
Rm Rafael Sudibyo SCJ dari Komunitas SCJ Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari Belitang Sumatera Selatang – Indonesia
AUDIO RESI:
ANTIFON PEMBUKA – Mazmur 145:8-9
Tuhan pengasih dan penyayang, sabar dan lembut hati. Tuhan pemurah bagi semua orang, penuh kasih sayang akan ciptaan-Nya.
PENGANTAR:
Memperoleh pengampunan itu menerima anugerah. Kepastian yang menggembirakan itu diwartakan oleh Nabi Mikha. “AIlah akan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.” Tiada yang lebih jelas dari perumpamaan yang diberikan Yesus sejauh mana Tuhan bermurah hati. Kisah seorang bapak dengan kedua anaknya mengajak kita semakin menyadari pen tingnya pertobatan.
DOA KOLEKTA:
Marilah berdoa: Allah Bapa kami sumber cahaya mulia, di dunia ini kami sudah Kauperkenankan mencicipi hidup surgawi. Semoga terang-Mu membimbing kami seumur hidup hingga akhirnya kami memasuki cahya-Mu yang abadi. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, ….
ATAU:
Marilah berdoa: Allah Bapa kami, sudilah menjadi gembala semua orang, yang mencari kedamaian abadi. Semoga Putra-Mu menggembalakan kami, domba-domba kawanan-Mu dan umat-Mu atas nama-Mu. Sebab Dialah…
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Nubuat Mikha 7:14-15.18-20
“Semoga Tuhan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut.”
Nabi berkata, “Ya Tuhan, dengan tongkat-Mu gembalakanlah umat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri. Mereka terpencil, mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka merumput di Basyan dan Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Perlihatkanlah kepada kami tindakan-tindakan ajaib seperti pada waktu Engkau keluar dari Mesir. Adakah Allah lain seperti Engkau, yang mengampuni dosa-dosa dan memaafkan pelanggaran yang dilakukan oleh sisa-sisa milik-Nya sendiri, yang tidak murka untuk selama-lamanya, melainkan berkenan pada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub dan kasih-Mu kepada Abraham sebagaimana telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 103:1-2.3-4.9-10.11-12
Ref. Pujilah, puji Allah, Tuhan yang maharahim.
Atau Tuhan adalah penyayang dan pengasih.
-
Pujilah Tuhan, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! Pujilah Tuhan, hai jiwaku, janganlah lupa akan segala kebaikan-Nya!
-
Dialah yang mengampuni segala kesalahanmu, dan menyembuhkan segala penyakitmu! Dialah yang menebus hidupmu dari liang kubur, dan memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat!
-
Tidak terus-menerus Ia murka, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. Tidak pernah Ia memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita, atau membalas kita setimpal dengan kesalahan kita.
-
Setinggi langit dari bumi, demikianlah besarnya kasih setia Tuhan atas orang-orang yang takwa kepada-Nya! Sejauh timur dari barat, demikianlah pelanggaran-pelanggaran kita dibuang-Nya.
BAIT PENGANTAR INJIL:
U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
S : (Luk 15:18) Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya, “Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa”.
BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 15:1-3.11-32
“Saudaramu telah mati dan kini hidup kembali.”
Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasa datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” Maka Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka. “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya, ‘Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku.’ Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu, lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskan harta miliknya, timbullah bencana kelaparan di negeri itu, dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babi. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikannya kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: ‘Betapa banyak orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa; aku tidak layak lagi disebut anak Bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan Bapa.’ Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayah itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap Bapa, aku tidak layak lagi disebut anak Bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya, “Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, dan pakaikanlah kepadanya; kenakanlah cincin pada jarinya, dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.’ Maka mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung sedang berada di ladang. Ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar bunyi seruing dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semua itu. Jawab hamba itu, ‘Adikmu telah kembali, dan ayahmu telah menyembelih anak lembu tambun, karena ia mendapatkan kembali anak itu dengan selamat’. Maka marahlah anak sulung itu dan ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan berbicara dengan dia. Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya, ‘Telah bertahun-tahun aku melayani Bapa, dan belum pernah aku melanggar perintah Bapa, tetapi kepadaku belum pernah Bapa memberikan seekor anak kambing pun untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak Bapa yang telah memboroskan harta kekayaan Bapa bersama dengan pelacur-pelacur, maka Bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia.’ Kata ayahnya kepadanya, ‘Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali’.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Rafael Sudibyo SCJ
Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.
Para pendengar Resi Dehonian yang terkasih, selamat berjumpa kembali dengan saya, Rm. Rafael Sudibyo, SCJ, dari komunitas Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari Belitang, dalam resi – renungan singkat dehonian, edisi hari sabtu, Pekan Prapaskah II, 7 Maret 2026.
Para Pendengar RESI Dehonian yang terkasih, seringkali kita merasa hidup kita adalah sebuah perjalanan satu arah menuju kedewasaan, di mana kita menuntut hak kita, menuntut kebebasan, dan ingin segera memegang kendali atas “harta warisan” masa depan kita. Kisah anak bungsu dalam Injil hari ini mungkin terasa sangat akrab karena ia mencerminkan bagian dari diri kita yang sering kali merasa cukup kuat untuk melangkah sendiri, tanpa bimbingan, tanpa akar, dan terkadang, tanpa Tuhan. Ia pergi dengan percaya diri, membawa semua miliknya, hanya untuk menemukan bahwa dunia yang ia bayangkan sebagai kebebasan ternyata adalah penjara kelaparan yang sunyi.
Namun, keindahan sesungguhnya dari perikop ini bukan terletak pada dosa sang anak atau kepahitan hatinya, melainkan pada ketabahan sang Bapa. Bayangkan sosok Bapa yang setiap hari berdiri di ambang pintu, menatap cakrawala, bukan dengan kemarahan yang membara, melainkan dengan kerinduan yang tak kunjung padam. Sang Bapa tidak mengunci pintu atau mengubah kunci rumahnya; ia membiarkan pintu itu tetap terbuka, menanti langkah kaki yang mungkin sudah lelah dan penuh luka. Ketika si anak akhirnya “sadar diri”—bukan karena ia tiba-tiba menjadi suci, melainkan karena ia menyadari betapa ia membutuhkan kasih yang tak bersyarat—Bapa tidak menunggu dia sampai di pintu. Bapa berlari. Dalam budaya masa itu, seorang pria terhormat berlari adalah hal yang tidak lazim, tetapi cinta mengalahkan harga diri. Bapa berlari menyongsong anak yang bau lumpur, yang bajunya compang-camping, dan yang membawa rasa malu yang mendalam.
Sering kali, hambatan terbesar kita untuk kembali kepada Tuhan bukanlah karena Dia tidak mau menerima kita, melainkan karena kita terperangkap dalam mentalitas “si sulung” atau rasa rendah diri “si bungsu.” Kita mungkin merasa bahwa kita harus menjadi “cukup baik” terlebih dahulu sebelum berani melangkah pulang. Kita merasa bahwa kesalahan kita terlalu besar, atau mungkin kita merasa bahwa karena kita sudah terlalu lama setia (seperti si sulung), kita berhak menghakimi mereka yang baru kembali. Padahal, baik si sulung yang penuh kepahitan di dalam rumah, maupun si bungsu yang kelaparan di negeri asing, keduanya sama-sama kehilangan sukacita karena mereka belum sepenuhnya memahami hati sang Bapa. Mereka berdua memandang relasi dengan Bapa sebagai hubungan transaksional—berdasarkan prestasi atau kesalahan—bukan berdasarkan kasih karunia.
Para RESI Dehonian yang terkasih, mari kita merenung sejenak: di manakah posisi kita hari ini? Apakah kita sedang merasa jauh, merasa tidak pantas, atau justru sedang merasa paling benar dan enggan merayakan kepulangan sesama? Tuhan tidak menginginkan kesempurnaan performa kita; Dia menginginkan hati kita yang jujur. Dia menanti kita bukan untuk menghukum, tetapi untuk merayakan. Pulanglah, dalam doa, dalam pengakuan, atau dalam kerendahan hati untuk saling mengampuni. Karena pada akhirnya, rumah Bapa selalu memiliki ruang yang cukup bagi siapa saja yang berani mengakui bahwa tanpa kasih-Nya, kita hanyalah pengembara yang kesepian. Biarkanlah kasih Tuhan menjadi pelukan yang menghapus semua rasa malu kita hari ini.
Semoga Hati Kudus Yesus merajai hati kita. Amin. Para Pendengar Resi Dehonian dimanapun anda berada, semoga Tuhan selalu memberkati Langkah laku, aktivitas, dan persaudaraan diantara kita, + Dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.
DOA PENGANTAR PERSEMBAHAN
Allah Bapa Yang Maharahim, semoga sakramen ini menghasilkan penebusan bagi kami, menegakkan kami dalam kelemahan, dan mengantar kami menuju keselamatan. Demi Kristus, ….
ATAU:
Allah Bapa sumber kegembiraan, kami bersyukur atas anugerah yang disiapkan dalam roti anggur, atas keprihatinan dan kasih-sayang-Mu kepada kami, dan atas Putra-Mu, Anak Domba yang menghapus dosa dunia, kini dan sepanjang masa.
ANTIFON KOMUNI — Lukas 15:12
Anakku, seharusnya engkau bergirang hati, sebab saudaramu tadinya mati, kini hidup kembali; tadinya hilang, kini ditemukan kembali.
DOA SESUDAH KOMUNI:
Marilah berdoa: Allah Bapa mahakudus, semoga kekuatan sakramen-Mu meresapi lubuk hati kami, sehingga kami sanggup menjalankan kehidupan kristiani yang mantap. Demi Kristus, …
ATAU:
Marilah berdoa: Allah Bapa sumber belas kasih, kami bersyukur atas besarnya kerahiman yang Kautunjukkan kepada kami dalam diri Yesus Putra-Mu terkasih. Kami mohon, semoga kami pun berbelas kasih terhadap sesama. Demi Kristus, ….
DOWNLOAD AUDIO RESI:
Makasih Romo
Terimakasih Romo renungannya semoga menjadi berkat bagi saya
Terima kasih Romo Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin
Tks Romo, saya gunakan membuat materi renungan bagi karyawan RSUD, giliran saya kembali membawakan renungan pagi untuik masa prapaskah ini,m set5iap pagi kami kerayawan Kristen Katolik berdoa bersama,
Tks Romo, saya gunakan membuat materi renungan bagi karyawan RSUD, giliran saya kembali membawakan renungan pagi untuik masa prapaskah ini,m setiap pagi kami karyawan Kristen Katolik berdoa bersama,
tks Romo,. kami gunakan untuk renungan karyawan kristen katolik RSUD pagi