Sabtu, 04 Juli 2020 – Hari Biasa Pekan XIII

Rm. Aloisius Yudistira SCJ dari Komunitas SCJ Brussel – Belgia

 

ANTIFON PEMBUKAAN: Mzm 84:11-12

Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan keselamatan akan berpelukan. Kesetiaan akan bertumbuh dari bumi, dan keadilan akan turun dari langit.

 

DOA PEMBUKAAN:

Allah Bapa kami di surga, kami mohon semoga kami Kauberkati dan Kausinari dengan sabda-Mu. Semoga kami melalui Roh Kudus Kauciptakan baru menjadi orang yang suka membangun kedamaian. Demi Yesus Kristus…..

 

BACAAN PERTAMA: Amos 9:11-15

Tuhan bersabda, “Pada hari itu Aku akan mendirikan kembali pondok Daud yang telah roboh. Aku akan menutup pecahan dindingnya, dan akan mendirikan kembali reruntuhannya. Aku akan membangunnya kembali seperti pada zaman dahulu kala, supaya mereka menguasai sisa-sisa bangsa Edom dan segala bangsa yang Kusebut milik-Ku,” demikianlah sabda Tuhan yang melakukan hal ini. “Sungguh, waktunya akan datang.” Demikianlah sabda Tuhan, “bahwa pembajak dan penuai akan susul menyusul, demikian juga pengirik buah anggur dan penabur benih. Gunung-gunung akan mengalirkan anggur baru, dan segala bukit akan kebanjiran. Aku akan memulihkan kembali umat-Ku Israel; mereka akan membangun kota-kota yang lengang dan mendiaminya. Mereka akan menanami kebun-kebun anggur dan minum anggurnya. Mereka akan membuat kebun buah-buahan dan makan buahnya. Maka Aku akan menanam mereka di tanah mereka, dan mereka tidak akan dicabut lagi dari tanah yang telah Kuberikan kepada mereka,” sabda Tuhan Allahmu.

 

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 85:9.11-14

Ref. Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan
atau
Tuhan berbicara tentang damai kepada umat-Nya.

  1. Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Allah! Bukankah Ia hendak berbicara tentang damai kepada umat-Nya dan kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, supaya mereka jangan kembali kepada kebodohan?

  2. Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.

  3. Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

 

BAIT PENGANTAR INJIL:

U: Alleluya
S: Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.

 

BACAAN INJIL: Matius 9:14-17

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan bertanya, “Kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi mengapa murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi akan tiba waktunya mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian, kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru, dan dengan demikian, terpeliharalah kedua-duanya.”

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Aloisius Yudistira SCJ. 

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Kudus Yesus melalui Hati Maria.

Tidak jarang saya mendengar pertanyaan atau keresahan seputar ketepatan ritual, misalnya haruskah berdoa novena di jam yang sama? Atau tentang ketepatan melakukan tradisi rohani, ketepatan gerak tubuh dalam doa, membuat atau memaknai simbol agama, juga tentang perintilan seperti warna maupun bentuk, dan sebagainya. 

Sabda Yesus pada hari ini mengajak kita untuk merenung lebih dalam tentang pertanyaan dan keresahan seputar ketepatan ritual. Bertolak dari persoalan ketidakdisiplinan para murid melakukan tradisi puasa, Yesus menegaskan hal paling utama dalam hidup beragama: berpusat pada Tuhan. Semua ritus atau tradisi agama adalah ungkapan dan cara untuk berelasi dengan Tuhan. Tetapi Tuhan jauh lebih besar dari semua ungkapan dan cara itu. Maka, mari kita merenungkan dua hal: Pertama, mari tidak memenjarakan Tuhan dalam ritus atau tradisi agama. Kita tentu harus menjalankan tradisi keagamaan kita. Namun, kita perlu waspada untuk tidak memutlakkan tradisi itu untuk segala situasi, segala jaman, dan segala kebutuhan. Yang kekal adalah Tuhan, bukan cara menyembah atau cara berelasinya. Maka, bukan ketepatan jam doanya atau gerak tubuhnya yang utama, melainkan sikap hatinya dan keterpusatan hati yang seutuhnya di hadapan Tuhan. 

Kedua, Tuhan itu maha dinamis. Roh bergerak kemana Dia mau. Maka, berpusat pada Tuhan berarti juga selalu dinamis mendengarkan suara-Nya dan mengikuti gerakan-Nya. Maka, perlu hati dan pikiran yang terbuka (open heart and mind) dalam menghidupi iman dan relasi kita dengan Tuhan. Mari kita mohon supaya Tuhan selalu membuka hati dan pikiran kita supaya hidup kita selalu berpusat dan bertumpu pada-Nya. Tuhan memberkati. 

 

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:

Allah Bapa kami di surga, semoga karena roti dan anggur ini kami Kauperkenankan mengikuti Roh PuteraMu, yang telah hadir ditengah-tengah kami melalui lambang-lambang ini. Sebab Dialah…..

 

ANTIFON KOMUNI: Mt. 9:17

Anggur yang baru disimpan dalam kantong yang baru dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.

 

DOA PENUTUP

Allah Bapa kami di surga, kami telah menerima sabda penuh kesanggupan melalui Yesus, saudara kami se-Bapa. Kami mohon kepadaMu, semoga semuanya itu segera terlaksana, karena Engkau sendirilah yang memulai dalam diri Yesus, PuteraMu itu. Dan semoga karenaNya dunia menjadi subur dan umatMu semakin patuh setia. Demi Kristus, …….

No Comments

Leave a Comment