Rabu, 04 Februari 2026 – Hari Biasa Pekan IV

Rm. Aegidius Warsito SCJ dari Komunitas SCJ Toronto Kanada

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Mazmur 32:1-2

Berbahagialah orang yang dosa pelanggarannya diampuni dan ditutupi, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan.

PENGANTAR :

Kesalahan Daud ialah karena ia terlalu mengandalkan kekuatan sendiri. Itu pula kerap kali menjadi kesalahan kita karena berhasil menemukan kemungkinan lebih banyak. Namun, Tuhan tidaklah langsung bertindak, bila kita sudah sampai ke batas kemampuan kita. Ia berkarya dalam kebiasaan sehari-hari. Para tetangga Yesus tidak bisa memahami Dia. Ia terlalu biasa. Padahal di situlah letak daya kekuatan-Nya.

DOA KOLEKTA:

Marilah bedoa: Allah Bapa maharahim, Engkau hendak memperlihatkan belas kasih-Mu kepada semua orang. Kami mohon, ampunilah kami demi nama Dia, yang datang membawa keselamatan, yaitu Yesus Kristus, Sabda penuh cinta kasih, yang hidup dan berkausa ….

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Kedua Samuel 24:2.9-17

“Akulah yang berdosa karena menghitung rakyat. Tetapi domba-domba ini, apakah yang mereka lakukan.”

Sekali peristiwa, Raja Daud berkata kepada Yoab dan para panglima tentara yang bersama-sama dengan dia, katanya, “Jelajahilah segenap suku Israel dari Dan sampai Bersyeba; adakanlah pendaftaran di antara rakyat, supaaya aku tahu jumlah mereka.” Lalu Yoab memberitakan kepada raja hasil pendaftaran rakyat. Orang Israel ada delapan ratus ribu pria yang dapat memegang pedang; dan orang Yehuda ada lima ratus ribu. Tetapi berdebar-debarlah hati Daud, setelah ia menghitung rakyat. Maka berkatalah Daud kepada Tuhan, “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini! Maka sekarang, Tuhan, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.” Setelah Daud bangun pada waktu pagi, datanglah sabda Tuhan kepada Nabi Gad, pelihat Daud, demikian, “Pergilah, katakanlah kepada Daud: Beginilah sabda Tuhan: Tiga perkara Kuhadapkan kepadamu; pilihlah salah satu daripadanya, maka Aku akan menimpakan kepadamu.” Kemudian datanglah Gad kepada Daud, memberitahukan kepadanya dengan berkata, “Pilihlah dari ketiga bencana ini: Akan terjadi tiga tahun kelaparan di negerimu? Atau engkau melarikan diri tiga bulan lamanya dari lawanmu, sementara mereka itu mengejar engkau? Atau, akan terjadi tiga hari penyakit samapr di negerimu? Sekarang, pikirkanlah dan pertimbangkanlah, jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang Mengutus aku.” Lalu berkatalah Daud kepada Gad, “Sangat susah hatiku! Biarlah kiranya kita jatuh ke dalam tangan Tuhan, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia.” Jadi Tuhan mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel dari pagi hari sampai waktu yang ditetapkan. Maka matilah dari antara bangsa itu, dari Dan sampai Bersyeba, tujuh puluh ribu orang. Ketika malaikat mengacungkan tangannya ke Yerusalem untuk memusnahkannya, menyesallah Tuhan karena malapetaka itu, lalu Ia bersabda kepada malaikat yang mendatangkan kemusnahan kepada bangsa itu, “Cukup! Turunkanlah sekarang tanganmu itu.” Waktu itu malaikat Tuhan itu ada dekat tempat pengirikan Arauna, orang Yebus. Ketika melihat malaikat yang tengah memusnahkan bangsa itu, berkatalah Daud kepada Tuhan, “Sungguh, aku telah berdosa, dan telah membuat kesalahan! Tetapi domba-domba ini, apakah yang mereka lakukan? Biarlah kiranya tangan-Mu menimpa aku dan kaum keluargaku.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 32:1-2.5-7

Ref. Ya Tuhan, ampunilah semua dosa kesalahanku.

  1. Berbahagialah orang yang pelanggarannya diampuni dan dosa-dosanya ditutupi! Berbahagialah orang yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan tidak berjiwa penipu!

  2. Akhirnya dosa-dosaku kuungkapkan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata, “Aku akan menghadap Tuhan.” Maka Engkau sudah mengampuni kesalahanku.

  3. Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi ditimpa kesesakan; kendati banjir besar terjadi ia tidak akan terlanda.

  4. Engkaulah persembunyian bagiku, ya Tuhan! Engkau menjagaku terhadap kesesakan. Engkau melindungi aku, sehingga aku luput dan bersorak.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya
S : Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengikuti Aku.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Suci menurut Markus 6:1-6

“Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri.”

Pada suatu ketika, Yesus tiba kembali di tempat asal-Nya, sedang murid-murid-Nya mengikuti Dia. Pada hari Sabat Yesus mengajar di rumah ibadat, dan jemaat yang besar takjub ketika mendengar Dia. Mereka berkata, “Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu? Hikmat apa pulakah yang diberikan kepada-Nya? Dan mukjizat-mukjizat yang demikian, bagaimanakah dapat diadakan oleh tangan-Nya? Bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria? Bukankah Ia saudara Yakobus, Yoses, Yudas dan Simon? Dan bukankah saudara-saudara-Nya yang perempuan ada bersama kita?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” Maka Yesus tidak mengadakan satu mukjizat pun di sana, kecuali menyembuhkan beberapa orang sakit dengan meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia merasa heran atas ketidakpercayaan mereka. Lalu Yesus berjalan keliling dari desa ke desa sambil mengajar.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Aegidius Warsito SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Maria. Hiduplah Hati Yesus Melalui Hati Maria.

Jumpa lagi saudara-saudari pendengar Resi Dehonian bersama saya: Rm. Aegidius Warsito SCJ, dari Komunitas SCJ Toronto Kanada, di dalam Resi: renungan singkat Dehonian edisi hari Rabu Pekan Biasa yang ke 4. Mari kita baca bersama perikopa pada hari ini yang diambil dari Injil Markus 6:1-6.

Para pendengar Resi Dehonian yang budiman, saya yakin kita semua mempunyai pengalaman pernah ditolak oleh orang lain dan pada saat kejadian itu tidak mudah bagi kita untuk menerimanya. Ya…. Penolakan adalah situasi yang sulit untuk dihadapi. Bayangkan saja kita pergi berlibur ke kampung halaman dalam kondisi orang yang sukses atau sudah lama tidak pulang. Tentu saja kita mengharapkan sambutan terbaik yang pernah kita dapatkan. Kita mengharapkan kerabat dan teman-teman kita memperlakukan kita dengan penuh kasih sayang dan kita mengharapkan semua orang menyayangi kita. Akan tetapi yang terjadi justru kita menerima sambutan yang berbeda, bagaimana perasaan kita? Tentu saja kita akan merasa sedih, bayangkan saja ditolak di tanah kelahiran kita sendiri.

Dalam Injil yang baru saja kita dengarkan,  Yesus ditolak oleh orang sekampung-Nya di Nazaret. Pertanyaannya: bagaimana Yesus menghadapi penolakan orang-orang sekampung-Nya ini?

Yesus menerimanya dengan rendah hati. Ia tidak meninggikan suara. Ia tidak  marah kepada siapa pun yang ada di sana. Sebenar-Nya, Yesus bisa saja melakukan sesuatu yang jahat dan memusuhi mereka, akan tetapi Ia tidak melakukannya. Sebaliknya, Ia tetap melakukan pelayanan-Nya dengan menyembuhkan beberapa orang sakit, dan tentu saja Ia bisa saja melakukan lebih banyak mukjizat di Nazaret akan tetapi situasinya orang sedang menolak dan menghina-Nya.

Para pendengar Resi Dehonian yang budiman, dari peristiwa ini, kita diajak untuk belajar bagaimana sikap kerendahan hati Yesus dalam mengatasi kejadian penolakan ini. Karena dalam pengalaman yang kita hadapi, kita sering menghadapi peristiwa penolakan dengan sikap kesombongan yang ada dalam diri kita. Ambil contoh di rumah kita masing-masing, biasanya kita akan merasa sedih dan marah-marah ketika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan (apa pun itu!).

Oleh karena itu, marilah kita menerima dengan rendah hati setiap penolakan yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari. Jangan pernah bereaksi dengan kesombongan karena itu tidak pantas dilakukan dan akan menimubulkan masalah baru(pertengkaran, permusuhan dan bahkan penganiayaan atau pembunuhan yang mestinya tidak perlu terjadi). Orang lain akan lebih menghormati dan mengagumi kita jika kita bersikap tenang dan rendah hati di tengah penolakan yang kita terima.

Maka untuk menutup permenungan ini, marilah kita bertanya pada diri kita sendiri: apakah kita bisa, seperti Yesus, menerima penolakan dari orang lain bahkan orang yang kita cintai atau hormati dengan sikap rendah hati dan ketenangan? Apa yang kita butuhkan saat ini agar kita memiliki keutamaan ini dalam kehidupan konkrit dan sehari-hari?

Para pendengar Resi Dehonian yang budiman, semoga bacaan hari dapat membantu kita untuk berkembang dalam kerendahan hati manakala adanya penolakan dari orang sekitar kita.

Akhir kata, semoga kasih Tuhan memberkati langkah dan perjuangan hidup kita di sepanjang hari ini, dan semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati kita semua. Amin

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:

Allah Bapa mahabijaksana, semoga kami menikmati kebijaksanaan-Mu dalam roti anggur ini; perkenankanlah kami menyadari bahwa hidup itu mati karena Yesus Putra-Mu, yang ….

ANTIFON KOMUNI – Mazmur 32:1

Berbahagialah orang bila dosanya diampuni, dan kesalahannya dihapus oleh Tuhan.

DOA SESUDAH KOMUNI:

Marilah berdoa: Allah Bapa mahabijaksana, kami bersyukur atas kebijaksanaan yang Kaucurahkan kepada kami berkat sabda Yesus, Putra-Mu terkasih, yang ….

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

4 Comments

  • Epin Roma Februari 4, 2026 at 3:58 am

    Terima kasih Romo Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

    Reply
  • Firmus dega Februari 4, 2026 at 9:34 am

    Makasih Romo

    Reply
  • Erasmus Nabit Februari 4, 2026 at 10:23 am

    Terimakasih Romo atas renungannya hari ini. Hampir setiap hari saya berusaha mengikuti renungan resi . Semoga terus berbuah bagi mereka yg tekun mendengarkan Sabda Tuhan.

    Reply
  • Gabriel Februari 4, 2026 at 6:32 pm

    Terima kasih Romo

    Reply

Leave a Comment