Jumat, 20 November 2020 – Hari Biasa Pekan XXXIII

Rm. Yustinus Eko Yuniarto SCJ dari Komunitas SCJ Visma Vijaya Praya (VVP) Yogyakarta – Indonesia

 
 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Wahyu 10:9

Ambillah dan makanlah kitab itu. Kitab itu akan membuat perutmu terasa pahit Tetapi di dalam mulutmu akan terasa manis seperti madu

 

PENGANTAR

Kita mewartakan perutusan Kristus. Dari diri sendiri kita sama sekali tidak memiliki wibawa. Kita harus lebih dulu meresapi sabda Allah, kita harus menyisihkan waktu untuk disapa, dan siap mendengarkan, agar dapat memahami apa yang dikehendaki Tuhan dari manusia, Tempat yang paling tepat ialah di gereja, rumah Tuhan.

 

DOA PEMBUKA

Marilah berdoa: Allah Bapa kami yang mahakudus, kami mohon ajarilah kami berdoa menurut teladan Putra-Mu terkasih. Semoga tingkah laku kami melambangkan hormat, bakti, dan syukur kami atas kemurahan hati-Mu yang selalu menghidupi kami. Demi Yesus Kristus Putra-Mu…..

 

BACAAN PERTAMA: Kitab Wahyu 10:8-11

“Aku menerima kitab itu dan memakannya.”

Aku, Yohanes, mendengar suara dari langit, yang berkata kepadaku, “Pergilah, ambillah gulungan kitab yang terbuka di tangan malaikat yang berdiri di atas laut dan di atas bumi itu”.Maka aku menghadap malaikat itu. Aku minta kepadanya, supaya memberikan gulungan kitab itu kepadaku. Ia berkata, “Ambillah dan makanlah, Kitab itu akan terasa pahit dalam perutmu, tetapi manis seperti madu dalam mulutmu.” Lalu aku mengambil kitab itu dari tangan malaikat dan memakannya. Rasanya manis seperti madu dalam mulutku, tetapi setelah kumakan terasa pahit dalam perut. Maka malaikat itu berkata kepadaku, “Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa, kaum, bahasa dan raja.”

 

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 119:14. 24. 72. 103. 111. 131

Ref. Betapa manis janji-Mu itu bagi langit-langitku, ya Tuhan.

  1. Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu, melebihi segala harta.

  2. Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku dan kehendak-Mu menjadi penasihat bagiku.

  3. Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak.

  4. Betapa manis janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih manis daripada madu bagi mulutku.

  5. Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.

  6. Mulutku kungangakan dan mengap-mengap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.

BAIT PENGANTAR INJIL: 

U ; Alleluya.
S : (2Taw 7:16) Tempat ini telah Kupilih dan Kukuduskan. Supaya nama-Ku tinggal di sana sepanjang masa.

 

BACAAN INJIL: Lukas 19:45-48

“Rumah-Ku telah kalian jadikan sarang penyamun.”

Pada waktu itu Yesus tiba di Yerusalem dan masuk ke Bait Allah. Maka mulailah Ia mengusir semua pedagang di situ. Ia berkata, “Ada tertulis: Rumah-Ku adalah rumah doa. Tetapi kalian telah menjadikannya sarang penyamun!” Tiap-tiap hari Yesus mengajar di Bait Allah. Para imam kepala dan ahli Taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel berusaha membinasakan Yesus. Tetapi mereka tidak tahu, bagaimana harus melakukannya, sebab seluruh rakyat terpikat kepada-Nya dan ingin mendengarkan Dia.

 

RESI DIAWAKAN OLEH Rm. Yustinus Eko Yuniarto SCJ

Memurnikan Tindakan Kesalehan

Vivat Cor Jesu, Per Cor Mariae! Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria!

Sahabat Resi yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, kembali berjumpa dengan saya Rm. Yustinus Eko Yuniarto SCJ dari komunitas SCJ Yogyakarta, Indonesia, dalam Resi, Renungan Singkat Dehonian edisi Jumat 20 November 2020, pada pekan biasa ke XXXIII. Saya berharap Anda semua dalam keadaan sehat dan bahagia.

Sahabat Resi yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, ada hubungan yang erat antara integritas pribadi dan integritas publik. Integritas pribadi menjadi landasan dasar untuk sebuah integritas publik. Integritas pribadi ini diperoleh melalui sebuah proses pendidikan, pelatihan dan pembiasaan. Tindakan ini diarahkan ke nilai-nilai etika publik dan semuanya itu tumbuh dalam lingkungan keluarga, lingkungan sekolah , lingkungan pertemanan, lingkungan kerja serta lingkungan masyarakat kita.

Orang yang memiliki integritas pribadi pastilah akan diakui sebagai orang yang berintegritas. Artinya dia memenuhi syarat standard dan norma yang menentukan baik-buruk dan benar atau salahnya suatu perilaku, tindakan, dan keputusan yang mengarahkan kepada kebijaksanaan.

Di dalam Injil tadi kita mendengar bagaimana Yesus bersikap ketika melihat situasi dan suasana Bait Allah. Yesus mulai mengusir semua pedagang yang ada di situ. Ia berteriak “RumahKu adalah rumah doa, dan kalian telah menjadikan sarang penyamun”. Kita melihat bagaimana Yesus di dalam hidupNya, selalu berfokus kepada Allah BapaNya,  fokus kepada setiap orang yang dilayaniNya. KemarahanNya pada saat itu cukup beralasan. Yesus tidak ingin orang memperlakukan sedemikian rupa yang merendahkan fungsi Bait Allah. Dia ingin supaya rumah doa ya menjadi rumah doa. Pada saat itu setiap kali Yesus mengajar di Bait Allah ada juga para imam kepala, ahli-ahli taurat, orang-orang terkemuka bangsa Israel yang justru berusaha untuk membinasakan Yesus.  Apa yang diajarkan oleh Yesus ini memikat begitu banyak orang, sehingga Ia diikuti dan didengarkan oleh banyak orang.  Para imam kepala, ahli-ahli taurat, dan orang-orang terkemuka bangsa Israel merasa iri dan curiga terhadap gerakan yang dilakukan oleh Yesus ini.

Para sahabat Resi yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, sebagai orang yang memiliki integritas, integritas berasal dari kata Latin integer yang berarti tidak rusak, murni, utuh, dan jujur. Dia dapat dipercaya atau bisa diandalkan. Dan integritas pribadi yang lalu menjadi integritas public ini unsur utamanya mengacu kepada perilaku etis, nah, yang dilakukan oleh Yesus itu menunjukkan sebuah integritas. Dia mengajar dari diriNya sendiri, dari kuasaNya sendiri yang bersandar kepada BapaNya. Dan apa yang Dia katakan itu selaras dengan kehendak BapaNya. Itulah integritas Yesus, maka karena melihat integritas Yesus yang sedemikian tinggi,  maka para imam kepala dan ahli taurat serta orang-orang terkemuka bangsa Israel merasa curiga, khawatir, dan takut dengan gerakan yang dilakukan oleh Yesus, mereka merasa terancam.

Biasa dalam hidup seharai-hari, bahkan dalam dunia perpolitikan kita pun kita sering bisa melihatnya. Ada sebuah kalimat yang sering kita dengar “dalam politik tidak ada kawan dan tidak lawan yang abadi, yang ada hanyalah kepentingan”.  Nah, itu sebabnya kalau kita melihat dalam situasi politik kita, partai yang tidak seideologi bisa berkoalisi. Mengapa mereka bisa berkoalisi dan bersatu? Karena mereka memiliki kepentingan yang sama. Nah, orang-orang di sekitar Yesus yang memusuhiNya itu juga sebenarnya mereka saling bermusuhan satu sama lain, tetapi ketika mereka memiliki kepentingan yang sama yakni bertujuan menyingkirkan Yesus maka mereka bersatu bersama untuk  membinasakan Yesus.

Sahabat Resi yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, latar belakang seperti itu juga yang kita lihat di dalam Injil hari ini. Yesus itu ingin mewartakan mengenai kebenaran. Dia tadi gelisah mengapa Bait Allah,  rumah Allah, rumah doa itu justru dijadikan tempat berdagang, menjadi pasar. Dan Yesus ingin supaya apa yang menjadi tujuan adanya Bait Allah itu terjadi. Ia ingin menegakkan kebenaran. Ia ingin meluruskan, karena apa yang dibuat oleh orang-orang pada saat itu keliru. Orientasi para pemimpin Yahudi  yakni para imam kepala, ahli taurat dan orang terkemuka bangsa Israel itu adalah kuasa. Mereka takut kehilangan kuasa dan wibawa karena Yesus begitu berpenngaruh dan didengarkan banyak orang. Sangat berbeda dengan orang-orang sederhana yang duduk mendengarkan Yesus, mereka terpikat kepada Yesus, mereka terpesona pada Yesus, setia mendengarkan Dia, karena mereka tidak memiliki kepentingan yang berorientasi kepada kekuasaan.

Sahabat Resi yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, yang ditampakkan oleh Yesus dalam tindakannya ketika mengusir para pedagang di pelataran Bait Allah itu, adalah cara baru yang dibuat oleh Yesus, tidak ada tokoh yang berani melakukan tindakan itu sebelumnya. Yesus ingin mengatakan bahwa Dia mengutuk keras tindakan yang menjadikan Bait Allah itu sebagai sarang penyamun. Dia menyebutnya begitu. Menjadi sarang penyamun karena mereka berjualan dan bertransaksi di situ yang orientasi utamanya adalah keuntungan bagi pribadi mereka sendiri. Maka kita bisa melihat bahwa pembersihan Bait Allah ini adalah sebuah tindakan simbolik, yakni soal bagaimana hati manusia itu juga perlu untuk dibersihkan dari praktik-praktik jahat yang sering kali dikemas dengan tindakan-tindakan saleh. Kita bisa melihat bahwa ternyata hal-hal yang jahat, rencana-rencana jahat seringkali dibungkus dengan tindakan-tindakan kesalehan oleh orang-orang beragama. Maka di sini membutuhkan kemurnian hati, ketulusan hati,  kerendahan hati,  iman yang murni sebagai salah satu syarat yang diharapkan oleh Yesus kepada para pengikutNya. Kita harus memiliki hati yang bersih, sehingga dengan begitu tindakan kesalehan kita pun bisa dikatakan sebagai sebuah aplikasi dari iman kita.

Para sahabat Resi yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, mari kita mendengarkan sabda Yesus, kita mengikuti apa yang dibuat Yesus, juga meneladan dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh Yesus itu. Dia  ingin supaya ada sinkronisasi antara apa yang kita imani  dan apa yang menjadi tindakan kita atau apa yang kita lakukan. Maka semoga Kerajaan Hati Yesus merajai hati kita. Tuhan memberkati Anda dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Amin.    

 

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Allah Bapa kami di surga, dengan roti anggur ini kami mengucap syukur. karena Yesus Putra-Mu telah mewartakan nama-Mu dan membuat nama-Mu disayangi manusia. Sebab Dialah .

 

ANTIFON KOMUNI Mazmur 118:14.24

Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu melebihi segala harta. Ya peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku dan kehendak-Mu menjadi penasihat bagiku. 

 

DOA PENUTUP

Marilah berdoa: Allah Bapa sumber segala harapan, berkenanlah mengukir nama-Mu di dalam hati agar menjadi sumber pengharapan dan kekuatan demi kebahagiaan dan keselamatan setiap orang. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami,

No Comments

Leave a Comment