Rabu, 30 Desember 2020 – Hari Keenam dalam Oktaf Natal

Rm. Stefanus Sigit Pranoto SCJ dari Komunitas Skolastikat SCJ Yogyakarta Indonesia

 
 
 
 

AUDIO RESI

 

ANTIFON PEMBUKA – Kebijaksanaan 18:14-15⁣

Ketika segalanya diliputi kesunyian, dan malam mencapai puncak peredarannya, turunlah Sabda-Mu yang mahakuasa, ya Tuhan, dari surga, dari singgasana kerajaan. ⁣

 

PENGANTAR⁣

Betapa sering kita mohon suatu mukjizat, tetapi tidak melihat mukjizat Allah dalam begitu banyak kesempatan. Kesibukan sering membutakan mata hati kita dan membungkam damba an kita akan Tuhan. Bila kita mau mendalami segala sesuatu dan terbuka terhadap misteri, kiranya kita mendapat kesempatan sebagaimana Hana bertemu dengan cahaya dunia dalam sabda Allah.⁣

 

DOA PEMBUKA⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa mahakuasa kami mohon, semoga kelahiran Putra Mu sebagai manusia baru membebaskan kami dari perbudakan manusia lama. Demi Yesus Kristus Putra-Mu,⁣

 

ATAU⁣

 

Marilah berdoa: Allah Bapa mahakuasa, Engkau menghendaki Sabda-Mu mengendap dan meresap di dalam hati kami. Kami mohon, agar kami dapat mendengarkan Sabda-Mu yang tinggal di dalam hati sesama kami pula, agar dengan demikian kami dapat hidup saling mengasihi. Demi Yesus Kristus Putra Mu…..⁣

 

BACAAN PERTAMA: I Yohanes 2:12-17

“Orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”

Aku menulis kepadamu, hai anak-anak, sebab dosamu telah diampuni karena nama Yesus. Aku menulis kepadamu, hai para bapak, sebab bapak-bapak telah mengenal Dia yang ada dari mulanya. Aku menulis kepadamu, hai orang-orang muda, sebab kamu telah mengalahkan yang jahat. Aku menulis kepadamu, hai anak-anak, sebab kamu mengenal Bapa. Aku menulis kepadamu, hai para bapak, sebab bapak-bapak telah mengenal Dia yang ada dari mulanya. Aku menulis kepadamu, hai orang-orang muda, sebab kamu kuat dan firman Allah diam di dalam kamu, dan kamu telah mengalahkan yang jahat. Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang melenyap bersama keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.

 

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 96:7-8a.8b-9.10

Ref. Hendaklah langit bersuka cita, dan bumi bersorak-sorai dihadapan wajah Tuhan, kar’na Ia sudah datang.

  1. Kepada Tuhan, hai suku-suku bangsa, kepada Tuhan sajalah kemuliaan dan kekuatan! Berikanlah kepada Tuhan kemuliaan nama-Nya.

  2. Bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya, sujudlah menyembah kepada Tuhan dengan berhiaskan kekudusan, gemetarlah di hadapan-Nya, hai seluruh bumi!

  3. Katakanlah di antara bangsa-bangsa, “Tuhan itu raja! Dunia ditegakkan-Nya, tidak akan goyah. Ia akan mengadili bangsa-bangsa dalam kebenaran.”

 

BAIT PENGANAR INJIL:

U :  Alleluya, alleluya
S :  Inilah hari yang suci! Marilah, hai para bangsa, sujudlah di hadapan Tuhan, sebab cahaya gemilang menyinari seluruh muka bumi.

 

BACAAN INJIL: Lukas 2:36-40

“Hana berbicara tentang Kanak-Kanak Yesus.”

Ketika kanak-kanak Yesus dipersembahkan di Bait Allah, ada di Yerusalem seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer, namanya Hana. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah menikah, ia hidup tujuh tahun bersama suaminya, dan sekarang ia sudah janda, berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah, dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa. Pada hari kanak-kanak Yesus dipersembahkan di Bait Allah, Hana pun datang ke Bait Allah dan mengucap syukur kepada Allah, serta berbicara tentang kanak Yesus kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem. Setelah menyelesaikan semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah Maria dan Yusuf beserta Kanak Yesus ke kota kediaman mereka, yaitu Kota Nazaret di Galilea. Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.

 

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Stefanus Sigit Pranoto SCJ

Setia menanti, berbuah sukacita

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Kudus Yesus melelui Hati Maria.

Banyak orang berkata bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, apalagi tanpa kepastian. Ketika menunggu seseorang yang tak kunjung datang, padahal sudah membuat janji sebelumnya, biasanya kita akan gelisah. Atau mungkin juga mulai berpikiran yang tidak-tidak terhadap orang yang dinanti. Atau bahkan merasa jengkel terhadapnya. Contoh lain, ketika menunggu jawaban atas lamaran pekerjaan, mungkin pula ada kepanikan dan kekuatiran kalau-kalau tidak diterima. Inilah yang sering terjadi. Dan saya yakin kita semua pernah mengalaminya. Kita semua mempunyai pengalaman menunggu atau menanti.

Banyak orang mudah putus asa ketika menanti sesuatu yang belum pasti. Bahkan dalam kehidupan doa pun seringkali kita mudah putus asa ketika menunggu jawaban atas doa-doa kita. Padahal dengan menunggu itulah kita diajak untuk belajar setia dan tekun, apalagi apabila penantian itu disertai dengan pengharapan.

Dua hari ini kita diajak untuk meneladan sikap yang tepat dari dua sosok: Simeon dan Hana. Kisah tentang Simeon telah kita dengarkan kemarin. Sementara kisah tentang Hana kita dengarkan hari ini. Kedua sosok ini adalah sosok yang terus setia menantikan kedatangan Sang Juruselamat. Mereka menanti hingga hari tua mereka.

Secara khusus perikopa Injil hari ini menampilkan sosok Hana yang sudah sangat lanjut umurnya, seorang janda berumur 84 tahun. Ia hidup bersama suaminya selama 7 tahun. Dikatakan bahwa ia tak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam berpuasa dan berdoa. Apa yang mendasarinya melakukan itu? Yakni menantikan kedatangan Sang Juruselamat.

Maka ketika ia sudah melihat dengan mata kepalanya kanak-kanak Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah, ia mengucap syukur kepada Allah. Penantiannya yang panjang tidak sia-sia. Dan sebagai buah dari kesetiaannya untuk menanti, ia mendapatkan sukacita.

Buah kesetiaan dan pengharapan adalah sukacita. Dalam hal apapun kita diharapkan untuk memiliki kesetiaan dan pengharapan. Demikian juga ketika kita mengalami situasi yang sulit dan penuh tantangan, seperti saat ini, dalam ketidakpastian karena pandemi, apabila kita menjalaninya dengan penuh kesetiaan dan berpengharapan, kita akan mampu menjalaninya dengan sukacita. Sebagai buahnya, kita akan mengalami kebahagiaan dan sukacita yang lebih besar.

 

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN⁣

Allah Bapa kami, terimalah kiranya persembahan umat-Mu sebagai pernyataan iman kami akan Kristus, yang akan kami terima dalam sakramen ini. Sebab Dialah ….⁣

 

ATAU⁣

 

Allah Bapa kami, semoga berkat roti anggur ini Engkau sudi memperlihatkan kepada kami Roh kebijaksanaan dan kebenaran. Dan semoga dengan berkat Yesus Kristus juru damai kami yang menghimpun kami di sini, kami dapat mengucapkan syukur kepada-Mu. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami.⁣

 

ANTIFON KOMUNI – Yohanes 1:16⁣

Dari kelimpahannya, kita semua telah menerima rahmat demi rahmat.⁣

 

DOA PENUTUP⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa kami, dalam sakramen-Mu kami dipersatukan dengan Dikau. Semoga daya sakramen ini menguatkan kami. agar kurnia-Mu sendiri membuat kami sanggup menerima anugerah-Mu. Demi Kristus,…⁣

 

ATAU: ⁣

 

Marilah berdoa: Allah Bapa maha penyayang, kami mohon, curahkanlah Roh Putra , yang telah datang melaksanakan kehendak-Mu dan membuat kami murid-murid-Nya. Sebab Dialah .

No Comments

Leave a Comment