Kamis, 15 Januari 2026 – Hari Biasa Pekan I

Br. Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia

 
 
 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Mazmur 44:24-25

Bangunlah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangkitlah! Jangan membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu? Mengapa tak Kauhiraukan penindasan yang menimpa kami?

PENGANTAR:

Semula Tabut Perjanjian menjadi tanda kehadiran Allah. Kedudukannya kemudian digantikan oleh kesetiaan pada hukum Taurat. Pada zaman Yesus banyak orang menganggap mukjizat-mukjizat yang dilakukan-Nya menandai kehadiran itu. Salah paham demikian mau dihindari-Nya. Yang menjadi persoalan ialah menerima pribadi dan perutusan-Nya atau tidak.

DOA KOLEKTA:

Marilah berdoa:  Allah Bapa maha pengasih, silakan datang berdiam dalam diri kami, berkat sabda pembebasan, berkat Roh yang menjiwai kami, berkat Yesus Kristus Putra-Mu, Tuhan dan pengantara kami, yang …..

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Pertama Samuel 4:1-11

“Orang-orang Israel terpukul kalah dan tabut Allah dirampas.”

Sekali peristiwa, orang Israel maju berperang melawan orang Filistin. Orang Israel berkemah dekat Eben Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel, “Mengapa Tuhan membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil tabut perjanjian Tuhan dari Silo, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo. Mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian Tuhan semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub. Kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera sesudah tabut perjanjian Tuhan sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Mendengar bunyi sorak itu orang Filistin berkata, “Apakah arti sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika mereka tahu bahwa tabut Tuhan telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin. Kata mereka, “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu. Celakalah kita, sebab hal seperti itu belum pernah terjadi. Celakalah kita! Siapakah yang akan menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Allah ini jugalah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai tulah di padang gurun. Akan tetapi, hai orang Filistin, kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti anak laki-laki, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!” Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri, masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan infantry. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas.
Demikianlah sabda Tuhan.
U. Syukur kepada Allah

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 44:10-11.14-15.24-25

Ref. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, demi kasih setia-Mu.

  1. 1. Ya Allah, Engkau kini membuang kami dan membiarkan kami kena umpat; Engkau tidak lagi maju bersama dengan bala tentara kami. Engkau membuat kami mundur dipukul lawan, dan dirampok oleh orang-orang yang membenci kami.

  2. Engkau membuat kami menjadi celaan tetangga, menjadi olok-olok dan cemoohan bagi orang-orang sekitar. Engkau membuat kami menjadi sindiran di antara bangsa-bangsa, suku-suku bangsa merasa geli melihat kami.

  3. Bangunlah! Mengapa Engkau tidur, ya Tuhan? Bangkitlah! Jangan membuang kami terus-menerus! Mengapa Engkau menyembunyikan wajah-Mu? Mengapa tak Kauhiraukan penindasan dan himpitan yang menimpa kami?

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya
S : (Mat 5:42) Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 1:40-45

“Orang kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir.”

Sekali peristiwa, seorang sakit kusta datang kepada Yesus. Sambil berlutut di hadapan Yesus, ia mohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras, katanya, “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam, dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memeberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Yesus tinggal di luar kota di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.
Demikianlah Sabda Tuhan!
U. Terpujilah Kristus!

RESI DIBAWAKAN OLEH Br. Andreas Gatot Yudoanggono SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Para Sahabatku, Saudari-saudara yang dicintai dan mencintai Hati Kudus Yesus.. Salam jumpa bersama Saya, Br. Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia.dalam Resi (Renungan singkat) Edisi Kamis, 15 Januari 2025. Hari biasa pekan pertama. Semoga Belas Kasih dan Kerahiman dari Hati Yesus yang Maha Kudus memberkati Anda semua. Amin. Tema Resi kita kali ini adalah “Belarasa yang Menyentuh dan Memulihkan” Namun sebelumnya, mari kita persiapakan hati dan kita awali permenunga kita dengan tanda kemenangan Kristus. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus..

Para sahabatku, Saudari-saudara yang dikasihi dan mengasihi Hati Yesus. Dalam bacaan Injil hari ini, Tuhan Yesus didatangi oleh seorang kusta, yaitu orang yang dianggap najis karena sakit itu, disingkirkan, dan hidup dalam kesepian. Dengan penuh kerendahan hati orang kusta itu memohon, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Dan Tuhan Yesus tidak menjauh justru Ia tergerak oleh belas kasih, mengulurkan tangan, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga orang tersebut sembuh! Namun Tuhan Yesus juga berpesan agar orang kusta itu tidak mewartakan peristiwa itu. Namun ternyata, orang kusta itu tidak mampu menahan sukacitanya. Akibatnya, Tuhan Yesus semakin dibatasi ruang geraknya, sementara orang yang dahulu tersingkir kini kembali ke tengah masyarakat. Lalu apa yang bisa kita pelajari dan refleksikan dari perikopa yang kita dengar hari ini? Saya menawarkan 3 hal saja.

  1. Belarasa yang berani mengambil resiko: Tuhan Yesus tidak hanya merasa kasihan dari kejauhan. Ia menyentuh orang kusta itu. Dalam budaya saat itu, sentuhan ini melanggar batas sosial dan religius. Namun belarasa sejati memang selalu berani mengambil resiko, Tuhan Yesus tetap mendekat dan mengambil berisiko. Sahabatku, cinta yang sejati bukan cinta yang aman dan steril, tetapi cinta yang mau “turun tangan” meski ada resiko yang harus ditanggung. Yang menjadi pertanyaan bagi kita: “Siapakah “orang kusta” dalam hidup kita hari ini, yaitu mereka yang dijauhi, dilabeli, atau tidak dianggap? Apakah kita berani mendekat dengan hati yang penuh kasih?”

  2. “Aku Mau”: Kehendak Allah yang Memulihkan: Jawaban Tuhan Yesus sangat sederhana namun penuh kuasa: “Aku mau.” Ini menegaskan bahwa kehendak Allah selalu berpihak pada pemulihan martabat manusia. Allah tidak berkenan melihat manusia terkurung dalam luka, rasa malu, dan keterasingan. Terkadang kita ragu apakah Tuhan sungguh peduli pada luka kita penderitaan kita. Injil ini menegaskan: Tuhan mau menyembuhkan, memulihkan, dan mengangkat kita kembali. Yang menjadi pertanyaannya: “Apakah kita berani datang kepada-Nya dengan jujur seperti orang kusta itu?”

  3. Kasih yang Membebaskan, Sekaligus Mengurbankan: Setelah menyembuhkan, Tuhan Yesus justru semakin terpinggirkan, Ia tidak dapat masuk ke kota-kota secara terbuka. Di sinilah tampak wajah kasih yang berkurban: orang yang disembuhkan kembali ke masyarakat, sementara Tuhan Yesus menanggung konsekuensinya. Inilah spiritualitas Hati Yesus yang rela berkurban dan berani menanggung resiko demi kehidupan orang lain. Apakah kita bersedia berkurang supaya orang lain bertumbuh? Apakah pelayanan dan kebaikan kita sungguh lahir dari cinta, bukan dari pencarian pengakuan?

Nah para sahabatku, saudari-saudara yang dikasihi dan mengasihi Hati Yesus. Injil hari ini mengajak kita menimba semangat belarasa kepada orang yang menderita yang menyentuh dengan segala konsekuensinya dan memulihkan. Dalam Tuhan Yesus, kita melihat Allah yang mau mendekat, menyembuhkan, dan berkurban demi manusia. Sebagai murid-murid-Nya, kita dipanggil untuk menghadirkan kasih yang nyata: kasih yang berani menyentuh luka, memulihkan martabat, dan rela berkurban. Semoga Hati Kudus Yesus semakin merajai hati kita  sehingga hati kita dipenuhi cinta, semangat berbelarasa, dan berkurban terhadap sesama.

Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu. Amin. Dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin. Tuhan memberkati. Berkah Dalem.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:

Allah Bapa sumber kehidupan, berilah kami janji akan bebas dan sehat berkat Yesus Mesias, yang menjadi rezeki kehidupan di dunia. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.

ANTIFON KOMUNI – Markus 1:42

Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia menjadi tahir.

DOA SESUDAH KOMUNI

Marilah berdoa: Allah Bapa mahasetia, kami bersyukur atas Putra-Mu yang merupakan pelaksanaan kesanggupan-Mu. Semoga sabda-Nya tertulis di dalam hati kami dan menyelamatkan umat manusia. Demi Kristus, ….

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

1 Comment

Leave a Comment