Jumat, 16 Februari 2024 – Hari Jumat sesudah Rabu Abu

Rm. Agustinus Riyanto SCJ dari Komunirtas SCJ Palembang Indonesia

 
 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA  — Mamur 30:11⁣

Tuhan telah mendengarkan suaraku dan berbelas kasih Tuhanlah penolongku.⁣

PENGANTAR⁣:

Pada awal Prapaskah ini, kita diingatkan akan bahaya penipuan diri. Penderitaan tetangga jauh lebih penting dari kegiatan pilihan sendiri. Menegakkan keadilan lebih diperlukan dari pres tasi matiraga Pengabdian kepada sesama menjadi pengabdian kepada Tuhan yang benar.⁣

DOA PEMBUKA⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa mahakudus.⁣ bantulah kami membarui diri dengan tobat Semoga usaha matiraga yang kami mulai dapat kami selesaikan dengan hati tulus ikhlas. Demi Yesus Kristus Putra-Mu…..⁣

ATAU:⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa mahakudus, ajarilah kami berpantang dan berpuasa seturut kehendak-Mu: berbuat amal, rukun serta bantu-membantu, agar dapat bebas dari kekuasaan jahat dan hidup dengan pantas sebagai putra dan putri Bapa yang satu dan sama. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, ..⁣

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yesaya 58:1-9a

“Berpuasa yang Kukehendaki ialah engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman.”

Beginilah firman Tuhan Allah, “Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka, dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang berlaku benar dan tidak meninggalkan hukum Allahnya mereka menanyai Aku tentang hukum-hukum yang benar. Mereka suka mendekat menghadap Allah, dan bertanya, “Kami berpuasa, mengapa Engkau tidak memperhatikannya juga?” Kami merendahkan diri, mengapa Engkau tidak mengindahkan juga?” Camkanlah! Pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi, serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan cara berpuasa seperti ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Inikah puasa yang Kukehendaki: Mengadakan hari merendahkan diri? Menundukkan kepala seperti gelagah? Dan membentangkan kain sarung serta abu sebagai lapik tidur? Itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada Tuhan? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah: Engkau harus membuka belenggu-belenggu kelaliman dan melepaskan tali-tali kuk; membagi-bagikan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah; dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian, dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar, dan lukamu akan pulih dengan segera. Kebenaran menjadi barisan depanmu, dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan Tuhan akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia berkata: Ini Aku!”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 51:3-4.5-6a.18-19

Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.
Atau: Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah. 

  1. Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.

  2. Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau, terhadap Engkau sendirilah aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.

  3. Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur. Hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

BAIT PNGANTAR INJIL:

U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
S : (Am 5:14) Carilah yang baik dan jangan yang jahat, supaya kamu hidup, dan Allah akan menyertai kamu.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 9:14-15

“Mempelai itu akan diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”

Sekali peristiwa datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus, dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Agustinus Riyanto SCJ

Vivat Cor Jesu per Cor Maria. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria. 

Pencinta Resi terkasih, Selamat memasuki Retret Agung Pra-Paskah melalui Pantang dan puasa. Sudah biasa kita menjalankan pantang dan puasa, namun cara kita umat katolik berpuasa ternyata menimbulkan aneka Tanya dari mereka yang tidak Katolik. Apakah orang katolik juga berpuasa? Mengapa puasa katolik begitu mudah? Kok tidak kelihatan kalau puasa? Kita pun sering saling bertanya; Eh pantang apa? Makan kenyangnya pagi apa siang atau sore? Boleh nggak ya, puasa seperti orang-orang non katolik berpuasa? Lho kamu puasa kok masih makan atau melakukan ini dan itu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut hampir senada dengan pertanyaan murid Yohanes kepada Yesus yang masih mengedepankan aspek kewajiban, tradisi dan formalitas dalam puasa.

Saudara saudariku, penting kiranya bagi kita untuk mampu membedakan antara  tujuan hidup dan sarana guna mencapai tujuan itu. Dalam kenyataan, banyak orang memang mengalami kesulitan untuk memilah kedua hal tersebut, sehingga dalam prakteknya, sering apa yang seharusnya menjadi sarana justru dimengerti dan diperjuangkan sebagai tujuan. Begitu juga dengan puasa yang menjadi tema bacaan Injil hari ini. Puasa itu tujuan atau sarana? Orang yang menghayati puasa sebagai tujuan akan berjuang mati-matian dengan menyingkirkan segala sesuatu yang bisa membuat puasanya tidak lancar. Ia tidak peduli dengan orang lain, termasuk kalau perlu menutup warung-warung makan agar tidak mengganggu konsentrasinya dalam berpuasa. Berbeda halnya dengan orang yang menjalani puasa sebagai sarana. Puasa olehnya dilihat sebagai jalan untuk mati raga, mengosongkan diri, mengalahkan ego, agar ia dapat semakin dekat dengan Tuhan dan semakin mampu mencintai sesama.  

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus memperjelas dan mempertegas makna puasa kepada orang-orang yang mempertanyakannya. Murid-murid Yohanes yang melihat puasa secara legalis menjalankan puasa sebagai tujuan. Tidak peduli apa makna dan tujuan puasa, pokoknya dijalankan saja! Banyak orang zaman sekarang masih berpandangan seperti itu. Karenanya, Yesus di sini menegaskan bahwa perjumpaan dan relasi dengan Tuhan jauh lebih utama daripada aturan puasa. Manusia bukan untuk Sabat, melainkan Sabat untuk manusia!

Saudara-saudari yang terkasih, selama masa Prapaskah ini, kita sebagai umat kristiani menjalankan pantang dan puasa. Tidak sedikit dari kita yang jatuh dalam pandangan bahwa pantang dan puasa sebatas kewajiban belaka. Makna dan tujuannya dilupakan, sehingga malah dipakai untuk menghakimi orang lain yang tampaknya tidak berpuasa. Sekali lagi, puasa bukanlah tujuan. Puasa adalah sarana dan kesempatan bagi kita agar semakin mampu menguasai ego dan nafsu, sehingga semakin dapat mengandalkan Tuhan dan mencintai sesama. Kritik terhadap tindakan atau aksi puasa orang-orang Yahudi ini disampaikan kepada kita melalui warta Nabi Yesaya dalam bacaan pertama (Yesaya 58:1-9a); “Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetap mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukul dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yesaya 58:3c-4).

Yesus mengajarkan makna dan tujuan terpenting puasa-pantang, bahwa kita diajak untuk semakin menunjukkan kasih kepada sesama: berbagi sukacita, perlindungan yang nyaman dan penyembuhan (pengampunan) dalam hidup bersama. Yesus tidak ingin puasa-pantang menjadi semangat egosentris agar orang melihat betapa sucinya kita. Namun melalui tindakan yang nyata dan sederhana kepada sesama, orang bisa melihat dan mengenal betapa baiknya Allah yang kita imani. Puasa seharusnya bukan sekedar menahan lapar dan haus melainkan membawa orang yang berpuasa untuk menyadari bahwa dirinya membutuhkan Allah. Puasa seharusnya bukan sekedar keinginan untuk mengendalikan berat badan melainkan membawa seseorang semakin mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Puasa merupakan pintu masuk bagi seseorang untuk semakin peka terhadap kehendak Allah dan semakin peka dengan situasi orang-orang di sekitarnya. Puasa seharusnya menjadikan orang yang berpuasa itu lebih manusiawi, menjadi manusia yang yang sesungguhnya, menjadi manusia yang berakal dan berbudi. Puasa seyogyanya membawa manusia itu kembali pada gambaran semula, yakni gambaran yang serupa dengan Allah. Selamat Bertobat melalaui Pantang dan Puasa. Tuhan memberkati.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN⁣

Allah Bapa mahakudus, semoga usaha tobat kami menjadikan kami layak di hadapan-Mu dan memberi kami kesanggupan untuk semakin mampu menguasai diri kami. Demi Kristus, ….⁣

ATAU:

Allah Bapa mahakudus, bersihkanlah kami dari noda-noda dosa berkat roti anggur ini, berkat Yesus, Putra-Mu terkasih, yang telah membela kami dengan melaksanakan kehendak Mu dan kini hidup dan bertakhta sepanjang segala masa.⁣

ANTIFON KOMUNI   —  Mazmur 25:4⁣

Tunjukkanlah jalan-Mu kepada kami, ya Tuhan, dan ajarkanlah hukum-Mu kepada kami.⁣

DOA SESUDAH KOMUNI: 

Marilah berdoa: Allah Bapa mahakuasa, semoga perayaan Ekaristi ini membersihkan kami dari segala kesalahan, agar kami layak menerima kerahiman-Mu. Demi Kristus, .⁣

ATAU: ⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa tujuan hidup kami, kami bersyukur, sebab Putra-Mu telah sudi menjadi jalan hidup kami. Perkenankanlah kami selalu siap sedia menjadi rezeki bagi yang kelaparan, dan membahagiakan sesama dengan semangat pengorbanan diri kami. Demi Kristus, …⁣

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

1 Comment

Leave a Comment