Minggu, 01 Maret 2026 – Hari Minggu Prapaskah II

Rm Antonius Tugiyatno SCJ dari komunitas Kokonao Timika Papua – Indonesia

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – bdk. Mazmur 27:8-9

Kepada-Mu, ya Tuhan, hatiku berkata, “Kucari wajah-Mu.” Wajah-Mu kucari, ya Tuhan, janganlah memalingkan muka daripadaku.

PENGANTAR:

Untuk menuju kemuliaan, Yesus harus menanggung penderitaan dahulu. Yesus telah memberikan contoh bagaimana kesengsaraan dan maut ditanggung-Nya demi keselamatan kita. Seandainya orang mampu menanggung kesulitan, atau bahkan kesengsaraan dengan setia, semoga juga dapat mengalami kemuliaan sebagaimana Yesus yang mulia. Orang dianugerahi wajah kemuliaan-nya. Adalah penggilan kita juga pada Masa Prapaskah ini ikut serta dalam penderitaan Kristus; dengan begitu kita juga dimampukan untuk membawa kegagalan dan penderitaan sebagai bagian dari olah kesetiaan iman kita.

SERUAN TOBAT:

I : Tuhan Yesus Kristus, Abraham telah diminta meninggalkan tanah air dan harta miliknya sebagai permulaan usaha penyelamatan oleh-Mu. Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.

I : Engkau telah menunjukkan jalan penderitaan sebagai jalan yang benar menuju kemuliaan sejatai. Kristus, kasihanilah kami.

U : Kristus, kasihanilah kami

I : Engkau telah menunjukkan salib sebagai cahaya kedamaian dan kebahagiaan. Tuhan, kasihanilah kami.

U : Tuhan, kasihanilah kami.

DOA KOLEKTAN:

Marilah bedoa: Allah Bapa Yang Mahamulia, Engkau telah memaklumkan kepada kami bahwa Yesus Kristus adalah Putra-Mu terkasih. Ajarilah kami untuk selalu mendengarkan dan melaksanakan Sabda-Nya dan berilah kami pengertian akan misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya demi keselamatan kami. Sebab, Dialah Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Kejadian 12:1-4a

“Panggilan Abraham, bapa Umat Allah.”

Di negeri Haran Tuhan bersabda kepada Abram, “Tinggalkanlah negerimu, sanak saudaramu dan rumah bapamu ini, dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau. Dan segala kaum di muka bumi akan menerima berkat karena engkau.” Maka berangkatlah Abram sesuai dengan sabda Tuhan.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 33:4-5.18-19.20.22

Ref. Kasihanilah, ya Tuhan, Kaulah pengampun yang rahim, dan belas kasih-Mu tak terhingga.

  1. Firman itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

  2. Sungguh, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang bertakwa kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya. Ia hendak melepaskan jiwa mereka dari maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.

  3. Jiwa kita menanti-nantikan Tuhan, Dialah penolong dan perisai kita, kasih setia-Mu ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

BACAAN KEDUA: Bacaan dari Surat Kedua Rasul Paulus kepada Timotius 1:8b-10

“Allah memanggil kita dan mendatangkan hidup.”

Saudaraku terkasih, berkat kekuatan Allah, ikutlah menderita bagi Injil Yesus! Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri. Semua ini telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman, dan semua itu sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus. Dengan Injil-Nya Kristus telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
S : (Mrk 9:6) Dari awan terdengarlah suara Bapa, “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 17:1-9

“Wajah-Nya bercahaya seperti matahari.”

Sekali peristiwa Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka: Wajah-Nya bercahaya seperti matahari, dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang. Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Sementara Petrus berkata begitu, tiba-tiba turunlah awan yang terang menaungi mereka, dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid Yesus dan mereka sangat ketakutan. Lalu Yesus datang kepada mereka. Ia menyentuh mereka sambil berkata, “Berdirilah, jangan takut!” Dan ketika mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri. Pada waktu mereka turun dari gunung, Yesus berpesan kepada mereka, “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Antonius Tugiyatno SCJ d

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Saudara–saudari sahabat Resi Dehonian yang dikasihi oleh Tuhan, kita berjumpa kembali dalam Resi renungan singkat Dehonian edisi Minggu Prapaskah II, 1 Maret 2026. Bersama saya Romo Antonius Tugiyatno SCJ dari komunitas Kokonao Timika Papua. Kita akan mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan dari Injil Matius 17: 1-9. Marilah kita memulainya dengan membuat tanda kemenangan Tuhan, dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kuduss, amin.

Saudara saudari yang dikasihi oleh Tuhan Ada sebuah peribahasa dari Jepang: “Setelah mendaki gunung yang tinggi, seseorang baru mengerti luasnya dunia.” Pendakian bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin. Semakin tinggi seseorang naik, semakin ia melihat dengan perspektif yang berbeda lebih luas, lebih jernih, dan lebih dalam. Demikian pula para murid yang diajak Yesus naik ke gunung. Mereka tidak hanya mendaki secara fisik, tetapi juga diangkat untuk melihat kemuliaan yang selama ini tersembunyi. Di atas gunung itu, mereka mengalami sesuatu yang mengubah cara pandang mereka selamanya. Maka melalui bacaan hari ini saya merenungkan dua hal demikian.

Pertama: Tuhan Menyatakan Kemuliaan-Nya pada Waktu yang Tepat

Peristiwa transfigurasi bukan terjadi secara kebetulan. Itu terjadi setelah para murid mulai mengenal siapa Yesus, tetapi sebelum mereka menghadapi penderitaan salib. Tuhan tahu kapan manusia membutuhkan peneguhan. Sering kali dalam hidup kita juga berada dalam situasi gelap misalnya pelayanan yang berat, perjalanan hidup yang melelahkan, atau ketidakpastian masa depan. Namun seperti para murid, kita juga sesekali diajak “naik ke gunung” mengalami momen terang: penghiburan, kedamaian, atau tanda kasih Tuhan yang begitu nyata. Masalahnya, kita sering tidak menyadari bahwa itu adalah momen rahmat. Kita menganggapnya biasa saja, padahal di situlah Tuhan sedang meneguhkan kita untuk menghadapi “turun gunung” realitas hidup yang penuh tantangan.

Kedua: Jangan Terlalu Lama Tinggal di Zona Nyaman Rohani

Ketika melihat kemuliaan itu, Petrus berkata ingin mendirikan tiga kemah. Ia ingin tinggal di sana, dalam pengalaman yang indah dan penuh damai. Barang kali hal itu pun juga bisa menjadi kecenderungan kita? Ketika mengalami doa yang khusyuk, suasana yang damai, atau pelayanan yang menyenangkan, kita ingin berhenti di situ. Kita ingin mempertahankan kenyamanan rohani itu. Namun Yesus tidak membiarkan mereka tinggal di gunung. Mereka harus turun. Sebab iman bukan hanya tentang mengalami Tuhan di dalam terang, tetapi juga setia mengikuti-Nya saat situasi gelap. Pengalaman rohani yang indah bukan tujuan akhir, melainkan bekal untuk menjalani kehidupan nyata untuk mengasihi, melayani, dan tetap setia meskipun tidak selalu merasakan kehadiran Tuhan secara emosional.

Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan, peristiwa transfigurasi mengajarkan kita bahwa dalam perjalanan iman, ada saatnya kita melihat kemuliaan Tuhan, tetapi juga ada saatnya kita harus kembali ke dunia dengan segala pergumulannya. Yang penting bukan seberapa lama kita berada di puncak, tetapi apakah kita membawa terang itu turun ke dalam kehidupan sehari-hari. Maka ketika hidup terasa berat, ingatlah: kita pernah “melihat terang”. Dan terang itu tidak pernah benar-benar hilang, ia tinggal dalam hati kita, menuntun langkah kita, sampai akhirnya kita mencapai “gunung kemuliaan” yang sejati bersama Tuhan. Semoga hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati kita.

DOA UMAT:

I : Dari dalam awan itu, terdengarlah suatu yang berkata,”Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia!” marilah kita berdoa kepada Bapa yang telah memberikan Putra-Nya yang terkasih demi keselamatan kita.

L : Bagi Gereja Allah: Ya Bapa, limpahkanlah berkat kepada umat-Mu agar semakin mampu mendengarkan Sabda Putra-Mu, Tuhan kami, Yesus Kristus. Semoga karena Kristus, kami pun dapat membantu membahagiakan serta mendamaikan segala bangsa di dunia. Marilah kita mohon..

U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

L : Bagi masyarakat kita.: Ya Bapa, terangilah masyarakat kami dengan sinar kemuliaan-Mu yang terpancar dari cinta kasih Kristus. Karena cinta kasih Kristus itu pulalh msayakat kami dapat mengusakan segala sesuatu demi kemuliaan nama-Mu dan keselamatan kami. Marilah kita mohon..

U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

L : Bagi mereka yang menderita karena Injil: Ya Bapa, dampingilah umat-Mu yang menderita karena gigih dalam mewartakan Injil. Tuntunlah mereka agar tetap mantap dan setia dalam iman, pengharapan, dan kasih akan pembebasan yang sejati di dalam Kristus, Sang Kebenaran Sejati. Marilah kita mohon…

U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

L : Bagi kita orang-orang berdosa: Ya Bapa, bimbinglah kami agar selalu dapat menempuh jalan-Mu yang benar. Bukalah hati kami untuk selalu mampu mendengarkan Sabda Kebenaran-Mu yang menyelamatkan kami. Marilah kita mohon…

U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.

I : Allah Bapa kami, dengarkanlah doa-doa kami dan berikanlah selalu kekuatan belas kasih-Mu kepada mereka yang mengandalkan kebaikan hati-Mu, dalam nama Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:

Ya Allah, terimalah persembahan yang kami hunjukkan sebagai ungkapan iman akan Yesus Kristus, Putra-Mu yang terkasih. Semoga berkat persembahan ini, hati kami Kaubuat semakin peka akan Sabda Putra-Mu, Tuhan dan Pengantara kami. Amin

ANTIFON KOMUNI – Matius 17:5

Inilah Putra-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan; dengarkanlah Dia.

DOA SESUDAH KOMUNI:

Marilah berdoa: Ya Allah Yang Mahabaik, kami bersyukur karena telah Kauperkenankan untuk menyambut Putra-Mu. Berilah kami kekuatan untuk menjalani pertobatan kami sehingga pada saatnya nanti kami Kauperkenankan untuk mengalami kemuliaan Putra-Mu yang abadi. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami. Amin.

DOWNLOAD AUDIO RESI:

3 Comments

  • Epin Roma Februari 28, 2026 at 9:16 am

    Terima kasih Romo Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

    Reply
    • Agustinus Suyatno Maret 1, 2026 at 10:22 am

      Terimakasih Romo renungan menjadikan pencerahan dalam hidup saya mau lihat dari atas dan mau turun gunung untuk berelasi dengan situasi menderita bersama Tuhan …

      Reply
  • Helena Sri Hartini Maret 1, 2026 at 6:30 am

    Terimakasih Romo Antonius. Semoga Tuhan selalu menjaga Romo dalam keadaan sehat dan tetap teguh dalam panggilan imamat. Tuhan Yesus memberkati. Amen🙏😊

    Reply

Leave a Comment