Sabtu, 30 Januari 2021 – Hari Biasa Pekan III

Rm. Stefanus Sigit Pranoto SCJ dari Komunitas SCJ Yogyakarta Indonesia

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Lukas 1:69-70⁣

Allah mengangkat bagi kita seorang penyelamat putra Daud, hamba-Nya, yang gagah perkasa. Seperti dijanjikan Nya dari sedia kala dengan perantaraan nabi Nya yang kudus.⁣

 

PENGANTAR⁣

Penuh iman Abraham tinggal di tanah yang dijanjikan kepada nya sebagai orang asing. la diam di kemah, sebab ia selalu dalam perjalanan menuju kota yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. Boleh jadi diserang prahara juga. Orang yang kurang percaya akan menjadi cemas, jika lupa bahwa Tuhan besertanya.⁣

 

DOA PEMBUKA⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa sumber iman dan harapan, Engkau memanggil kami dengan sabda-Mu, agar berangkat dan menyiapkan kedamaian. Semoga kami memperoleh iman yang menjiwai Abraham serta memandang Putra-Mu yang menjadi jaminan janji-Mu. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, ….⁣

 

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Surat kepada Orang Ibrani 11:1-2.8-19

“Abraham menantikan kota yang dirancang dan dibangun oleh Allah sendiri.”

Saudara-saudara, iman adalah dasar dari segala yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman, Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya; ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ia tuju. Karena iman, ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing, dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang beralas kokoh, yang dirancang dan dibangun oleh Allah sendiri. Karena iman pula Abraham dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia yakin bahwa Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, dari satu orang yang malahan telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit atau pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. Dalam iman, mereka semua telah mati sebagai orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi hanya dari jauh mereka melihatnya; mereka melambai-lambai kepadanya dan mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Andaikata dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke sana. Tetapi yang mereka rindukan adalah tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. Karena iman, Abraham rela mempersembahkan Ishak tatkala ia dicobai, ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan, “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Abraham percaya bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang sekalipun mereka sudah mati. Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

 

KIDUNG TANGGAPAN: Lukas 2:69-70.71-72.73-75

Ref. Terpujilah Tuhan Allah Israel, sebab Ia telah mengunjungi dan membebaskan umat-Nya.

  1. Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa, putera Daud, hamba-Nya. Seperti dijanjikan-Nya dari sediakala, dengan perantaraan para nabi-Nya yang kudus.

  2. Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua lawan yang membenci kita. Untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada leluhur kita dan mengindahkan perjanjian-Nya yang kudus.

  3. Sebab ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita, akan membebaskan kita dari tangan musuh. Agar kita dapat mengabdi kepada-Nya tanpa takut dan berlaku kudus dan jujur di hadapan-Nya seumur hidup.

 

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya
S : (Yoh 13:16)
Demikian besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki hidup abadi.

 

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 4:35-41

“Angin dan danau pun taat kepada Yesus.”

Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana lalu bertolak, dan membawa Yesus dalam perahu itu di mana Ia telah duduk; dan perahu-perahu lain pun menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapakah gerangan orang ini? Angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

 

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Stefanus Sigit Pranoto SCJ

Vivat Cor Iesus per Cor Mariae. Hiduplah hati Kudus Yesus Melalui Hati Maria. 

Para sahabat Resi Dehonian, Mendengar bacaan Injil hari ini, saya teringat pada pengalaman yang saya alami saat membantu pelayanan Pekan Suci di Paroki Kokonao, Keuskupan Timika – Papua tahun 2017. Pelayanan ke stasi-stasi ditempuh dengan menggunakan perahu motor atau speedboat, dan harus melalui sungai-sungai dan laut. Sebelum membantu pelayanan di sana, saya sudah sering mendengar kisah-kisah dari para romo dan bruder yang berkarya di sana, bagaimana mereka harus menghadapi ombak besar, kehabisan bahan bakar ketika masih berlayar, bahkan hingga pengalaman tenggelam. Bagi saya yang tidak bisa berenang, kisah-kisah itu cukup membuat nyali saya ciut.

Meski demikian ketika ada tawaran untuk membantu pelayanan di sana, saya langsung meng-iya-kan. Singkat cerita, saat menjalani turney – keliling ke stasi-stasi untuk pelayanan pastoral, saya pun mengalami sendiri apa yang pernah saya dengar dari para konfrater saya. Saat perjalanan ke salah satu stasi, di tengah laut ombak begitu besar. Perahu motor kecil yang kami naiki diombang-ambing oleh ombak. Pakaian yang saya kenakan pun basah seketika, karena perahu memang tidak berdinding dan beratap. Saat itu, perahu kecil yang kami pakai penuh dengan barang-barang kebutuhan pelayanan. Saya yang baru pertama kali mengalami itu mulai cemas dan pucat. Saya mulai berpikir aneh-aneh.

Spontan saat itu saya bertanya pada motorist – pengemudi perahu yang adalah karyawan paroki: “Apakah kita akan selamat?” Di luar dugaan saya, jawaban motorist sangat menghentak pikiran saya: “Ah, tenang saja. Kan ada Pater di sini.”

Oh, betapa malunya saya mendengar jawaban itu. Jawaban itu segera menyadarkan saya kembali untuk berpasrah pada Allah. Spontan saat itu saya langsung memohon perlindungan dari Tuhan, dan menyerahkan perjalanan kami kepada-Nya.

Para sahabat Resi Dehonian, Pengalaman yang sama juga dialami para murid sebagaimana dikisahkan dalam Injil. Mereka tidak mampu menyadari bahwa Yesus ada bersama mereka. Padahal mereka tahu bahwa Yesus bisa melakukan berbagai mukjizat. Saat badai taufan menghantam perahu mereka, mereka justru menyalahkan Yesus: “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?”

Para sahabat Resi Dehonian, Aneka ketakutan dan kecemasan seringkali membuat kita tidak menyadari bahwa Allah menyertai kita. Seringkali kita justru lari menjauh dari Allah, bahkan cenderung menyalahkan Allah.

Mari kita kembali menyadari bahwa Allah tak pernah meninggalkan kita. Sesulit apapun masalah yang kita hadapi, kita pasrahkan pada Allah sembari berusaha untuk menghadapinya sesuai kemampuan kita. Yakinlah bahwa Allah tak akan membiarkan umat-Nya menghadapi masalah di luar batas kemampuan manusia. Semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati kita semua. Amin  

 

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN⁣

Allah Bapa mahasetia, kami mohon berilah kami Putra-Mu melalui roti anggur ini. Semoga kami patuh setia kepada kehendak-Mu, sebagaimana dilaksanakan Putra-Mu, bahkan sampai wafat di salib. Dialah Tuhan dan pengantara kami.⁣

 

ANTIFON KOMUNI – Ibrani 11:1⁣

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.⁣

 

DOA PENUTUP⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa yang kekal dan kuasa, kami bersyukur karena dapat bernapas lagi dan memperoleh kekuatan baru dalam diri Yesus Putra-Mu. Semoga roti anggur ini menjadi lambang kehadiran dan bantuan-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.⁣

 
 

No Comments

Leave a Comment