Senin, 28 September 2020 – Hari Biasa Pekan XXVI

Rm. Antonius Edi Prasetyo SCJ dari Komunitas Skolastikat SCJ Yogyakarta Indonesia

 
 
 

ANTIFON PEMBUKA  –  Ayb 1:21

Tuhan telah memberi. Tuhan telah mengambil. Seturut kehendak Tuhanlah semuanya terjadi. Terpujilah nama-Nya.

 

PENGANTAR

Orang dalam kesulitan cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang mengalami segalanya dengan lancar. Orang bertanya. “Mengapa aku? Di manakah Allah? Mengapa Dia membiarkan semua ini terjadi?’ Satu-satunya jawaban dalam situasi demikian ialah: menerima bahwa bukan Allahlah yang menimpakan malapetaka padanya, dan tetap percaya bahwa Allah mengharapkan penyerahan diri seutuhnya. Dalam situasi tidak berbahaya dan serba malang terdapat kesempatan untuk melayani orang lain dengan gembira.

 

DOA PEMBUKA

Malah berdoa: Allah Bapa kami yang mahakudus, terpujilah nama-Mu. karena Engkau telah memberi kami nafas kehidupan dan tempat tinggal berkat sabda Putra-Mu terkasih. Kami mohon, semoga telinga kami tetap terbuka, agar dapat mendengarkan segala sabdaMu. Demi Yesus Kristus Putramu,


BACAAN PERTAMA: Kitab Ayub 1:6-22

“Kesalehan Ayub dicoba.”

Pada suatu hari anak-anak Allah datang menghadap Tuhan, dan di antara mereka datanglah juga iblis. Maka bertanyalah Tuhan kepada iblis, “Dari manakah engkau?” Jawab iblis, “Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi.” Lalu bertanyalah Tuhan kepada iblis, “Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tidak seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Lalu jawab iblis kepada Tuhan: “Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu.” Maka firman Tuhan kepada Iblis: “Nah, segala yang dipunyai ada dalam kuasamu. Hanya janganlah engkau mengulurkan tanganmu terhadap dirinya.” Kemudian pergilah iblis dari hadapan Tuhan. Pada suatu hari, ketika anak-anaknya yang lelaki dan yang perempuan makan-makan dan minum angur di rumah saudara mereka yang sulung, datanglah seorang persuruh kepada Ayub dan berkata: “Sedang lembu sapi membajak dan keledai-keledai betina makan rumput di sebelahnya, datanglah orang-orang Syeba menyerang dan merampasnya serta memukul penjaganya dengan mata pedang. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” Sementara orang itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Api telah menyambar dari langit dan membakar serta memakan habis kambing domba dan penjaga-penjaga. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” Sementara ornag itu berbicara, datanglah orang lain dan berkata: “Anak-anak tuan yang lelaki dan yang perempuan sedang makan-makan dan minum anggur di rumah saudara mereka yang sulung, maka tiba-tiba angin ribut bertiup dari seberang padang gurun. Rumah itu dilandanya pada empat penjurunya dan roboh menimpa orang-orang muda itu, sehingga mereka mati. Hanya aku sendiri yang luput, sehingga dapat memberitahukan hal itu kepada tuan.” Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembahnya, katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

 

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 17:1,2-3,6-7

Reff: Condongkanlah telinga-Mu kepadaku, bersegeralah bebaskan daku.

  1. Dengarkanlah, Tuhan, perkara yang benar, perhatikanlah seruanku; berilah telinga akan doaku, dari bibir yang tidak menipu.

  2. Dari pada-Mulah kiranya datang penghakiman: mata-Mu kiranya melihat apa yang benar. Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur.

  3. Aku berseru kepada-Mu, karena Engkau menjawab aku, ya Allah; sendengkanlah telinga-Mu kepadaku, dengarkanlah perkataanku. Tunjukkanlah kasih setia-Mu yang ajaib, ya Engkau, yang menyelamatkan orang-orang yang berlindung pada tangan kanan-Mu terhadap pemberontak.

 

BAIT PENGANTAR INJIL:

U: Alleluya
S: (Mrk 10:45) Anak Manusia datang untuk melayani dan menyerahkan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi semua orang.

 

BACAAN INJIL: Lukas 9:46-50

“Yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.”

Sekali peristiwa timbullah pertengkaran di antara para murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Barangsiapa menerima anak ini demi nama-Ku, dia menerima Aku. Dan barangsiapa menerima Aku, menerima Dia yang mengutus Aku. Sebab yang terkecil di antara kalian, dialah yang terbesar.” Pada kesempatan lain Yohanes berkata, “Guru, kami melihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, dan kami telah mencegahnya, karena ia bukan pengikut kita.” Tetapi Yesus menjawab, “Jangan kalian cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kalian, dia memihak kalian.”

 

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Antonius Edi Prasetyo SCJ

Vivat Cor Jesu per Cor Mariae . Hiduplah Hati Kudus Yesus melalui Hati Bunda Maria

Pendengar Resi Dehonian terkasih, jumpa kembali dengan saya, Romo Antonius Edi Prasetyo SCJ dari Komunitas Skolastikat SCJ Yogyakarta Dalam Resi – Renungan Singkat Dehonian Edisi, Selasa, 28  September 2020. Mari kita dengarkan dan renungkan bersama bacaan dari Injil Lukas 9:46-50

Saudara/I, Para Sahabat Hati Kudus Yesus yang terkasih, kalau kita mencermati perkembangan media saat ini, salah satu isu terhangat adalah terkait dengan tetap dilaksanakannya Pilkada 2020, di tengah situasi pandemi yang belum jelas kapan berakhir ini. Meskipun menuai reaksi dan tanggapan yang beragam, tahapan pilkada tetap berjalan. Saya tidak akan masuk dalam suasana pro dan kontra itu, tapi saya menyoroti sikap saling unjuk kekuatan saat mendaftarkan diri ke KPU masing-masing. Banyak Paslon yang mendaftarkan diri membawa barisan pendukung yang begitu banyak, seolah tidak mengindahkan seruan untuk menjalankan protokol kesehatan. Mereka berlomba-lomba untuk menarik dukungan massa demi ambisi kekuasan tanpa peduli situasi saat ini. Bahkan banyak yang memanfaatkan situasi pandemi untuk menampilkan citra diri demi meningkatkan popularitas dan elektabilitas sebagai calon pemimpin yang peduli dengan memberi bantuan. Itulah kepemimpinan duniawi. Kepemimpinan tidak lagi dipahami sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat, tapi lebih pada jabatan dak kekuasaan.

Para murid Yesus pun rupanya terjebak pada situasi semacam itu. Mereka saling bertengkar tentang siapa yang paling besar dan paling layak mendapat jabatan dan kekuasaan, karena mengira kepemimpinan Yesus menurut kacamata kepemimpinan duniawi. Yesus membalikkan cara pandang para MuridNya. Kepemimpinan Yesus adalah kepemimpinan yang dilaksanakan dalam bentuk pelayanan kepada mereka yang lemah kecil tersingkir tertindas dan memberi pembebasan kepada mereka. Yesus justru meminta para murid belajar dari keutamaan anak kecil yang selalu tulus dan jujur tanpa motivasi terselubung dalam melakukan atau mengerjakan sesuatu.

Saudara-saudara dalam Yesus Kristus, mari jujur dengan diri kita. Apakah kita mempunyai keutamaan seperti yang dimiliki oleh anak-anak? Apakah kita yang dianugerahi jabatan, kedudukan dan posisi kepemimpinan mulai dari level paling rendah hingga pada level cukup tinggi sungguh memaknainya sebagai bentuk pengabdian dan pelayanan kepada masyarakat dengan semangat yang jujur, tulus, rendah hati, dan penuh sukacita. Begitu juga dengan keterlibatan kita dalam hidup menggereja. Apakah jabatan kita yang berkaitan dengan hidup menggereja juga kita maknai sebagai bentuk pelayanan kita, atau justru menjadi kebanggaan pribadi karena merasa lebih dibandingkan yang lain? apakah jabatan yang dipercayakan kepada kita menghasilkan buah-buah roh, seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri atau justru menjadi batu sandungan bagi sesama kita?

Semoga Allah memberkati usaha dan perjuangan hidup anda dalam upaya kita menjadi pribadi yang rendah hati, jujur dan tulus seperti anak kecil melalui berkatNya yang melimpah, dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati kita semua. Amin 

 

DOA PENGANTAR PERSEMBAHAN

Allah Bapa kami yang mahabaik, perkenankanlah kami menjadi putra dan putri-Mu setiap kali ikut serta dalam perjamuan Putra-Mu, yang hidup…

 

ANTIFON PERSEMBAHAN – Ayub 1:21b.22

“Tuhan yang memberi. Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan. Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa, Dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut.

 

DOA PENUTUP

Marilah berdoa: Allah Bapa kami yang mahakuasa, janganlah kiranya kami sampai dikuasai kejahatan, tetapi perkenankanlah kami menjadi putra dan putri-Mu, yang merasa bebas dan bantu-membantu dalam menangani segala sesuatu. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.

No Comments

Leave a Comment