Senin, 01 Juni 2020 – PW Santa Perawan Maria, Bunda Gereja

Rm. Thomas Suratno SCJ dari Komunitas SCJ St. Stefanus Cilandak Jakarta – Indonesia

 

BACAAN PERTAMA: Kejadian 3:9-15.20

“Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan wanita itu.”

Pada suatu hari, di Taman Eden,
setelah Adam makan buah pohon terlarang,
Tuhan Allah memanggil manusia itu
dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?”
Ia menjawab,
“Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini,
aku menjadi takut, karena aku telanjang;
sebab itu aku bersembunyi.”
Lalu Tuhan berfirman,
“Siapakah yang memberitahukan kepadamu,
bahwa engkau telanjang?
Apakah engkau makan dari buah pohon,
yang Kularang engkau makan itu?”
Manusia itu menjawab,
“Perempuan yang Kautempatkan di sisiku,
dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku,
maka kumakan.”
Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu,
“Apakah yang telah kauperbuat ini?”
Jawab perempuan itu,
“Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu,
“Karena engkau berbuat demikian,
terkutuklah engkau di antara segala ternak
dan di antara segala binatang hutan!
Dengan perutmulah engkau akan menjalar,
dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu!
Aku akan mengadakan permusuhan
antara engkau dan perempuan ini,
antara keturunanmu dan keturunannya.
Keturunannya akan meremukkan kepalamu,
dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya,
sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.
Demikianlah sabda Tuhan.


ATAU BACAAN LAIN: Kisah Para Rasul 1:12-14

“Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa bersama.”

Setelah Yesus diangkat ke Surga
dari bukit yang disebut Bukit Zaitun,
kembalilah para rasul dari sana ke Yerusalem,
yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya.
Setelah tiba di kota,
naiklah mereka ke ruang atas tempat mereka menumpang.
Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes,
Yakobus dan Andreas,
Filipus dan Tomas,
Bartolomeus dan Matius,
Yakobus bin Alfeus,
Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus.
Dengan sehati mereka semua bertekun dalam doa bersama,
dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus,
dan dengan saudara-saudara Yesus.
Demikianlah sabda Tuhan.


MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 87:1-2.3.5.6-7,R:3

Refren: Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.

  1. Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya;
    Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion
    dari pada segala tempat kediaman Yakub.
    Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
  2. Aku menyebut Rahab dan Babel
    di antara orang-orang yang mengenal Aku,
    bahkan Filistea, Tirus dan Etiopia Kukatakan,
    “Ini dilahirkan di sana.”
    Tetapi tentang Sion dikatakan:
    “Tiap-tiap orang dilahirkan di dalamnya,”
    dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
  3. Pada waktu mencatat bangsa-bangsa Tuhan menghitung:
    “Ini dilahirkan di sana.”
    Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai,
    “Semua mendapatkan rumah di dalammu.”

BAIT PENGANTAR INJIL: 

U: Alleluia
S: Berbahagialah engkau, Perawan Maria yang melahirkan Tuhan; dan diberkatilah engkau, Bunda Gereja,
yang menyemangati kami dengna Roh Puteramu, Yesus Kristus.

BACAAN INJIL: Yohanes 19:25-34

“Inilah ibumu.”

Waktu Yesus bergantung di salib,
dekat salib itu berdiri ibu Yesus,
dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.
Ketika Yesus melihat ibu-Nya
dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya,
berkatalah Ia kepada ibu-Nya,
“Ibu, inilah, anakmu!”
Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya,
“Inilah ibumu!”
Dan sejak saat itu
murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.
Sesudah itu,
karena bahwa segala sesuatu telah selesai,
berkatalah Yesus
— supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci —
“Aku haus!”
Di situ ada suatu wadah penuh anggur asam.
Maka mereka mencelupkan bunga karang dalam anggur asam itu,
mencucukkannya pada sebatang hisop,
lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.
Sesudah meminum anggur asam itu,
berkatalah Yesus, “Sudah selesai!”
Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya.
Hari Yesus wafat adalah hari persiapan paskah.
Supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib,
— sebab Sabat itu adalah hari yang besar —
maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus
dan meminta kepadanya
supaya kaki orang-orang yang disalibkan itu dipatahkan
dan mayat-mayatnya diturunkan.
Maka datanglah prajurit-prajurit,
lalu mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain
yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus.
Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus,
dan melihat bahwa Ia telah mati,
mereka tidak mematahkan kaki-Nya.
Tetapi salah seorang dari prajurit itu
menikam lambung Yesus dengan tombak,
dan segera mengalirlah darah serta air keluar.

 

Renungan dibawakan oleh Rm. Thomas Suratno SCJ

Vivat Cor Iesi, per Cor Mariae. Hiduplah Hati Kudus Yesus melalui Hati Maria 

Sahabat Resi Dehonian terkasih, jumpa kembali dengan saya, Romo Thomas Suratno, SCJ dari komunitas SCJ  Jakarta Indonesia dalam Renungan Singkat- dehonian edisi hari ini Senin, 01 Juni 2020 – Hari Biasa Pekan Biasa IX – PW SP Maria, Bunda Gereja.

Peringatan “Santa Perawan Maria Bunda Gereja” hari ini mengungkapkan Maria sebagai teladan sempurna dari seseorang yang tetap setia berdiri di dekat kayu salib sampai saat kematian Puteranya. Tindakan kasih sedemikian mengungkapkan kemauan Maria untuk menanggung pencobaan macam apa pun, kesulitan apa pun, dan penderitaan sengsara yang bagaimana pun beratnya agar dapat tetap bersama dengan Yesus, berdoa untuk-Nya, dan mendukung Dia, walaupun hal itu berarti harus menyaksikan kematian-Nya yang mengenaskan di atas kayu salib.

Bayangkan betapa pedihnya hati Maria selagi dia menyaksikan segala ketidakadilan yang menimpa Putera-Nya dan juga sekarang penderitaan-Nya di atas kayu salib. Maria hanya dapat memandang Putera-Nya dengan kesedihan yang mendalam sambil berdoa kepada YaHWeH, Allah Israel. Maria dengan setia berada di dekat salib Putera-Nya itu, darah dagingnya sendiri. Sungguh seorang ibu sejati.

Sebagaimana telah dinubuatkan oleh Simeon, hati Maria akan ditembus oleh sebilah pedang penderitaan (lihat Luk 2:35). Akan tetapi, fiat Maria “aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataan-mu” yang tanpa syarat dan karena fiat-nya yang keluar dari kedalaman hatinya, Maria mampu untuk menerima semua penderitaan yang harus ditanggungnya.

Maria berdiri tegak di bawah salib Putranya sebagai seorang yang menjadi “model” bagi kita semua dengan jawaban “ya”-nya kepada kehendak Allah secara berulang-kali, baik pada saat-saat susah maupun saat-saat penuh kegembiraan. Di bukit Kalvari Maria menunjukkan kepada kita bagaimana kita juga dapat berdiri dengan setia di dekat salib Yesus (Yoh 19:25).

Warta Injil tadi mengatakan “….di dekat salib itu berdirilah ibu Yesus dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri  Klopas dan Maria Magdalena ….” (ay 25). Maria menyaksikan putra satu satunya, yang sangat dikasihi mati tergantung disalib. Suatu peristiwa yang sangat menyedihkan, karena pada waktu itu salib adalah hukuman yang dianggap paling hina. Dalam pemahaman demikian ini, Maria melihat putranya mati bukan karena salah dan dosanya, melainkan karena fitnah. Inilah pengalaman duka yang begitu dalam.  Meski dalam suasana demikian, Maria masih sanggup berdiri, sebab gambaran ketegaran dan kekuatan iman Maria dalam menghadapi duka dan deritanya. Dia tegar karena Maria mengerti dengan baik bahwa dalam duka yang paling dalam, dan dalam derita yang tidak terkatakan, justru merupakan saat dimana kita harus berada di kaki Tuhan. Maria tegar bukan karena dirinya sendiri,  melainkan menimba kekuatan Ilahi dari salib Putranya. Terpisah jauh dari salib Tuhan, tentu kita tidak berdaya. Banyak orang mengalami duka justru lari dari Tuhan dan melupakan salib-Nya, tetapi Maria justru lari dan mendekat pada Salib Yesus.

DOA:

“Ya Bapa surgawi, kami menyerahkan setiap situasi yang kami hadapi kepada-Mu. Bunda Maria, Bunda Gereja, doakanlah kami agar tetap tabah setia seperti dirimu pada saat-saat sulit dan dalam penderitaan hidup kami. Amin.

No Comments

Leave a Comment