
Br Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia
AUDIO RESI:
ANTIFON PEMBUKA — Mazmur 90:1-2
Tuhan, Engkaulah pelindung kami turun-temurun. Dari awal mula sampai akhirat, Engkau mendampingi kami.
PENGANTAR:
Belajar berdoa itu sederhana, namun amat sulit juga. Kita cenderung menilai doa kita menurut kata-kata yang indah dan berisi. Padahal, berdoa itu terutama mendengarkan. “Sabda Tuhan tak pernah kembali sia-sia,” kata Nabi Yesaya. Yesus mengajarkan doa “Bapa Kami” kepada para murid
DOA KOLEKTA:
Marilah berdoa: Allah Bapa, kerinduan kami, pandanglah umat-Mu ini. Semoga dalam menjalani masa tobat, hati kami selalu bergembira karena rindu akan Dikau.vDemi Yesus Kristus Putra-Mu, ….
ATAU:
Marilah berdoa: Allah Bapa mahamulia, sabda yang keluar daripada-Mu akan menghasilkan buah di tengah-tengah kami. Perkenankanlah hati kami terbuka untuk menerima segala yang telah tertulis dalam Kitab Suci. Maka dengan demikian, kerajaan-Mu benar-benar tampak dalam diri kami Demi Yesus Kristus Putra-Mu,….
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yesaya 55:10-11
“Firman-Ku akan melaksanakan apa yang Kukehendaki.”
Beginilah firman Tuhan, “Seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke sana, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih pada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, demikianlah firman yang keluar dari mulut-Ku: Ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 34:4-5.6-7.16-17.18-19
Ref. Tuhan melepaskan orang benar dari segala kesesakannya.
-
Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya! Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.
-
Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu. Orang yang tertindas ini berseru-seru, dan Tuhan mendengarkan: Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.
-
Mata Tuhan tertuju pada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong: wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi.
-
Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan: dari segala kesesakannya mereka ia lepaskan. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.
BAIT PENGANTAR INJIL
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
S : (Mat 4:4b) Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.
BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 6:7-15
“Yesus mengajar murid-murid-Nya berdoa.”
Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dalam doamu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doa mereka dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu berdoalah begini, “Bapa kami yang di surga, dikuduskanlah nama-Mu. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya, dan ampunilah kami atas kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Amin.” Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
RESI DIBAWAKAN OLEH Br Andreas Gatot Yudoanggono SCJ
Vivat Cor Jesu, Per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus, melalui hati Bunda Maria.
Para Sahabatku, Saudari-saudara yang dicintai dan mencintai Hati Kudus Yesus.. Salam jumpa bersama Saya, Br. Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia.dalam Resi (Renungan singkat) Edisi Selasa, 24 Februari 2026. Hari Selasa biasa Pekan Prapaskah I. Semoga Belas Kasih dan Kerahiman dari Hati Yesus yang Maha Kudus memberkati Anda semua. Amin.
Tema Resi kita kali ini adalah “Berdoa dari Hati yang Mengandalkan Bapa” Namun sebelumnya, mari kita persiapakan hati dan kita awali permenunga kita dengan tanda kemenangan Kristus. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus..
Para sahabatku, Saudari-saudara yang dikasihi dan mengasihi Hati Yesus. Dalam Bacaan Injil hari ini Tuhan Yesus mengajarkan bagaimana seharusnya kita berdoa. Tuhan menegur cara berdoa yang bertele-tele, penuh kata-kata kosong seperti orang-orang yang mengira Tuhan Allah akan mendengar karena banyaknya kata dalam berdoa. Kemudian Tuhan Yesus memberikan kepada para murid doa yang begitu sederhana namun mendalam yaitu Doa Bapa Kami. Sebuah doa yang bukan sekadar rumusan, tetapi cara hidup; bukan hanya kata-kata, tetapi sikap hati seorang anak yang percaya penuh kepada Bapanya. Kita sudah sangat akrab dengan doa ini, namun sudahkah kita sungguh berdoa dari kedalam hati kita, atau karena sudah begitu hafalnya sehingga hanya berupa kata-kata rumusan belaka? Nah apa yang bisa kita refleksikan lebih dalam lagi melalui perokopa injil hari ini? Saya menawarkan 4 hal saja.
-
Berdoa bukan soal banyak kata, tetapi relasi: Tuhan Yesus mengingatkan kepada kita: “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan sebelum kamu minta kepada-Nya.” Jadi doa bukan ajang menjelaskan panjang lebar kepada Tuhan, seolah Ia tidak tahu. Doa adalah relasi. Sebagai orang kristiani, kita dipanggil untuk memiliki hati yang tinggal dalam Hati-Nya. Kadang kita terlalu sibuk “berkata-kata” dalam doa, tetapi kurang diam untuk hadir. Yang menjadi pertanyaannya adalah; “Apakah doaku lahir dari relasi cinta, atau sekadar kewajiban rohani?”
-
Menyebut Allah sebagai Bapa berarti percaya dan berserah: Kata pertama dalam doa itu adalah “Bapa.” Sebuah kata yang intim, penuh kepercayaan. Menyebut Allah sebagai Bapa berarti kita mengakui diri sebagai anak. Anak tidak hidup dalam ketakutan, tetapi dalam kepercayaan. Dalam spiritualitas Hati Kudus, kita diajak untuk masuk dalam pengalaman Hati Yesus sendiri yang sepenuhnya berserah kepada Bapa. Yang menjadi refleksi bagi kita: “Apakah aku sungguh percaya bahwa hidupku ada dalam tangan Bapa yang penuh kasih?”
-
Doa Bapa Kami membentuk orientasi hidup kita: Perhatikan urutannya:
-
Dimuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu.
-
Baru kemudian: berilah kami rezeki, ampunilah kami, bebaskanlah kami.
Doa ini menggeser pusat hidup dari “aku” ke “Engkau”. Ini sangat dehonian: Adveniat Regnum Tuum (datanglah Kerajaan-Mu). Kerajaan-Mu-lah yang terutama. Apakah dalam hidup dan karya kita, sebagai umat kritiani, religius, atau pelayan, kita lebih mengejar kehendak-Nya atau kenyamanan kita sendiri?
-
Mengampuni adalah syarat doa yang sejati: Tuhan Yesus menutup pengajaran-Nya dengan penekanan kuat: jika kita tidak mengampuni, Bapa pun tidak akan mengampuni. Ini keras, tetapi jujur. Doa tidak bisa dipisahkan dari relasi dengan sesama. Kita tidak bisa berdamai dengan Tuhan sambil menyimpan luka, dendam, atau kepahitan. Dalam masa prapaskah ini, mungkin inilah ajakan yang paling konkret: siapa yang masih perlu aku ampuni? Siapa yang perlu aku lepaskan dari penghakiman batinku?
Makasih Br
Amin
Terimakasih Bruder Andreas 😊
Berkah Dalem🙏🩷
Terimakasih Br Gatot SCJ untuk renungannya