Sabtu, 31 Januari 2026 – Peringatan Wajib St. Yohanes Bosko, Imam

Rm. Alexander Pambudi SCJ dari komunitas Wisma Keuskupan Agung Palembang – Indonesia

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Matius 5:19

Siapa yang mengajarkan dan melakukan sabda Tuhan, dialah yang akan disebut besar dalam kerajaan surga.

PENGANTAR:

Suatu jurang pemisah timbul antara orang tua dan anak dalam perkembangan hidup, adalah biasa. Nampaknya sering bahasa lain yang mereka gunakan. Yohanes Bosko, seorang imam di Turino, selama hidupnya bergaul dengan kaum muda. Dengan suatu pandangan praktis dan penuh humor, tetapi terutama dengan penuh pengabdian ia telah berhasil memecahkan pelbagai pertentangan antar generasi. Ia seorang pendidik tulen, yang bukan bertitik tolak pada buku-buku, tetapi pada keperluan anak sendiri. Karyanya masih dilanjutkan oleh dua buah kongregasi, yaitu Pater-pater Salesian dan Suster-suster Bunda Perantara Rahmat.

DOA KOLEKTA:

Marilah bedoa: Allah Bapa yang maha pengasih, Santo Yohanes Bosko Kaupanggil menjadi bapa dan pendidik kaum muda. Nyalakanlah dalam hati kami api cinta kasih-Mu, sehingga kami pun selalu mengabdi-Mu tanpa pamrih dan ikut serta mengusahakan keselamatan sesama. Demi Yesus Kristus Putra-Mu ….

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Kedua Samuel 12:1-7a.10-17

“Daud mengaku telah berdosa kepada Tuhan.”

Pada waktu itu Daud melakukan yang jahat di hadapan Allah: ia mengambil isteri Uria menjadi isterinya; maka Tuhan mengutus Natan kepada Daud. Natan datang kepada Daud dan berkata kepadanya, “Ada dua orang dalam suatu kota: yang seorang kaya, yang lain miskin. Si kaya mempunyai sangat banyak kambing domba dan lembu sapi; si miskin tidak mempunyai apa-apa, selain seekor anak domba betina yang masih kecil, yang dibeli dan dipeliharanya. Anak domba itu menjadi besar bersama dengan anak-anak si miskin, makan dari suapannya, minum dari cawannya, dan tidur di pangkuannya, seperti seorang anak perempuan baginya. Pada suatu hari orang kaya itu mendapat tamu; ia merasa sayang mengambil seekor dari kambing domba atau lembunya untuk dimasak bagi pengembara yang datang kepadanya itu. Maka ia mengambil anak domba betina kepunyaan si miskin itu, dan memasaknya bagi orang yang datang kepadanya itu. Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan, “Demi Tuhan yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati. Anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena orang yang melakukan hal itu tidak kenal belas kasihan.” Kemudian berkatalah Natan kepada Daud, “Engkaulah orang itu! Beginilah sabda Tuhan, Allah Israel: Pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. Beginilah sabda Tuhan:’Malapetaka yang datang dari kaum keluargamu sendiri akan Kutimpakan ke atasmu. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; dan orang itu akan tidur dengan isterimu di siang hari. Engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi Aku akan melakukan hal itu di depan seluruh Israel secara terang-terangan.’ Lalu berkatalah Daud kepada Natan, “Aku sudah berdosa kepada Tuhan.” Dan Natan berkata kepada Daud, “Tuhan telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. Walaupun demikian, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati, karena dengan perbuatan itu engkau sangat menista Tuhan.” Kemudian pergilah Natan, pulang ke rumahnya. Tuhan mencelakakan anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. Lalu Daud memohon kepada Allah bagi anak itu; ia berpuasa dengan tekun, dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman ia berbaring di tanah. Maka datanglah para tua-tua yang ada di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi Daud tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 51:12-13.14-15.16-17

Ref. Ciptakanlah hati murni dalam diriku, ya Allah.

  1. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

  2. Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang durhaka, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

  3. Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah penyelamatku, maka lidahku akan memasyhurkan keadilan-Mu! Ya Tuhan, bukalah bibirku, supaya mulutku mewartakan puji-pujian kepada-Mu!

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya
S : (Yoh 13:16) Demikian besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki hidup abadi.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 4:35-41

“Angin dan danau pun taat kepada Yesus.”

Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana lalu bertolak, dan membawa Yesus dalam perahu itu di mana Ia telah duduk; dan perahu-perahu lain pun menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat, dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapakah gerangan orang ini? Angin dan danau pun taat kepada-Nya?”
Demikianlah sabda Tuhan!
U. Terpujilah Kristus!

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Alexander Pambudi SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Sahabat Resi yang terkasih, salam jumpa dengan saya, Rm. Alexander Pambudi SCJ, dari Wisma Keuskupan Agung Palembang, dalam RESI-Renungan Singkat Dehonian, edisi Sabtu, 31 Januari 2026

Sahabat Resi yang terkasih, salam jumpa dengan saya, Rm. Alexander Pambudi SCJ, dari Wisma Keuskupan Agung Palembang. Salam sehat dan berlimpah berkat. Semoga Anda sekalian ada dalam keadaan sehat, lahir dan batin.

Yesus mengajak para murid untuk “bertolak ke seberang”, sebuah ajakan yang tampak sederhana namun sarat makna perjalanan iman. Dalam keseharian, kita pun sering diajak Tuhan melangkah ke wilayah yang tidak sepenuhnya kita kuasai. Perjalanan hidup tidak selalu mulus, sebab badai dapat datang tanpa peringatan. Saat itulah muncul kegelisahan yang serupa dengan jeritan murid, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Pertanyaan ini kerap terucap dalam hati kita ketika doa terasa tak segera dijawab.

Di tengah kekacauan itu, Injil mencatat bahwa Yesus “sedang tidur”, sebuah sikap yang bagi manusia terasa membingungkan. Tidur-Nya bukan tanda ketidakpedulian, melainkan undangan untuk percaya. Dalam hidup sehari-hari, Tuhan pun sering tampak diam ketika kita berharap intervensi cepat. Keheningan Allah menguji kedalaman iman kita, bukan sekadar ketergantungan pada mukjizat. Dari sini kita belajar bahwa iman sejati tidak selalu ditopang oleh rasa aman.

Ketika Yesus bangun, Ia “menghardik angin dan berkata kepada danau: Diam! Tenanglah!” Sabda-Nya membawa ketenangan yang tidak mampu diciptakan manusia. Badai bisa menjadi gambaran konflik keluarga, tekanan ekonomi, atau kelelahan dalam pelayanan. Namun Injil menunjukkan bahwa kekacauan tidak pernah memiliki kata terakhir. Kuasa Kristus melampaui situasi yang paling tak terkendali. Dalam hidup umat beriman, ketenangan lahir ketika Sabda Tuhan diberi ruang untuk bekerja.

Sesudah badai reda, Yesus menegur para murid dengan pertanyaan, “Mengapa kamu begitu takut?” Teguran ini menyentuh inti persoalan iman, yakni ketakutan yang mengalahkan kepercayaan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering lebih cepat panik daripada berdoa. Ketakutan membuat kita lupa akan pengalaman penyertaan Tuhan di masa lalu. Injil mengajak kita untuk menata kembali prioritas batin: percaya lebih dahulu, baru menilai keadaan.

Akhirnya, para murid diliputi rasa kagum dan bertanya, “Siapa gerangan ini?” Pertanyaan ini tidak hanya milik mereka, tetapi juga milik kita hari ini. Setiap pengalaman hidup mengantar kita untuk mengenal Yesus lebih dalam. Iman bertumbuh ketika kita berani merefleksikan karya Tuhan dalam badai hidup. Dengan demikian, keseharian kita menjadi tempat perjumpaan yang nyata dengan Kristus yang berkuasa dan setia.

Tuhan memberkati segala usaha, pekerjaan dan niat-niat baik kita hari ini dan di masa-masa yang akan datang. Amin

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN: 

Allah Bapa yang mahabaik, berkenanlah menerima persembahan umat-Mu yang kami unjukkan bersama pada peringatan Santo Yohanes Bosko. Semoga berkat doa restunya kami mengamalkan cinta kasih-Mu yang terpancar dalam kehidupannya. Demi Kristus, ….

ANTIFON KOMUNI – Matius 18:3

Jika kalian tidak bertobat menjadi seperti anak kecil, kalian takkan diizinkan masuk kerajaan surga.

DOA SESUDAH KOMUNI:

Marilah berdoa: Allah Bapa yang mahakuasa, semoga berkat santapan suci yang kami sambut, serta teladan hidup Santo Yohanes Bosko, kami benar-benar memancarkan perhatian dan cinta kasih-Mu terhadap kaum muda khususnya serta umat-Mu pada umumnya. Demi Kristus, ….

DONLOAD AUDIO RESI: 

Santo Yohanes Bosco

Don Bosco, Giovanni Bosco, Giovanni Melchior Bosco, John Melchior Bosco
Pendiri Serikat Salesian Don Bosco (SDB)

Masa Kecil

Yohanes Bosco dilahirkan pada tanggal 16 Agustus 1815, di Becchi, sebuah dusun kecil di Castelnuovo d’Asti (sekarang namanya Castelnuovo Don Bosco), Italia. Ayahnya, Francesco, adalah seorang petani yang miskin. Francesco mempunyai tiga orang putera, yaitu Antonio (dari istri pertamanya yang telah meninggal dunia), Yusuf, dan Yohanes. Francesco meninggal dunia saat Yohanes baru berusia dua tahun.

Ibunya, Margarita, dengan segala daya upaya dan kerja keras berusaha menghidupi keluarganya. Namun demikian, kerja keras dan kemiskinan tidak menghalangi Margarita untuk senantiasa menceritakan kepada anak-anaknya segala kebaikan Tuhan: siang dan malam, bunga-bunga dan bintang-bintang. Ia mengajarkan kepada Yohanes kecil bagaimana mengolah tanah dan bagaimana menemukan Tuhan melalui panen yang berlimpah dan melalui hujan yang menyirami tumbuh-tumbuhan. Sebagai seorang ibu yang baik, Margarita juga senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya bagaimana berdoa dengan baik. Dari ibunya, Yohanes belajar melihat Tuhan dalam wajah sesama, yaitu mereka yang miskin, mereka yang sengsara, mereka yang datang mengetuk rumah sepanjang musim dingin. Ia belajar menyuguhkan sup hangat serta membagikan makanan dari kemiskinan mereka.

Suatu ketika, saat Yohanes berusia 9 tahun, ia mendapatkan sebuah mimpi yang menakjubkan, yang akan mengubah seluruh kehidupannya. Dalam mimpinya Yohanes sedang berada di lapangan yang luas. Ia melihat banyak sekali anak di sana, ada yang tertawa, bermain, dan ada pula yang bersumpah serapah. Yohanes tidak suka anak-anak itu menghina Tuhan. Ia segera berlari untuk menghentikan mereka sambil berteriak dan mengepalkan tinjunya. Saat itu tiba-tiba tampaklah Seorang berjubah putih dan wajah-Nya bersinar. Ia memanggil Yohanes, memintanya agar tenang, serta menasihatinya agar menjadikan anak-anak itu sebagai temannya dan menyadarkan mereka akan dosa-dosa mereka dengan cara yang lembut.

Yohanes mengatakan kembali bahwa hal itu tidak mungkin, namun Dia berkata kepada Yohanes akan memberikan seorang Bunda yang akan selalu mendampingi dan membimbing Yohanes dalam tugasnya ini. Bunda itutak lain adalah Bunda Maria dan yang berbicara dalam mimpi Yohanes adalah Yesus sendiri. Saat Yohanes masih terlihat bingung, Bunda Maria datang dan memanggil Yohanes untuk mendekat kepadanya. Seketika itu gerombolan anak-anak tadi lenyap dan yang tampak oleh Yohanes sekarang ialah sekawanan binatang buas: kambing liar, harimau, serigala, beruang. “Inilah tempat di mana kamu harus bekerja. Jadikan dirimu rendah hati, kuat, dan penuh semangat. Apa yang kamu lihat terjadi pada binatang-binatang buas ini, kamu harus melakukannya kepada anak-anak-Ku.” Suara itu terdengar lembut bagi Yohanes, dan kemudian dia melihat bahwa binatang-binatang buas itu kini telah berubah menjadi sekumpulan besar anak domba yang jinak, berkerumun, dan berdesak-desakan di sekitar Kedua Tamu Agungnya. Segera setelah itu Yohanes terbangun dan ia tidak dapat tidur kembali. Mimpi itu telah menyatakan tahun-tahun mendatang dalam hidupnya.

Ahli Sulap dan Akrobat

Sejak itu Yohanes senantiasa berusaha berbuat baik kepada teman-temannya. Saat suatu rombongan sirkus datang ke kotanya, Yohanes pun segera pergi untuk melihat pertunjukan mereka. Rombongan sirkus itu menampilkan badut, sulap, permainan-permainan, dan akrobat. Yohanes memperhatikan dengan sungguh-sungguh dan mempelajari semua atraksi yang ditampilkan.

Sepulangnya dari pertunjukan sirkus, Yohanes mulai meniru atraksi-atraksi yang ditampilkan. Walaupun awalnya ia gagal, tergelincir, jatuh, dan badannya memar, tetapi tekadnya kuat. Ia pantang menyerah, sebab pikirnya, “Jika mereka dapat melakukannya, mengapa aku tidak?” Yohanes terus berlatih hingga suatu hari Minggu sore, ia mempertunjukkan kebolehannya di hadapan anak-anak tetangga. Ia memperagakan keseimbangan tubuh dengan wajan dan panci di ujung hidungnya. Kemudian ia melompat ke atas tali yang direntangkan di antara dua pohon dan berjalan di atasnya diiringi tepuk tangan penonton. Sebelum pertunjukan yang hebat itu diakhiri, Yohanes mengulang khotbah yang ia dengar dalam Misa pagi kepada teman-temannya itu, dan mengajak mereka semua berdoa.

Kabar mengenai pertunjukan yang diselenggarakan Yohanes tersiar hingga ke desa-desa tetangga. Karena pada masa itu jarang sekali ada pertunjukan semacam itu, maka segera saja anak-anak dari berbagai tempat datang untuk menyaksikan pertunjukannya. Jumlahnya hingga seratus anak lebih.

Sebelum memulai pertunjukannya, Yohanes mengajak anak-anak itu untuk berdoa rosario terlebih dahulu. Walupun anak-anak itu mengeluh, tetapi mereka menurut. Setelah ia mengajak anak-anak menyanyikan satu kidung bagi Bunda Maria, Yohanes berdiri di atas kursi dan mulai menjelaskan isi Kitab Suci seperti yang didengarnya pada Misa pagi. Jika seorang anak menolak untuk mendengarkan khotbahnya atau menolak berdoa, Yohanes akan berkata: “Baiklah. Aku tidak akan mengadakan pertunjukan hari ini. Jika kalian tidak berdoa, bisa saja aku terjatuh dan leherku patah.”

Permainan dan Sabda Tuhan mulai mengubah perilaku teman-temannya. Yohanes kecil mulai menyadari bahwa agar dapat berbuat baik untuk sedemikian banyak anak, ia perlu belajar dan menjadi seorang imam. Imam Castelnuovo melihat perkembangan iman Yohanes yang luar biasa, hingga ia mengijinkan Yohanes menerima komuni dua tahun lebih awal dari usia yang ditentukan Gereja.

Pergi dari Rumah

Suatu ketika seorang misionaris, Don Calosso (‘Don’ dalam bahasa Italia berarti Romo), datang ke desa Buttigliera untuk memberikan pelajaran agama. Yohanes memutuskan untuk mengikuti semua pelajaran agama yang diberikan olehnya, baik pagi maupun sore. Itu berarti ia harus berjalan kaki sejauh 10 mil (16 kilometer) sehari. Kakak tirinya, Antonio, menentang keras keinginan Yohanes untuk belajar. Menurutnya sudah tiba waktunya bagi Yohanes untuk bekerja. Oleh karena itu, diambillah keputusan: pagi hari Yohanes belajar di pastoran dengan Don Calosso, sesudahnya ia harus bekerja di sawah. Yohanes belajar dengan tekun. Ia membawa bukunya ke sawah dan belajar hingga larut malam. Hal itu sangat menjengkelkan Antonio. Ia membuang semua buku Yohanes dan mencambuki adik tirinya itu dengan ikat pinggangnya.

Demi keselamatan Yohanes, Margarita membuat suatu keputusan yang amat menyedihkan hatinya sendiri: ia menyuruh Yohanes pergi dari rumah. Saat itu Yohanes baru berumur 12 tahun. Yohanes kemudian bekerja sebagai penggembala sapi di pertanian milik Tuan Luigi. Yohanes bekerja dengan rajin, dan setiap hari Minggu ia pergi ke gereja. Di tempat itu Yohanes kembali meneruskan usahanya untuk mengumpulkan anak-anak dan mengajak mereka bermain dan berdoa.

Menanggapi Panggilan Tuhan

Yohanes tumbuh menjadi remaja yang pandai dan cerdas. Dengan bantuan dari banyak orang yang bersimpati kepadanya, Yohanes pun dapat bersekolah di Castelnuovo. Ia adalah murid terbaik dari semua murid sekolahnya. Ia mengumpulkan teman-temannya dan membentuk suatu kelompok religius yang diberinya nama Kelompok Sukacita. Yohanes menjadi penggerak utama bagi teman-temannya. Kepribadiannya terbuka, dinamis, dan vitalitas hidupnya tinggi, namun kadang-kala ia kurang sabar dan terbawa emosi. Pernah juga ia menekankan perbuatan baik, kebenaran serta keadilan bukan dengan kelemahlembutan, melainkan justru dengan tinjunya.

Di sekolah itu Yohanes mengenal seorang anak bernama Luigi Comollo yang mempunyai sifat bertolak belakang dengan Yohanes. Ia adalah seorang yang lembut dan sabar. Yohanes sangat mengagumi kepribadian Luigi dan ia dapat belajar darinya. Maka Yohanes dan Luigi pun menjadi sahabat yang saling mendukung.

Setelah menyelesaikan sekolahnya pada usia 20 tahun, Yohanes Bosco mengambil keputusan yang amat penting dalam hidupnya: ia masuk Seminari Chieri. Ibunya menegaskan kepadanya untuk selalu setia kepada panggilannya dan jika ia ragu-ragu lebih baik diurungkannya saja niatnya itu daripada menjadi seorang imam yang lalai dan acuh. Nasihat ibunya itu diingat dan dihormati oleh Yohanes sepanjang hidupnya.

Tak disangkanya, Luigi Comollo menyusulnya beberapa bulan kemudian. Kepadanyalah, Yohanes mengutarakan semua cita-cita dan rencananya. Luigi sendiri tidak menyusun banyak rencana seperti Yohanes, ia merasa bahwa hidupnya akan segera berakhir

Tahun berikutnya, pada tanggal 2 April 1839, hari Kamis sesudah Paskah, Luigi meninggal dunia karena demam. Yohanes amat berduka karena bagian dari dirinya yang berharga telah pergi. Namun ia juga bahagia karena ia tahu Luigi, sahabatnya, telah bersatu dengan Tuhan di surga.

Menjadi Imam

Pada tanggal 5 Juni 1841 Uskup kota Turin mentahbiskan Yohanes Bosco menjadi seorang imam. Yohanes merasa amat bahagia, demikian juga Margarita. Anaknya yang dikasihinya telah ditahbiskan untuk mempersembahkan Tubuh dan Darah Penyelamatnya setiap hari di altar. Waktu itu usia Yohanes hampir 26 tahun.

Setelah ditahbiskan, Don Bosco bertugas di kota Turin di bawah bimbingan seorang imam yang saleh, Don Cafasso. Yohanes sangat prihatin dengan keadaan kaum muda di situ. Don Bosco melihat mereka bertaruh di pojok-pojok jalan, wajah mereka keras dan kaku, seolah-olah hendak mencapai segala keinginan mereka dengan jalan apa saja. Dekat dengan pasar kota, ia menjumpai pasar dengan pekerja-pekerja remaja. Di daerah sekitar Porta Palazzo, demikian ditulis oleh Don Bosco bertahun-tahun kemudian, berkerumun para penjaja barang, penyemir sepatu, anak-anak pengurus kandang, berbagai macam pedagang, pesuruh: semua kaum miskin papa yang dengan susah payah mencari penghidupannya dari hari ke hari. Anak-anak itu adalah korban dari dampak buruk revolusi industri. Masyarakat pedesaan berbondong-bondong datang ke kota untuk memperoleh penghidupan yang lebih baik, akibatnya jumlah pengangguran di kota semakin tinggi sehingga menyebabkan meningkatnya jumlah keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Hal yang paling menyentuh hati Don Bosco adalah ketika ia mengunjungi penjara. Ia menulis demikian: “Melihat begitu banyak anak, dari usia 12 hingga 18 tahun, semuanya dalam keadaan sehat, kuat, cerdas, digigiti serangga, kekurangan makanan, baik makanan rohani maupun jasmani, sungguh sesuatu yang amat mengerikan bagi saya.” Menghadapi keadaan seperti itu Don Bosco membuat suatu keputusan: “Saya harus, dengan segala prasarana yang ada, mencegah kehidupan para anak dan remaja itu berakhir di sini.”

Yohanes Don Bosco dan Anak-anaknya

Don Bosco mendapatkan anaknya yang pertama pada Hari Raya Santa Perawan Maria yang Dikandung Tanpa Dosa. Ia sedang mengenakan jubahnya untuk mempersembahkan Misa di Gereja Convitto, ketika seorang remaja jalanan melongok ke ruang sakristi. Saat itu koster menegur anak tadi, namun Don Bosco justru menyambutnya dengan lembut dan menjadikan anak itu sebagai temannya.

Hari Minggu berikutnya, anak itu membawa 6 anak lain bersamanya. Penampilan mereka sangat kusut dan kotor, namun mereka mau belajar agama. Tiga bulan kemudian jumlah anak-anak menjadi 25 orang, hingga akhirnya jumlahnya mencapai 100 anak. Mereka itu adalah kuli jalanan, pemecah batu, tukang batu, tukang plester yang datang dari daerah-daerah yang jauh. Dari sanalah terbentuk kelompok kaum muda yang oleh Don Bosco disebut Oratorio.

Mereka semua bertemu pada hari Minggu. Mereka ikut ambil bagian dalam perayaan Misa, belajar agama, dan bermain bersama. Kegiatan kelompok Oratorio tidak dibatasi pada hari Minggu saja. Bagi Don Bosco, Oratorio adalah hidupnya. Ia mencarikan pekerjaan bagi anak-anak yang belum memperoleh pekerjaan, dan ia mengajar anak-anak itu setelah mereka selesai bekerja. Jumlah mereka bertambah dan bertambah terus hingga mencapai empat ratus orang.

Setiap malam Don Bosco menghendaki agar anak-anak itu mendaraskan tiga kali Salam Maria, mohon agar Bunda Maria membantu mereka untuk menjauhkan diri dari dosa. Ia juga mendorong mereka untuk menerima Sakramen Rekonsiliasi dan Komuni Kudus sesering mungkin dan dengan penuh cinta.

Tuhan memberkati semua usaha Don Bosco dan memberikan karunia mujizat kepadanya. Segala karunia mujizat itu memperkuat bakat-bakat alaminya guna mendukung serta membimbing mereka.

Halangan dan Rintangan

Usaha-usaha yang dilakukan Don Bosco tidak luput dari berbagai macam halangan dan rintangan. Ia membutuhkan dana untuk Kelompok Oratorio-nya. Ia membutuhkan tempat yang cukup luas bagi 400 anak itu untuk berdoa, belajar, dan bermain. Hingga saat itu ke mana pun mereka pergi, mereka selalu diusir.

Imam-imam lain juga menganggap Don Bosco sudah menyimpang dari misinya. Dengan empat ratus anak kasar dan liar yang selalu mengikutinya, ia dianggap sudah tidak waras lagi. Oleh karena itu, dua orang imam mencoba membawanya ke rumah sakit jiwa, namun gagal.

Halangan dan rintangan datang bertubi-tubi, tetapi Don Bosco memperoleh dorongan serta semangat melalui mimpi-mimpinya. Dalam mimpi-mimpi itu Don Bosco memperoleh kekuatan dan kepercayaan untuk terus maju dan berkarya. Bunda Maria selalu membantu dan menguatkannya.

Institut St. Fransiskus de Sales

Dengan berbagai usaha, akhirnya Don Bosco dapat menyewa Graha Pinardi di Valdocco, sebuah rumah yang tidak terpakai, yang terletak di daerah terpencil. Don Bosco menjadikan ruang depannya sebagai kapel sederhana sekaligus ruang belajar. Pada pintunya Don Bosco memasang papan dengan pesan kebanggaan yang ia dapatkan dari Bunda Maria dalam mimpinya: “Haec est Domus Mea; Inde Gloria Mea”, artinya “Inilah Rumah-Ku; darinyalah Kemuliaan-Ku akan terpancar.” Tepat pada Pesta Paskah 12 April 1846 Kelompok Oratorio memiliki gereja mereka sendiri!

Pada tanggal 3 November tahun itu, Don Bosco memutuskan untuk tinggal di Valdocco. Ia meminta ibunya yang telah berusia 59 tahun, meninggalkan rumahnya di Becchi untuk mengurus rumah tangga dan menjadi ibu bagi anak-anak asuhnya. Margarita pun menjual cincin kawin dan semua barang berharganya agar dapat membayar sewa rumah, biaya keperluan rumah tangga, dan menyediakan makanan bagi anak-anak yang datang kepadanya.

Pada bulan Mei 1847 Margarita memberi tumpangan kepada seorang remaja dari Valesia. Menyusul anak dari Valesia itu, anak-anak yang lain ikut tinggal bersama Don Bosco hingga jumlahnya mencapai 30 anak. Tuhan memberkati semua karya dan usaha Don Bosco.

Pada tahun 1851 sebuah kapel St. Fransiskus de Sales didirikan dekat dengan Graha Pinardi yang sekarang telah menjadi milik Don Bosco. Bangunan-bangunan tersebut merupakan bangunan awal dari Institut St. Fransiskus de Sales.

Don Bosco pun mulai membentuk bengkel-bengkel sendiri di Valdocco: bengkel sepatu, bengkel jahit, bengkel kayu, bengkel kunci, bengkel penjilidan buku dan percetakan. Don Bosco menguasai semua bidang itu. Ia memberikan nasihat dan pelajaran bagi anak-anak. Dengan demikian, anak-anak telah siap dan matang ketika mereka bekerja di luar.

Serikat Salesian

Selain memberikan pelajaran dan pendidikan ketrampilan, Don Bosco juga memberikan pelajaran khusus bagi mereka yang berminat untuk mengikuti jejaknya. Melalui mimpinya Don Bosco mengetahui anak-anak mana yang akan meninggalkannya dan anak-anak mana yang akan tetap bersamanya. Ia bahkan mengetahui masa depan anak-anaknya, misalnya: Giovanni Cagliero dari Castelnuovo d’Asti kelak akan menjadi seorang Kardinal, Michael Rua kelak akan menjadi penerusnya. Sore hari tanggal 6 Januari 1854 ia mengumpulkan mereka dan menyampaikan pesan berikut, “Sahabat-sahabatku terkasih, selama Novena menyambut pesta santo pelindung kita, St. Fransiskus de Sales, saya menganjurkan kepada kalian sejak hari ini, dengan pertolongan Tuhan, mengamalkan belaskasih kepada sesama. Setelah masa ini berakhir, kalian diperkenankan mengikat diri dengan suatu janji, dan sesudahnya dengan suatu sumpah. Mulai sore hari ini kita menyebut diri kita Salesian.”

Don Bosco tidak hanya mendirikan serikat untuk kaum pria saja, namun akhirnya ia pun mendirikan serikat untuk kaum putri. Maka, pada tanggal 5 Agustus 1872 Uskup meresmikan Kongregasi Puteri-Puteri Maria Pertolongan Orang Kristen, atau dikenal dengan nama Kongregasi Suster-suster Salesian dengan Maria Mazzarello sebagai Priorin. Rumah biara tersebut berhadapan dengan Institut Salesian.

Pada tahun 1876 Don Bosco juga membentuk Serikat Salesian Awam yang beranggotakan kaum awam yang bersedia membantu Salesian dengan mencurahkan segala perhatian, waktu dan dana mereka. Serikat Salesian dan Serikat Salesian Awam saling berbagi karya, doa dan berkat.

Akhir Hidup Don Bosco

Don Bosco terus berkarya di mana saja, bahkan para misionarisnya juga tersebar di berbagai tempat untuk mewartakan Injil. Tahun-tahun berlalu, Don Bosco semakin tua. Saat usianya hampir mencapai 70 tahun, satu matanya sudah tidak dapat berfungsi, sedang matanya yang lain sudah kabur. Jika berjalan ia harus beristirahat sejenak di tongkat penyangga atau di pundak seorang teman. Namun hal-hal demikian tidak menghalangi Don Bosco untuk pergi ke berbagai tempat, mengunjungi biara-biara, merayakan Misa di gereja-gereja. Ke mana pun ia pergi, umat menyambutnya dengan antusias. Don Bosco menandatangani potret, membagi-bagikan gambar-gambar kudus dan medali, memberikan berkat dan nasihat, mendengarkan pengakuan dosa, mempertobatkan banyak orang, melakukan mujizat-mujizat, dan menerima banyak sumbangan untuk kelanjutan karyanya.

Tahun 1887 Don Bosco sudah amat lemah. Penglihatannya sudah tidak berfungsi dan kedua kakinya terlalu lemah untuk menyangga tubuhnya. Don Bosco berdoa kepada Bunda Maria agar Bunda Maria menyediakan seribu tempat di surga bagi Serikat Salesian, kemudian ia meminta sepuluh ribu, dan kemudian seratus ribu. Bunda Maria mengabulkannya. Dan Don Bosco meminta lagi lebih banyak tempat.

Bosco membisikkan pesan terakhirnya kepada anak-anak yang berkumpul di sekeliling tempat tidurnya, “Kasihilah satu sama lain seperti saudara. Berbuatlah baik kepada semua orang dan janganlah berbuat jahat kepada siapa pun. Katakanlah kepada anak-anak bahwa aku menanti mereka semua di Surga.”

Pada tanggal 31 Januari 1888, Yohanes Bosco wafat dalam usia 72 tahun. Pada tanggal 2 Juni 1929 ia dinyatakan sebagai Beato oleh Paus Pius XI dan pada tanggal 8 November 1933 dinyatakan sebagai Santo. Pestanya dirayakan setiap tanggal 31 Januari. Don Bosco sudah meninggal, tetapi karyanya tetap berlanjut hingga saat ini melalui Serikat Salesian yang dibentuknya. Semoga apa yang telah dilakukan oleh Santo Yohanes Bosco semakin berkembang di dunia sekarang ini, dan banyak anak muda yang diselamatkan.

“Menghindarlah dari teman-teman yang jahat sama seperti kamu menghindar dari gigitan ular beracun. Jika teman-temanmu baik, saya yakin bahwa suatu hari kelak kamu akan bersukacita bersama para kudus di Surga; tetapi jika kumpulanmu jahat, kamu sendiri akan menjadi jahat pula, dan kamu berada dalam bahaya kehilangan jiwamu.” ~ St. Yohanes Don Bosco

Arti Nama

Yohanes Berasal dari nama Yunani Ιωαννης (Ioannes), yang aslinya berasal dari nama Ibrani  יוֹחָנָן (Yochanan) yang berarti YAHWEH Maha pengasih“, “Allah Maha Baik”

Variasi Nama

John, Jon (English), Deshaun, Deshawn, Keshaun, Keshawn, Rashaun, Rashawn (African American), Gjon (Albanian), Yahya (Arabic), Hovhannes, Ohannes (Armenian), Ganix, Ion, Jon (Basque), Ioannes (Biblical Greek), Yehochanan, Yochanan (Biblical Hebrew), Iohannes (Biblical Latin), Yann, Yanick, Yannic, Yannick (Breton), Ioan, Ivan, Yan, Yoan, Ivo, Yanko (Bulgarian), Joan, Jan (Catalan), Jowan (Cornish), Ghjuvan (Corsican), Ivan, Ivica, Ivo, Janko, Vanja (Croatian), Ivan, Jan, Johan, Honza, Janek (Czech), Jan, Jens, Johan, Johannes, Jon, Hans, Jannick, Jannik (Danish), Jan, Johan, Johannes, Hanne, Hannes, Hans, Jo, Joop (Dutch), Johano, Joĉjo (Esperanto), Jaan, Johannes, Juhan (Estonian), Jani, Janne, Johannes, Joni, Jouni, Juhana, Juhani, Hannes, Hannu, Juha, Juho, Jukka, Jussi (Finnish), Jean, Yann, Jeannot, Yanick, Yannic, Yannick (French), Xoán (Galician), Jan, Johann, Johannes, Hannes, Hans, Jo (German), Ioannes, Ioannis, Yanni, Yannis, Yianni, Yiannis (Greek), Keoni (Hawaiian), Yochanan (Hebrew), János, Jancsi, Jani, Janika (Hungarian), Jóhann, Jóhannes, Jón (Icelandic), Eoin, Sean, Seán, Shane (Irish), Giovanni, Gian, Gianni, Giannino, Nino, Vanni (Italian), Johannes, Joannes (Late Roman), Jānis (Latvian), Sjang, Sjeng (Limburgish), Jonas (Lithuanian), Johan, Hanke (Low German), Ivan, Jovan, Ivo (Macedonian), Ean, Juan (Manx), Hann, Jan, Jon, Hankin, Jackin, Jankin (Medieval English), Jehan (Medieval French), Zuan (Medieval Italian), Jan, Jens, Johan, Johannes, Jon, Hans (Norwegian), Joan (Occitan), Iwan, Jan, Janusz, Janek (Polish), João, Joãozinho (Portuguese), Ioan, Ion, Iancu, Ionel, Ionuț, Nelu (Romanian), Ioann, Ivan, Vanya (Russian), Eoin, Iain, Ian (Scottish), Ivan, Jovan, Ivo, Janko, Vanja (Serbian), Ján, Janko (Slovak), Ivan, Jan, Janez, Žan, Anže, Janko (Slovene), Iván, Juan, Xuan, Juanito (Spanish), Jan, Jens, Johan, Johannes, Jon, Hampus, Hans, Hasse, Janne (Swedish), Yahya (Turkish), Ivan (Ukrainian), Evan, Iefan, Ieuan, Ifan, Ioan, Iwan, Siôn, Ianto (Welsh)

Bentuk Feminim : Jone (Basque), Joanna (Biblical), Ioanna (Biblical Greek), Iohanna (Biblical Latin), Ioana, Ivana, Yana, Yoana (Bulgarian), Joana, Jana (Catalan), Ivana (Croatian), Ivana, Jana, Johana, Janička (Czech), Johanna, Johanne (Danish), Jana, Janna, Johanna, Janneke, Jantine, Jantje (Dutch), Johanna (Estonian), Janina, Johanna (Finnish), Jeanne, Jeannette, Jeannine (French), Xoana (Galician), Jana, Janina, Johanna (German), Ioanna, Nana (Greek), Johanna (Hungarian), Jóhanna, Jóna (Icelandic), Chevonne, Shavonne, Shevaun, Shevon, Síne, Siobhan (Irish), Giovanna (Italian), Johanna (Late Roman), Janina (Lithuanian), Ivana, Jovana (Macedonian), Jehanne, Johanne (Medieval French), Johanna, Johanne (Norwegian), Janina, Joanna (Polish), Joana (Portuguese), Ioana (Romanian), Zhanna, Ivanna (Russian), Jean, Sìne, Jessie, Teasag (Scottish), Ivana, Jovana (Serbian), Jana (Slovak), Ivana, Jana (Slovene), Juana (Spanish), Janina, Janna, Johanna, Jannicke, Jannike (Swedish), Siân (Welsh)

 

Sumber: https://www.carmelia.net/index.php/artikel/riwayat-para-kudus/343-st-yohanes-don-bosco-pelindung-kaum-muda dan https://katakombe.org/para-kudus/januari/yohanes-bosco.html

No Comments

Leave a Comment