Senin, 20 November 2023 – Hari Biasa Pekan XXXIII

Rm. Yohanes Dwi Wicaksono SCJ dari komunitas SCJ Dehon House Manila – Philipina

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Yohanes 8:12

Akulah cahaya dunia. Barang siapa mengikuti Aku, hidup dalam cahaya abadi.

PENGANTAR

Selalu siap sedia membantu sering berat juga. Ketika dalam perja lanan Yesus diganggu seorang pengemis buta, para murid kehabisan kesabaran. Namun, Yesus tidak. Si buta pun diberi kesempatan. Berapa banyak orang-orang buta hati kita jumpai di jalan? Mungkin mereka mengganggu kita mengenai perkara kecil-kecil, tanpa kita ketahui isi hati mereka.

DOA PEMBUKA:

Marilah berdoa: Allah Bapa kami yang maharahim, ampunilah kami dan perkenankanlah kami memandang Engkau dalam diri Yesus, Putra Daud. Semoga kami dapat mengimani sabda-Nya. Sebab Dialah Putra-Mu, ….

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Pertama Makabe 1:10-15.41-43.54-57.62-64

“Kemurkaan hebat menimpa umat.”

Pada masa itu tampillah di Israel seorang raja yang berdosa, yaitu Antiokhus Epifanes, putera Raja Antiokhus. Ia pernah menjadi sandera di Roma. Antiokhus Epifanes itu menjadi raja dalam tahun seratus tigapuluh tujuh di zaman pemerintahan Yunani. Pada masa itu tampillah dari Israel beberapa orang jahat yang meyakinkan banyak orang dengan berkata, “Marilah kita mengadakan perjanjian dengan bangsa-bangsa sekeliling kita. Sebab sejak kita menyendiri, maka kita ditimpa banyak malapetaka.” Usul itu diterima baik. Mereka diberi hak oleh raja untuk menuruti adat istiadat bangsa-bangsa lain. Kemudian mereka itu membangun sebuah gelanggang olah raga di Yerusalem menurut adat istiadat bangsa-bangsa lain. Mereka pun memulihkan kulup mereka dan murtadlah mereka dari perjanjian kudus. Mereka bergabung dengan bangsa-bangsa lain dan menjual dirinya untuk berbuat jahat. Beberapa waktu kemudian Raja Antiokhus Epifanes menulis sepucuk surat perintah untuk seluruh kerajaan, bahwasanya semua orang harus menjadi satu bangsa. Masing-masing harus melepaskan adatnya sendiri. Maka semua bangsa menyesuaikan diri dengan titah raja itu. Juga dari Israel ada banyak orang yang menyetujui pemujaan raja. Dipersembahkanlah oleh mereka kurban kepada berhala dan hari Sabat dicemarkan. Pada tanggal limabelas bulan Kislew dalam tahun 145 raja menegakkan patung berhala keji di atas mezbah kurban bakaran di bait Allah. Dan di semua kota di seluruh Yehuda mereka dirikan pula mezbah pemujaan berhala. Pada pintu-pintu rumah dan di lapangan-lapangan dibakar kurban. Kitab-kitab Taurat yang diketemukan disobek-sobek dan dibakar habis. Jika pada salah seorang terdapat Kitab Perjanjian atau jika seseorang berpaut pada hukum Taurat, ia dihukum mati oleh pengadilan raja. Namun demikian ada banyak orang Israel yang tetap teguh hatinya dan bertekad untuk tidak makan sesuatu yang haram. Mereka lebih suka mati daripada menodai diri dengan makanan semacam itu dan dengan demikian mencemarkan perjanjian kudus. Dan mereka mati juga. Kemurkaan yang hebat sekali menimpa Israel.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 119:53.61.134.150.155.158

Ref. Hidupkanlah aku, ya Tuhan, supaya aku berpegang pada perintah-Mu.

  1. Aku menjadi gusar terhadap orang-orang fasik, yang meninggalkan Taurat-Mu. Tali-tali orang-orang fasik membelit aku, tetapi Taurat-Mu tidak kulupakan.

  2. Bebaskanlah aku dari pemerasan manusia, supaya aku berpegang pada titah-titah-Mu.

  3. Orang-orang yang mengejar aku dengan maksud jahat sudah mendekat, mereka menjauh dari hukum-Mu.

  4. Keselamatan menjauh dari orang-orang fasik, sebab mereka tidak mencari ketetapan-ketetapan-Mu!

  5. Melihat para pengkhianat aku merasa muak, karena mereka tidak berpegang pada janji-Mu.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya, alleluya
S : (Yoh 8:12) Akulah terang dunia. Barangsiapa mengikuti Aku, ia akan mempunyai terang hidup.

Inilah Injil Yesus Kristus menurut Lukas 18:35-43

“Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu? Tuhan, semoga aku melihat.”

Ketika Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta duduk di pinggir jalan dan mengemis. Karena mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Ada apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus, orang Nazaret, sedang lewat.” Maka si buta itu berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Orang-orang yang berjalan di depan menyuruh dia diam. Tetapi semakin kuat ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Maka Yesus pun berhenti dan menyuruh orang mengantar dia kepada-Nya. Ketika si buta itu sudah dekat, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kauinginkan Kuperbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, semoga aku melihat!” Maka saat itu juga ia melihat, lalu mengikuti Yesus sambil memuliakan Allah. Seluruh rakyat menyaksikan peristiwa itu dan memuji-muji Allah.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Yohanes Dwi Wicaksono SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Orang buta dan pengemis adalah suatu kenyataan yang ada di sekitar kita. Saya yakin kita semua tau tentang itu, namun sering kali kita tidak sadar karena berjalan di samping mereka dengan acuh.

Latar cerita Injil ini adalah Jericho, sebuah oase subur yang indah di tengah gurun pasir. Yerikho-lah yang dicapai bangsa Israel pada akhir eksodus panjang dari Mesir: kota itu melambangkan pintu gerbang menuju tanah perjanjian.

Orang buta pada masa itu hanya bisa hidup dari mengemis. Sosok orang buta ini mewakili banyak orang yang saat ini pun terpinggirkan karena kecacatan, baik fisik maupun sejenisnya. Ia terpisah dari yang lain, duduk di pinggir jalan sementara orang-orang lewat. Orang yang lewat sibuk dengan diri mereka sendiri, tenggelam dalam pendengarannya sendiri, dan berswapoto demi update status. Dan jalan, yang harusnya menjadi tempat perjumpaan, bagi orang buta itu malah menjadi tempat kesendirian. Ada banyak orang lewat, namun dia sendirian.

Ketika orang buta itu berseru-seru sambil memanggil Yesus, orang-orang menegurnya agar dia diam, seolah-olah dia tidak mempunyai hak untuk berbicara. Mereka tidak menaruh belas kasihan padanya; teriakannya hanya membuat mereka kesal.

Seberapa sering kita merasa jengkel saat melihat orang semacam ini di jalan: orang yang membutuhkan, sakit, lapar. Itu adalah godaan yang kita semua miliki. Itulah sebabnya sabda Tuhan menegur kita, mengingatkan kita bahwa ketidakpedulian dan permusuhan membuat kita buta dan tuli, menghalangi kita melihat saudara-saudara kita dan tidak membiarkan kita mengenali Tuhan di dalam mereka. Terkadang ketidakpedulian dan permusuhan ini bahkan bisa berkembang menjadi agresi dan penghinaan.

Tanpa membiarkan dirinya terintimidasi, orang buta itu berulang kali berseru kepada Yesus. Berbeda dengan orang banyak, meski kedua matanya buta namun mata iman terang benderang: dia mengenali Anak Daud, Mesias yang ditunggu-tunggu, Yesus orang Nazaret yang lewat dan memberi keselamatan.

Faktanya, Yesus berhenti dan memerintahkan agar dia dibawa kepada-Nya. Dengan melakukan hal ini, Yesus menjauhkan orang buta itu dari pinggir jalan dan menempatkan dia sebagai pusat perhatian murid-murid-Nya dan orang banyak. Dengan cara ini, dua tujuan tercapai. Pertama: Yesus membuka mata orang banyak bahwa kabar baik berarti menempatkan orang yang lemah dan tersingkir sebagai pusat dari jalan hidup mereka. Kedua: orang buta itu tidak dapat melihat, namun imannya membuka jalan keselamatan, dan dia mendapati dirinya berada di antara semua orang yang berhenti di jalan untuk melihat Yesus.

Yesus juga lewat dalam hidup kita; dan ketika Yesus lewat, dan saya menyadarinya, itu adalah sebuah undangan untuk mendekat kepada-Nya, untuk menjadi seorang Kristen yang lebih baik, mengikuti Yesus setiap saat.

Kemudian, kepada orang buta itu Yesus bertanya, Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu? Kata-kata Yesus ini sangat mengejutkan: Anak Allah kini berada di hadapan orang buta itu sebagai seorang hamba yang rendah hati. Tuhan menjadikan diri-Nya sebagai hamba manusia berdosa. Dan orang buta itu menjawab Yesus, tidak lagi memanggilnya “Anak Daud,” tetapi “Tuhan”: “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Dia menunjukkan imannya dengan memohon kepada Yesus. Berkat imannya, dia sekarang dapat melihat dan, yang terpenting, dia merasa bahwa dia dikasihi oleh Yesus.

Kisah ini diakhiri dengan pernyataan bahwa orang buta itu “mengikuti Dia, memuliakan Allah”: ia menjadi murid. Dari pengemis menjadi murid: ini juga jalan kita. Kita semua adalah pengemis. Kita selalu membutuhkan keselamatan. Dan kita semua harus mengambil langkah ini setiap hari: dari pengemis menjadi murid. Menjadi murid berarti berjalan di belakang Tuhan, menjadi bagian dari komunitas-Nya.

Orang yang tadinya menyuruh si buta diam, kini ikut berjumpa dengan Yesus dari Nazaret, dan “semua orang, ketika mereka melihatnya, memuji Allah”. Keajaiban kedua terjadi: apa yang terjadi pada orang buta itu juga membuat orang-orang akhirnya dapat melihat. Cahaya yang sama menerangi mereka semua, menyatukan mereka dalam doa pujian. Maka Yesus mencurahkan belas kasihan-Nya kepada semua orang yang ditemuinya: Dia memanggil mereka, membuat mereka datang kepada-Nya, mengumpulkan mereka, menyembuhkan dan mencerahkan mereka, menciptakan umat baru yang merayakan keajaiban kasih setia-Nya.

Marilah kita juga membiarkan diri kita dipanggil oleh Yesus, dan membiarkan diri kita disembuhkan oleh Yesus, diampuni oleh Yesus, dan marilah kita mengikut-Nya setiap saat dalam tugas dan panggilan kita masing-masing setiap hari. Semoga kita menjadi semakin mantap menjadi seorang Kristiani dalam praktek hidup sehari-hari.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Allah Bapa kami di surga, berkenanlah memberkati roti anggur ini dan semoga kami dalam diri Yesus Putra-Mu dapat melihat betapa besar daya kekuatan cinta kasih sejati. Sebab Dialah….

ANTIFON KOMUNI – Lukas 18:41-42

Si buta berkata, “Tuhan, semoga aku melihat.” Jawab Yesus kepadanya, “Melihatlah! Imanmu telah menyelamatkan dikau!

DOA SESUDAH KOMUNI:

Marilah berdoa: Allah Bapa kami di surga, kami mohon, agar dapat melihat. Dan semoga lalu bersedia melihat kebutuhan sesama dan ikut turun tangan, agar setiap orang dapat menemukan kebahagiaan, yang sangat mereka dambakan. Demi Kristus, .

DOWNLOAD AUDIO RESI:

2 Comments

  • Herlin November 20, 2023 at 5:44 am

    Yesus anak Daud.
    Sembuhkanlah setiap org yg matanya sakit .
    Kasihanilah kami.

    Reply
  • Yufita Barito November 20, 2023 at 6:54 am

    Terimakasih untuk renungannya Romo

    Reply

Leave a Comment