho, Villanueva de Gomez, San Juan de la Encinilla, Santo Tome de Zabarcos, dan Sotillo de las Palomas. Rm. Juan dipercaya untuk paroki-paroki yang umatnya miskin dan sedikit penduduknya, tetapi mereka kuat dan kaya dalam kekristenan.
Tetapi pada tahun 1920-an, Spanyol berhadapan dengan badai yang ganas yang mengakibatkan banyak kehilangan. Terjadi kekerasan yang menyebabkan kehancuran rakyat. Gereja juga terguncang karena mengalami kehilangan akan umat Kristen awam yang tak terhitung sekitar 6.832 bersama dengan uskup, imam, dan biarawati lainnya. Maka menjadi seorang Kristen pada masa itu perlu dibayar mahal, hampir selalu dengan nyawanya.
Pada tanggal 23 Mei 1916, romo Mariano pergi ke Hernansancho. Di sana, dia mengembangkan karya pastoral yang intensif. Ia hadir sebagai pribadi yang sederhana dan rendah hati. Ia memiliki kebiasaan doa yang lama dan adorasi Sakramen Mahakudus selama malam yang sangat dingin di Avila. Ia melakukan mortifikasi jasmani dan kurang tidur untuk membangkitkan iman, ibadah, dan terutama pengakuan, devosi Ekaristi dan Maria, serta menghadapi penistaan. Ia melakukan dengan dijiwai kasih dan pelayanan. Umat yang dilayani memang orang-orang yang sangat miskin di tempat terpencil itu dan romo paroki menjalani hidup berdasarkan pemberian umatnya. Kesaksian umat yang sekarang sudah sangat tua mengatakan bahwa romo Mariano tidak pernah meminta apa pun, bahkan dia tidak akan membawa-bawa keranjang sumbangan. Umatnya menganggapnya aneh. Bila ditanya tentang keranjang sumbangan dia akan menjawab: “itu akan menjadi seperti mengubah gereja menjadi bank”
Romo Mariano selalu membuka pintunya siang dan malam bagi yang membutuhkan, yang sakit, siapa pun… Dikisahkan di kota Hernansancho pernah terjadi perkelahian sengit yang berakhir dengan pertumpahan darah. Si pembunuh meninggalkan beberapa orang terluka. Imam paroki, romo Mariano datang untuk membantu yang terluka di tengah baku tembakan. Si pembunuh kemudian pergi dan berkata kepada temannya, “Aku telah meninggalkan beberapa kambing kecil terlentang di tanahmu. Aku tidak memiliki keinginan untuk membunuh imam karena dia seorang santo.” Ia benar-benar imam yang suci.
Pandangan Rohani
Kendati berhadapan dengan suasana kekerasan, darah dan kematian romo Mariano tetap setia menghadapinya. “Aku bahagia, tapi aku mengakui bahwa aku hidup di luar pusatku, hidup parokial sangat memberatkan bagiku. Dan di sisi lain, aku sangat terganggu oleh penyakitku, sehingga jika bukan karena ketaatan, aku akan mengambil jalan yang berbeda: kecenderungan tak terhindarkan bagiku adalah kehidupan religius'”. Ia ingin menjadi religius. Lalu ia pindah ke keuskupan Victoria (1921-1922), di mana selama hampir setahun dia bertugas sebagai kapelan bagi para Bruder
Sekolah Kristen di Nanclares de Oca. Saat berada di sana, dia menyampaikan minatnya kepada Uskup apakah dia bisa masuk dalam Ordo Karmelit Tersemen di Larrea (Vizcaya). Permintaannya diterima dan dia memulai Novisiatnya di sana.
Romo Mariano mengalami masalah dengan kesehatannya sehingga tidak lanjut. Namun kebiasaannya untuk hidup asketis dan usaha keras membuatnya ingin menjalani kehidupan kontemplatif yang intim.
Dia kembali ke Avila. Selama dua tahun (1923-1924), dia bertanggung jawab atas paroki Santo Tome de Zabarcos dan Sotillo de las Palomas. Ia tidak lama tinggal di sini tetapi jejak yang ditinggalkan sangat berbuah. Rm. Mariano hidup dengan cinta dan devosi yang mendalam terhadap Sakramen Ekaristi. Karena itu, dia memanfaatkan setiap kesempatan yang dia miliki untuk mengunjungi tabernakel gereja di setiap kota yang dia lewati.
Dia sering mengunjungi gereja Suster Reparatrix di Madrid. Suatu hari, pada tahun 1925, dia bertemu dengan Romo Guillermo Zicke di sana. Religius ini adalah pendiri Orang-orang Reparatrix Hati Kristus di provinsi (Padres Reparatrix) di Spanyol. Mereka berteman. Romo Mariano menceritakan kepadanya tentang pencariannya, kekhawatiran hati yang tidak bisa beristirahat. Ia belum menemukan tempat yang Tuhan panggilkan. Romo Zicke berbicara kepadanya tentang
Kongregasinya, yaitu Kongregasi Pater Leo Dehon, tentang karya yang menginspirasinya, tentang cara hidupnya…
Kemudian romo Mariano bergabung dengan keluarga kecil di mana Romo Guillermo menjadi “ayah”.
Sebagai seorang Religius Reparatrix, dia mengambil nama baru religius yakni Juan Maria de la Cruz. Dengan demikian, dalam nama religius barunya, dia mengingatkan dua dari cinta besar dalam hidupnya: Santa Maria dan San Juan de la Cruz, dari Avila seperti dirinya. Romo Mariano kemudian menjadi romo Juan.
Pada tanggal 31 Oktober 1926, pada hari raya Kristus Raja yang sangat agung, Romo Juan mengucapkan profesinya sebagai religius dalam semangat cinta, persembahan, dan pemulihan. Pemberian diri Ini diilhami oleh sikap, kata-kata, dan tindakan Yesus, akan mendorong dan menerangi dirinya dalam sepuluh tahun terakhir keberadaannya, pekerjaan apostoliknya, dan pelayanannya.
Ketika mendirikan Kongregasi tersebut, pater Dehon pertama-tama memberinya nama “Oblat (Korban) Hati Kudus”. Romo Juan María de la Cruz merayakan panggilan ini sebagai Oblat-Korban, dalam pengorbanan tertinggi pada tanggal 10 Agustus 23, 1936, dan bahwa hidupnya, sebagai seorang religius reparator, akan menjadi jalan salib yang tersembunyi dan tenang.
Rm. Guillermo memberi kesaksian tentang romo Juan: “Saya dapat meyakinkan Anda bahwa saat saya menjadi Superior di Puente la Reina, saya menerima dia sebagai postulan dalam Kongregasi kami. Ketika sudah profes, dia menunjukkan keinginan untuk meningkatkan dirinya lebih lanjut dalam kehidupan kontemplatif, dan dia meminta masuk dalam Ordo Trappist dengan persetujuan dari atasannya. Sebagai uji coba, dia menghabiskan waktu di biara Cobreces, dari mana dia kembali ke Kongregasi tidak lama setelahnya karena masalah kesehatan.”
Dia menghabiskan setahun di Novelda (Alicante) setelah masa Novisiatnya di bawah bimbingan Romo Maestro dan komunitas yang mendampinginya. Di sana, di sekolah kami, satu-satunya sekolah yang masih ada dari yang didirikan pada zaman Pater Dehon, dia menjabat sebagai Guru Agama dan pada saat yang sama melayani kebutuhan gereja yang berdekatan dalam pelayanan imamnya.
Dia memiliki hidup rohani yang mendalam dan mencintai para orang kudus, terutama para martir. Pada tahun 1927, dia memiliki kesempatan untuk mengunjungi Roma. Selama kunjungan tersebut, dia sangat terkesan oleh katakombe S. Calixto dan tempat-tempat bersejarah lain yang melestarikan kenangan para martir. Sulit untuk mengajaknya pergi dari sana, seperti yang diingat dengan jelas oleh salah satu temannya yang kemudian bersaksi tentang sang ayah suci Spanyol tersebut. Saat kembali, dia juga memiliki kesempatan untuk singgah di London dan merasa sangat gembira dapat mendekati Gua Maria. Maria adalah daya tarik besar lainnya baginya. Demi Maria, dia bersedia menjelajahi banyak jalan dan melewati jalan-jalan yang tidak selalu mudah dalam pencarian tempattempat suci dan kapel yang didedikasikan untuk Santa Perawan yang begitu tersebar luas di seluruh geografi Spanyol. Ini adalah beberapa hal yang akan dia ceritakan kepada seminaris di Puente la Reina, ketika dia pulang setelah melakukan perjalanan dalam mencari bantuan dan panggilan Rohani.
Mencari Roti dengan cinta
“Jalanku bukanlah jalanku.” Inilah dilema romo Juan saat dia mulai menjalani laku kurban sejak profesinya sebagai religius setahun sebelumnya.
Di komunitas barunya di Puerto la Reina, menjadi persiapan bagi kematiannya. Seminari Puente memiliki banyak seminaris, tetapi juga menghadapi kemiskinan ekstrem karena kurangnya sumber daya. Romo Juan adalah orang yang tepat untuk mengurus seminari ini. Ia mencari nafkah dengan penuh cinta pastoral dan kepandaiannya, Romo Juan berangkat ke jalan-jalan di Navarra dan Negara Basque untuk mencari kerjasama dan bantuan ekonomi. Romo Guillermo juga memiliki tujuan untuk menciptakan jaringan teman-teman bagi Seminari agar dapat lebih baik melayani Gereja dan misimisi masa depan seperti yang pernah dilayani olehnya di Kamerun, tetapi harus meninggalkannya karena diusir karena kewarganegaraannya sebagai Jerman selama Perang Dunia I. Tugas barunya membuatnya banyak meninggalkan rumahnya, menghabiskan waktu yang lama di luar, dan menolak “keamanan” kehidupan teratur dan saudara dalam rumah religius.
Romo Guillermo, sang superior menceritakan:”Apa yang benar-benar tampak seperti pertentangan, di sini menjadi kenyataan karena Rm Juan adalah seorang pria yang taat kepada Allah, menjalankan kurban yang merupakan ciri khas dari Imam-Imam Hati Kudus Yesus, mengorbankan dirinya sendiri, hari demi hari, demi kasih murni kepada Tuhan kita dan jiwa-jiwa yang paling dia cintai.”
Dan untuk menunjukkan sifat “frailico” seperti yang dikatakan di Puente la Reina, dia bilang: “Agar kehidupan yang penuh kesibukan dan gangguan tidak mengganggu kehidupan religiusnya dan persatuan dengan Allah, dia berusaha di atas semua untuk menyusun rencana hidup, atau aturan khusus, dan agar segala sesuatu tunduk pada ketaatan yang kudus, dan dengan cara ini berhak mendapatkan surga, dia mempresentasikannya sebelum pergi kepada atasannya, agar bisa ditandatangani dan disetujui.”
Melalui lembah gelap Kau membimbingku
Republik Spanyol diumumkan Pada tanggal 14 April 1931. Lahir pula kota-kota besar dan pusatpusat industri. Perkembangan politik memberi suasana yang berbeda. Gereja Spanyol menjadi sasaran musuh utama yang harus dilawan. Kaum anarkis, sosialis, komunis, intelektual, dan pemimpin anti-agama menyalahkan gereja, bersama dengan pengusaha dan tentara, atas semua masalah yang terjadi dalam situasi sosial yang melibatkan pekerja dan petani, serta keterlambatan yang jelas dalam hal Eropa terbuka, pluralistik, dan maju.
Tidak mudah bergerak di tengah masyarakat yang mencoba mengasingkan imam dengan hukum dan propaganda. Sindiran terhadap gereja sangat kejam. Kesulitan dan situasi yang mereka hadapi sangat sulit, bahkan di daerah di mana Romo Juan bergerak, seperti Navarra dan Negara Basque, karena radikalisme, dan hukum yang harus diikuti oleh semua orang.
Tidaklah aneh bahwa dalam lingkungan Kristen dan kaum religius, muncul gagasan seperti “perang salib” atau “martir”. Sebenarnya, banyak orang religius dan imam hidup seperti itu, termasuk Rm. Juan yang mengungkapkan dirinya dalam cara ini saat berbicara kepada komunitas atau muridmuridnya tentang topik kemartiran, menjelaskan apa yang harus dia alami pada masa-masa itu.
Salah satu muridnya menceritakan tentang sebuah kasus yang menggambarkan keyakinan dan antusiasmenya terhadap martir.
“Terjadi bahwa seorang anak dari nenek saya, seorang biarawan Kapusin misionaris di China, ditahan oleh komunis. Mengetahui ketidakpuasan nenek saya, hamba Tuhan segera pergi ke rumahnya untuk memberikan dorongan dan penghiburan, dan saya ingat kata-katanya adalah ucapan selamat, kurang lebih seperti ini: ‘Anak perempuan Anda adalah seorang martir. Oh, betapa saya berharap bisa beruntung dianiaya dan mati demi Kristus.'”
Tahun-tahun sebelum 18 Juli 1936, tanggal dimulainya Perang Saudara Spanyol, menjadi “berat” bagi romo Juan yang dengan tegas mengikuti pelayanannya sebagai imam dan religius, serta pekerjaan pendidik di Seminari dan di antara teman-temannya.
Romo Zicke mengisahkan:
“Dengan karakter spekulatif dan karunia spiritualnya, dia telah memberikan bukti persiapan doktrinal yang luar biasa. Dalam pertemuan dengan orang tua untuk menyelesaikan masalah moral dan dogmatik, ‘dia akan membuat semua orang terkesan oleh kutipan lengkap dari Bapa Kudus yang dia hafal’. Memang benar, tambahnya, bahwa dia tidak memiliki banyak nalar praktis untuk menjadi profesor anak-anak, terutama untuk menjaga disiplin dan minat para siswa muda. Namun, mereka senang dengan dia karena saat istirahat dan perjalanan lapangan dia akan bercerita kepada mereka tentang kisah-kisah menarik, dengan cara yang sangat hidup dan akrab, dan dia mengajarkan lagulagu lucu kepada mereka.”
Waktunya di Seminari bersama siswa-siswa meninggalkan kenangan tentang seorang pria yang memiliki kesalehan dan kegairahan yang mengagumkan. Anda bisa menemukan romo Juan di kamarnya atau di kapel. Perayaan misa-misanya selalu membawa bahaya membosankan para pelayan altar muda dan gelisahnya, itulah mengapa, dalam banyak kesempatan, seperti Santo Filipus Neri, dia akan meminta dibiarkan sendirian dengan Tuhan, dalam dialog diam penghormatan dan kasih, yang merupakan ciri khas mereka yang hidup dalam misteri Cinta yang tersembunyi dalam Ekaristi.
Menuju Yerusalem
Pada tanggal 18 Juli 1936, terjadilah apa yang disebut sebagai Pemberontakan Nasional yang memicu Perang Saudara serta “penganiayaan agama.” Dalam situasi itu banyak saran agar para imam dan religius untuk pergi menjauhi situasi demi keselamatan nyawa mereka.
Dalam situasi itu Romo Juan pergi Valencia. Mengapa ke Valencia? Di sana ia tidak dikenal oleh siapa pun, sehingga mereka berpikir dia bisa tidak dikenali dalam “pengejaran imam-imam” yang mungkin terjadi. Ia tidak memakai jubahnya dan mengenakan jaket besar yang sudah lama dipakai. Karena jaket itulah ia dikenal oleh sesama narapidana dengan sebutan si“Jaket Besar.”
Pengejaran yang kejam dan tanpa belas kasihan di seluruh Spanyol menyebabkan ada sekitar 2.077 orang yang dibunuh, termasuk sepuluh uskup. Salah satu pemimpin barbarisme yang tidak dapat dibenarkan, Jose Diaz, pemimpin sektor Spanyol dari III Internasional, dengan jelas mengatakan di Valencia:
“Di provinsi-provinsi yang kami kuasai, tidak ada lagi Gereja. Spanyol telah jauh melampaui karya Soviet, karena saat ini Gereja di Spanyol telah dimusnahkan”.
Di Valencia, dari 1.200 imam diosesan, 327 dibunuh. Sepertinya romo Juan segaja menuju tempat yang paling berisiko.
Salah satu temannya berkata:
“Saya berkontak dengan dia pada tahun 1936 dan saya mengetahui perasaan Hamba Tuhan, yang siap menerima apa pun yang Allah kehendaki untuk keselamatan tanah air kita. Ia memiliki iman buta dalam kemenangan yang diberikan oleh Tuhan, meskipun ia harus mengalami hukuman besar atas dosa-dosa sosial. Ia akan mengkomunikasikan semangat dan imannya kepada semua yang mendekatinya, memberi semangat kepada mereka di tengah bahaya besar yang harus mereka hadapi”.

No Comments