
Rm Rafael Sudibyo SCJ dari Komunitas SCJ Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari Belitang Sumatera Selatang – Indonesia
AUDIO RESI:
ANTIFON PEMBUKA – Kebijaksanaan 11:24.25.27
Engkau mengasihi segala yang ada, ya Tuhan, dan tidak membenci apa pun yang telah Kauciptakan, Engkau tidak lagi memperhitungkan dosa manusia apabila mereka bertobat. Engkau berbelas kasih kepada mereka sebab Engkaulah Tuhan, Allah kami.
PENGANTAR:
Kerap kali kita tangguhkan apa yang kini dapat kita lakukan. Hari esok saja! Tetapi untuk bertobat, hari esok sudah terlambat! Siapa pun yang mengatakan itu, membawa pesan Allah kepada kita, entah itu dikatakan oleh para nabi dan para rasul, entah oleh majikan kita atau pun malahan anak-anak kita, entah pula anjuran para penguasa atau Sri Paus sendiri.
Bila kita mau memberikan dengan tulus hati kepada Allah dan manusia, apa yang menjadi haknya, maka kita harus mendengarkan suara ini dengan ikhlas dan bertobat kepada Tuhan. Maka kita harus mau berjuang demi keadilan dan kedamaian: berdoa, berpantang, berpuasa dan beramal, bukan agar dilihat dan dipuji orang, melainkan agar berkenan di hati Allah, pengasih dan penyayang, yang menyelami batin kita sedalam-dalamnya.
(doa tobat ditiadakan, diganti dengan penerimaan abu sesudah homili)
DOA KOLEKTA:
Marilah bedoa: Allah Bapa kami yang mahabaik, sungguh besar kesabaran-Mu dan kerahiman-Mu. Kami mohon dengan rendah hati perkenankanlah kami bertobat benar-benar kepada-Mu dan membuka pintu hati kami lebar-lebar untuk menerima sabda penebusan-Mu dalam masa Prapaska yang khidmat ini. Amin
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Nubuat Yoel 2:12-18
“Koyakkan hatimu dan janganlah pakaianmu.”
“Sekarang juga,” demikianlah firman TUHAN, “berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.” Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya.
Siapa tahu, mungkin Ia mau berbalik dan menyesal, dan ditinggalkan-Nya berkat, menjadi korban sajian dan korban curahan bagi TUHAN, Allahmu.Tiuplah sangkakala di Sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah perkumpulan raya; kumpulkanlah bangsa ini, kuduskanlah jemaah, himpunkanlah orang-orang yang tua, kumpulkanlah anak-anak, bahkan anak-anak yang menyusu; baiklah penganten laki-laki keluar dari kamarnya, dan penganten perempuan dari kamar tidurnya; baiklah para imam, pelayan-pelayan TUHAN, menangis di antara balai depan dan mezbah, dan berkata: “Sayangilah, ya TUHAN, umat-Mu, dan janganlah biarkan milik-Mu sendiri menjadi cela, sehingga bangsa-bangsa menyindir kepada mereka. Mengapa orang berkata di antara bangsa: Di mana Allah mereka?” Maka, TUHAN menjadi cemburu karena tanah-Nya, dan Ia menaruh belas kasihan kepada umat-Nya.
Demikianlah sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.
MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 51:3-4.5-6a.12-13.14-17
Ref. Ya Tuhanku, hapuskanlah dosaku. Atau Mohon ampun kami orang berdosa.
-
Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu; menurut besarnya rahmat-Mu hapuskanlah pelanggaranku. Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku.
-
Sebab aku sadar akan pelanggaranku, dosaku selalu terbayang di hadapanku. Terhadap Engkau sendiri aku berdosa, yang jahat dalam pandangan-Mu kulakukan.
-
Ciptakanlah hati murni dalam diriku, ya Allah, dan baruilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu dan janganlah mengambil Roh-Mu yang kudus dari padaku.
-
Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Ya Tuhan, bukalah bibirku supaya mulutku mewartakan pujian kepada-Mu..
BACAAN KEDUA : Pembacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus 5:20-6:2
“Berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Sesungguhnya hari ini adalah hari penyelamatan”
Saudara-saudara, kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. Sebagai teman-teman sekerja, kami menasihatkan kamu, supaya kamu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kamu terima.
Sebab Allah berfirman: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan mendengarkan engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau.” Sesungguhnya, waktu ini adalah waktu perkenanan itu; sesungguhnya, hari ini adalah hari penyelamatan itu.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Syukur kepada Allah.
BAIT PENGANTAR INJIL Lukas 4:18-19
S: Terpujilah Kristus Tuhan, Raja Mulia dan kekal.
U: Terpujilah Kristus Tuhan, Raja Mulia dan kekal.
S: Janganlah kautegarkan hatimu; dengarkanlah suara Tuhan pada hari ini.
U: Terpujilah Kristus Tuhan, Raja Mulia dan kekal.
BACAAN INJIL : Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 6:1-6.16-18
“Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan mengganjar engkau”
Dalam kotbah di bukit, Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya, “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.
Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.
Dan apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.
Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
Demikianlah Injil Tuhan.
Terpujilah Kristus
RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Rafael Sudibyo SCJ
Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.
Para pendengar Resi Dehonian yang terkasih, selamat berjumpa kembali dengan saya, Rm. Rafael Sudibyo, SCJ, dari komunitas Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari Belitang, dalam resi – renungan singkat dehonian, edisi hari Rabu, Rabu-abu, 18 Februari 2026. Marilah kita mendengarkan sabda Tuhan; Bacaan dari Injil Suci, menurut Matius (Matius 6:1-6.16-18)
Para pendengar RESI Dehonian yang terkasih, Sering kali kita terjebak melakukan kebaikan atau ibadah supaya dianggap orang suci, orang baik, atau orang yang taat. Yesus menyebut itu sebagai upah yang sudah lunas. Artinya, kalau tujuanmu berbuat baik cuma supaya dipuji orang, ya pujian itu saja yang kamu dapat. Hubunganmu dengan Tuhan tidak bertambah satu senti pun. Di sini, Rabu Abu jadi pengingat kalau semua pujian manusia itu bakal jadi debu juga pada akhirnya. Gak ada gunanya dikejar.
Yesus menantang kita untuk melakukan gerakan “bawah tanah”. Kalau mau kasih bantuan, ya kasih saja, tidak perlu diumumkan. Kalau mau berdoa, ya masuk kamar, tidak perlu pamer kalimat-kalimat hebat di depan umum. Bahkan saat puasa, Dia minta kita tetap dandan rapi dan segar, supaya orang tidak tahu kalau kita sedang menahan lapar. Intinya, jangan pakai tampang melas cuma biar dikasihani atau dikagumi karena “kuat puasa”.
Rabu Abu melalui injil hari ini, mengajak kita untuk berhenti jadi orang yang penuh pencitraan. Ini adalah momen untuk jujur sama diri sendiri: selama ini kita beragama buat siapa? Buat pamer ke tetangga, buat merasa lebih oke dari orang lain, atau memang buat Tuhan?
Tuhan itu “Bapa yang melihat yang tersembunyi”. Dia lebih tertarik sama apa yang kamu lakukan saat tidak ada kamera atau orang lain yang melihat. Jadi, Prapaskah tahun ini bukan soal seberapa banyak aturan yang kamu centang, tapi seberapa berani kamu jadi diri sendiri yang apa adanya di hadapan Tuhan, tanpa perlu topeng kesalehan.
Semoga Hati Kudus Yesus merajai hati kita. Amin.
Para Pendengar Resi Dehonian dimanapun anda berada, semoga Tuhan selalu memberkati Langkah laku, aktivitas, dan persaudaraan diantara kita, + Dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.
PEMBERKATAN DAN PEMBAGIAN ABU:
Sudara-saudari terkasih, dengan rendah hati marilah kita mohon kepada Allah Bapa agar dengan kelimpahan rahmat-Nya Ia sudi memberkati abu ini, yang akan dioleskan pada kepala kita sebagai tanda penyesalan atas dosa.
DOA PEMBERKATAN ABU:
Marilah berdoa: Ya Allah, hati-Mu tergerak bila kami merendahkan diri, dan Engkau berkenan bila kami bertobat. Sudilah mendengarkan doa kami dengan penuh kasih, dan (Ϯ) berkatilah abu ini yang akan kami oleskan pada kepala kami. Semoga kami yang mengakui diri berasal dari abu dan akan kembali menjadi abu, tekun mengamalkan puasa Prapaskah agar kami beroleh pengampunan dosa, menghayati hidup yang baru, dan menjadi serupa dengan Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin
PEMBAGIAN ABU:
Bertobatlah dan percayalah kepada Injil
Atau:
Ingatlah, Engkau ini abu dan akan kembali menjadi abu.
SYAHADAT DITIADAKAN:
DOA UMAT:
I : Doa, tobat, dan tolong-menolong mestinya dilakukan secara bersamaan. Pada awal masa penuh rahmat ini, marilah mempersembahkan kepada Bapa kita di surga keinginan kita untuk memperbaharui diri kita, Gereja kita, serta masyarakat. Marilah berseru kepada Tuhan …
U : Kasihanilah umat-Mu, ya Tuhan.
L : Bagi semua orang kristiani: Ya Bapa, semoga dalam masa tobat ini semua orang kristiani mencari perdamaian dan persatuan. Semoga seluruh umat kristiani semakin sanggup saling melayani dengan rendah hati. Marilah berseru kepada Tuhan …
U : Kasihanilah umat-Mu, ya Tuhan.
L : Bagi para penguasa di dunia ini : Ya Bapa, semoga para penguasa berusaha dengan tak kenal lelah untuk menegakkan perdamaian di antara bangsa-bangsa. Semoga mereka membangun kehidupan sosial atas dasar keadilan, dan meningkatkan martabat manusia di mana-mana. Marilah berseru kepada Tuhan …
U : Kasihanilah umat-Mu, ya Tuhan.
L : Bagi mereka yang terperangkap dalam dosa dan keputusasaan: Ya Bapa, semoga mereka berdosa dan putus asa berdamai lagi dengan Allah, dengan diri sendiri dan dengan sesama manusia. Marilah berseru kepada Tuhan …
U : Kasihanilah umat-Mu, ya Tuhan.
L : Bagi mereka yang kurang peka terhadap orang lain: Ya Bapa, semoga mereka yang kurang memperhatikan kepentingan orang lain menemukan kembali sesama mereka; bagi mereka yang sakit jiwa atau badannya, dan bagi mereka yang merasa dikhianati oleh sahabat: semoga mereka semua tetap percaya kepada Allah dan sesama, Marilah berseru kepada Tuhan …
U : Kasihanilah umat-Mu, ya Tuhan.
L : Bagi kita sendiri: Ya Bapa, semoga mata dan hati kami selalu terbuka terhadap suara kaum kecil, miskni, serta mereka yang diperas. Semoga kami dapat memulihkan harga diri dan hak-hak mereka. Marilah berseru kepada Tuhan …
U : Kasihanilah umat-Mu, ya Tuhan.
I : Tuhan Allah kami, dalam Masa Prapaskah empat pulu hari, Engkau selalu memberi kesempatan baru kepada kami untuk lebih maju dalam cinta kepada-Mu dan kepada sesama kami. Tolonglah kami untuk hidup dalam Roh Yesus Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa, kin dan sepanjang masa. Amin
DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:
Ya Allah, pada awal Masa Prapaskah ini, seluruh umat-Mu mempersembahkan kurban ini kepada-Mu. Semoga kami mengekang keinginan jahat dengan usaha tobat dan karya cinta kasih, dan setelah diberihkan dari dosa-dosa, buatlah kami pantas merayakan kenangan akan sengsara Putra-Mu, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin
ANTIFON KOMUNI – Bdk Mazmur 1:2-3
Siapa saja yang merenungkan hukum Tuhan siang mala, akan menghasilkan buah pada waktunya.
DOA SESUDAH KOMUNI:
Marilah berdoa: Ya Allah, semoga sakaremen yang kami terim ini membantu kami agar puasa yang kami jalankan berkenan kepada-Mu dan berguna bagi keselamatan kami. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa sepanjang segala masa. Amin
DOWBLOAD AUDIO RESI:
Resi-Rabu Abu 18 Februari 2026 oleh Rm Rafael Sudibyo SCJ dari Komunitas SCJ Paroki Para Rasul Kudus Tegalsari Belitang Sumatera Selatang – IndonesiaUnduh
PESAN PAUS LEO XIV
UNTUK MASA PRAPASKAH 2026
Mendengarkan dan Berpuasa
Masa Prapaskah sebagai Waktu Pertobatan
Saudara-saudari terkasih!
Masa Prapaskah adalah waktu ketika Gereja, dengan kasih dan kepedulian seorang ibu, mengundang kita untuk menempatkan kembali misteri Allah sebagai pusat hidup kita. Dengan begitu, iman kita mendapat semangat baru, dan hati kita tidak tercerai-berai oleh kegelisahan serta berbagai gangguan setiap hari.
Setiap perjalanan pertobatan dimulai ketika kita membiarkan diri disentuh oleh Sabda Allah dan menerima-Nya dengan rendah hati dan terbuka. Karena itu, ada hubungan yang erat antara anugerah Sabda Allah, ruang yang kita sediakan bagi-Nya, dan perubahan yang dikerjakan-Nya dalam diri kita. Maka, perjalanan Prapaskah menjadi kesempatan yang tepat untuk membuka telinga pada suara Tuhan dan memperbarui keputusan untuk mengikuti Kristus—menempuh jalan menuju Yerusalem bersama Dia, tempat misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya digenapi.
Mendengarkan
Tahun ini saya ingin pertama-tama menegaskan betapa pentingnya memberi ruang bagi Sabda Allah lewat mendengarkan, sebab kesediaan untuk mendengarkan adalah tanda pertama bahwa kita ingin membangun relasi dengan sesama.
Allah sendiri, ketika mewahyukan diri kepada Musa dari semak yang menyala, menunjukkan bahwa mendengarkan adalah ciri khas diri-Nya: «Aku telah memperhatikan kesengsaraan umat-Ku di tanah Mesir. Aku telah mendengar teriakan mereka» (Kel 3:7). Mendengarkan jerit orang yang tertindas menjadi awal sebuah kisah pembebasan. Dalam kisah itu, Tuhan juga melibatkan Musa: Ia mengutusnya untuk membuka jalan keselamatan bagi anak-anak-Nya yang diperbudak.
Allah adalah Allah yang terlibat—dan hari ini Ia juga menjangkau kita melalui pikiran-pikiran yang membuat hati-Nya “bergetar”. Karena itu, mendengarkan Sabda dalam liturgi mendidik kita untuk lebih peka dan lebih jujur dalam mendengarkan kenyataan hidup. Di tengah banyak suara dalam kehidupan pribadi dan masyarakat kita, Kitab Suci membuat kita mampu mengenali suara yang muncul dari penderitaan dan ketidakadilan, agar suara itu tidak dibiarkan tanpa jawaban. Masuk ke dalam sikap batin yang terbuka ini berarti membiarkan diri diajar Allah untuk mendengarkan seperti Dia, sampai kita menyadari bahwa «keadaan orang miskin adalah jeritan yang, dalam sejarah manusia, terus-menerus menggugah hidup kita, masyarakat kita, sistem politik dan ekonomi, dan—tidak kalah penting—juga Gereja».[1]
Berpuasa
Jika Prapaskah adalah waktu untuk mendengarkan, maka puasa adalah praktik nyata yang menolong kita siap menerima Sabda Allah. Pantang dari makanan adalah latihan rohani yang sangat tua, dan tetap penting serta tak tergantikan dalam perjalanan pertobatan. Justru karena melibatkan tubuh, puasa membuat kita lebih sadar: apa yang sesungguhnya kita “lapari”, dan apa yang kita anggap paling penting untuk menopang hidup.
Puasa menolong kita membedakan dan menata “selera” atau dorongan-dorongan dalam diri, menjaga tetap hidup lapar dan haus akan keadilan, serta menjauhkannya dari sikap pasrah. Puasa juga mendidik dorongan tersebut agar berubah menjadi doa dan menjadi tanggung jawab nyata terhadap sesama.
Santo Agustinus, dengan kepekaan rohani, menunjukkan ketegangan antara hidup sekarang dan pemenuhannya kelak, ketika ia berkata: «Dalam hidup di dunia ini manusia lapar dan haus akan keadilan; tetapi dipuaskan sepenuhnya adalah bagian dari hidup yang lain. Para malaikat kenyang oleh roti ini, oleh makanan ini; sedangkan manusia lapar akan itu, seluruhnya terarah dalam kerinduan kepadanya. Kerinduan yang terus terarah itu meluaskan jiwa, menambah daya tampungnya».[2] Bila dipahami demikian, puasa bukan hanya mendisiplinkan keinginan dan memurnikannya agar lebih bebas, tetapi juga meluaskan keinginan itu—supaya tertuju kepada Allah dan mendorong kita berbuat baik.
Namun, agar puasa tetap setia pada kebenaran Injil dan tidak jatuh pada godaan untuk menyombongkan diri, puasa harus selalu dijalani dalam iman dan kerendahan hati. Puasa menuntut kita tetap berakar dalam persekutuan dengan Tuhan, sebab «orang tidak benar-benar berpuasa bila ia tidak tahu “makan” dari Sabda Allah».[3] Sebagai tanda yang tampak dari tekad batin untuk menjauh—dengan pertolongan rahmat—dari dosa dan kejahatan, puasa juga perlu mencakup bentuk-bentuk pengurangan lain, agar kita belajar hidup lebih sederhana. Sebab «hanya hidup yang asketis dan sederhana yang membuat hidup kristiani menjadi kuat dan autentik».[4]
Karena itu saya ingin mengajak Anda pada bentuk pantangan yang sangat konkret, tetapi sering kurang dihargai: pantang dari kata-kata yang menyakiti dan melukai sesama. Mari kita mulai “melucuti senjata” bahasa kita: meninggalkan kata-kata tajam, penilaian yang terlalu cepat, kebiasaan membicarakan keburukan orang yang tidak hadir dan tidak bisa membela diri, serta fitnah. Sebaliknya, marilah kita belajar menimbang kata-kata dan membiasakan kelembutan: di keluarga, di antara teman, di tempat kerja, di media sosial, dalam debat politik, di media massa, dan di komunitas-komunitas kristiani. Dengan begitu, banyak kata kebencian akan digantikan oleh kata-kata harapan dan damai.
Bersama
Akhirnya, Prapaskah menonjolkan dimensi kebersamaan dalam mendengarkan Sabda dan menjalankan puasa. Kitab Suci menegaskan ini dengan banyak cara. Misalnya, dalam Kitab Nehemia dikisahkan bahwa umat berkumpul untuk mendengarkan pembacaan kitab Taurat secara terbuka; dan sambil berpuasa, mereka mempersiapkan diri untuk pengakuan iman dan penyembahan, demi memperbarui perjanjian dengan Allah (bdk. Neh 9:1–3).
Demikian juga paroki-paroki, keluarga-keluarga, kelompok-kelompok gerejawi, dan komunitas-komunitas religius dipanggil untuk menjalani dalam Prapaskah suatu perjalanan bersama. Dalam perjalanan itu, mendengarkan Sabda Allah—juga mendengarkan jeritan orang miskin dan jeritan bumi—harus menjadi bentuk hidup bersama; dan puasa harus menopang pertobatan yang sungguh nyata. Dalam cakrawala ini, pertobatan tidak hanya menyangkut suara hati pribadi, tetapi juga gaya relasi, kualitas dialog, kemampuan membiarkan diri “ditanya” oleh kenyataan, serta kemampuan mengenali apa yang benar-benar mengarahkan keinginan kita—baik dalam komunitas Gereja maupun dalam kemanusiaan yang haus akan keadilan dan rekonsiliasi.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita memohon rahmat agar Prapaskah ini membuat telinga kita lebih peka kepada Allah dan kepada mereka yang paling kecil dan tersisih. Marilah kita memohon kekuatan untuk berpuasa yang juga menyentuh lidah, supaya kata-kata yang melukai berkurang dan ruang bagi suara orang lain bertambah. Dan marilah kita berkomitmen agar komunitas kita menjadi tempat di mana jeritan orang yang menderita diterima, dan agar mendengarkan melahirkan jalan-jalan pembebasan—sehingga kita semakin siap dan sigap ikut membangun peradaban kasih.
Dengan segenap hati saya memberkati Anda semua dan perjalanan Prapaskah Anda.
Vatikan, 5 Februari 2026, peringatan Santa Agata, perawan dan martir.
PAUS LEO XIV
[1] Anjuran Apostolik Dilexi te (4 Oktober 2025), no. 9.
[2] St. Agustinus, Manfaat Puasa, 1, 1.
[3] Benediktus XVI, Katekese (9 Maret 2011).
[4] St. Paulus VI, Katekese (8 Februari 1978).
Sumber: https://www.dokpenkwi.org/pesan-paus-leo-xiv-untuk-masa-prapaskah-2026/

Makasih Romo
Terimkasih Romo semoga saya semakin menyadari sabaqgai manusia yang rapuh tanpa Allah tidak ada artinya dan dapat berpatang dalam perbuatan yang tidak di kehendaki Tuhan