Jumat, 31 Juli 2026 – Peringatan Wajib St. Ignatius dari Loyola

Br Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia

 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Flp 2:10-11

Demi nama Yesus hendaknya setiap makhluk di surga, di bumi dan di bawah bumi bertekuk lutut. Dan demi kemuliaan Bapa hendaknya setiap lidah mengakui Yesus Kristus adalah Tuhan.

PENGANTAR :

Sebuah luka mengakhiri karier militer pemuda Bask (Spanyol) ini. Tetapi wataknya yang panas mendorong dia ke medan perjuangan iman paling depan. Bersama sahabat-sahabatnya ia mendirikan Ordo Yesuit, sebuah ordo aktif yang sampai sekarang di mana-mana menunaikan karya-karya besar ‘demi kemuliaan Tuhan’.

DOA KOLEKTA:

Marilah berdoa: Allah Bapa yang mahamulia, untuk menyebarluaskan kemuliaan nama-mu, Engkau menampilkan Santo Ignasius di tengah umat. Semoga dengan bantuan dan teladannya kami berjuang di dunia, agar memperoleh mahkota di surga. Demi Yesus Kristus,…

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Nubuat Yeremia 26:1-9

“Seluruh rakyat berkumpul menghadap Tuhan.”

Pada permulaan pemerintahan Yoyakim, anak Yosia raja Yehuda, datanglah firman ini dari TUHAN, bunyinya: Beginilah firman TUHAN: “Berdirilah di pelataran rumah TUHAN dan katakanlah kepada penduduk segala kota Yehuda, yang datang untuk sujud di rumah TUHAN, segala firman yang Kuperintahkan untuk kaukatakan kepada mereka. Janganlah kaukurangi sepatah katapun! Mungkin mereka mau mendengarkan dan masing-masing mau berbalik dari tingkah langkahnya yang jahat, sehingga Aku menyesal akan malapetaka yang Kurancangkan itu terhadap mereka oleh karena perbuatan-perbuatan mereka yang jahat. Jadi katakanlah kepada mereka: Beginilah firman TUHAN: Jika kamu tidak mau mendengarkan Aku, tidak mau mengikuti Taurat-Ku yang telah Kubentangkan di hadapanmu, dan tidak mau mendengarkan perkataan hamba-hamba-Ku, para nabi, yang terus-menerus Kuutus kepadamu, –tetapi kamu tidak mau mendengarkan– maka Aku akan membuat rumah ini sama seperti Silo, dan kota ini menjadi kutuk bagi segala bangsa di bumi.” Para imam, para nabi dan seluruh rakyat mendengar Yeremia mengucapkan perkataan-perkataan itu dalam rumah TUHAN. Lalu sesudah Yeremia selesai mengatakan segala apa yang diperintahkan TUHAN untuk dikatakan kepada seluruh rakyat itu, maka para imam, para nabi dan seluruh rakyat itu menangkap dia serta berkata: “Engkau harus mati! Mengapa engkau bernubuat demi nama TUHAN dengan berkata: Rumah ini akan sama seperti Silo, dan kota ini akan menjadi reruntuhan, sehingga tidak ada lagi penduduknya?” Dan seluruh rakyat berkumpul mengerumuni Yeremia di rumah TUHAN.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 69:5.8-10.14

Ref. Demi kasih setia-Mu yang besar, jawablah aku, ya Tuhan.

  1. Orang-orang yang membenci aku tanpa alasan lebih banyak dari pada rambut di kepalaku; terlalu besar jumlah orang yang hendak membinasakan aku, yang memusuhi aku tanpa sebab; aku dipaksa untuk mengembalikan apa yang tidak kurampas.

  2. Sebab karena Engkaulah aku menanggung cela, karena Engkaulah noda meliputi mukaku. Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, menjadi asing bagi anak-anak ibuku; Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela ENgkau telah menimpa aku.

  3. Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, aku bermohon pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu yang setia!

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya, alleluya

S : Sabda Tuhan tetap selama-lamanya. Itulah sabda yang diwartakan kepadaku.  

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 13:54-58

“Bukanlah Dia itu anak tukang kayu? Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?”

Pada suatu hari Yesus kembali ke tempat asal-Nya. Di sana Ia mengajar orang di rumah ibadat mereka. Orang-orang takjub dan berkata, “Dari mana diperoleh-Nya hikmat itu? Bukankah Dia itu anak tukang kayu? Bukankah ibu-Nya bernama Maria dan saudara-saudara-Nya: Yakobus, Yusuf, Simon dan Yudas? Dari mana diperoleh-Nya semuanya itu?” Lalu mereka kecewa dan menolak Dia. Maka Yesus berkata kepada mereka, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri dan di rumahnya.” Karena ketidakpercayaan mereka itu, maka Yesus tidak mengerjakan banyak mukjizat di situ.
Demikianlah Injil Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Br Andreas Gatot Yudoanggono SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Para Sahabatku, Saudari-saudara yang dicintai dan mencintai Hati Kudus Yesus.. Salam jumpa bersama Saya, Br. Andreas Gatot Yudoanggono SCJ dari Komunitas SCJ Cipinang-Cempedak Jakarta Indonesia.dalam Resi (Renungan singkat) Edisi Jumat, 31 Juli 2026, Peringatan wajib St. Ignatius dari Loyola. Tema Resi kita kali ini adalah: Kerendahan Hati yang Membuka Jalan bagi Karya Allah. Namun sebelumnya, mari kita persiapakan hati dan kita awali permenunga kita dengan tanda kemenangan kristus. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus..

Para sahabatku, Saudari-saudara yang dikasihi dan mengasihi Hati Yesus.  Dalam Injil hari ini, Tuhan Yesus kembali ke Nazaret, kampung halaman-Nya. Orang-orang takjub akan kebijaksanaan dan mukjizat-Nya, tetapi kekaguman itu segera berubah menjadi penolakan setelah mereka tahu latar belakang Tuhan Yesus dan mereka gagal mengenali kehadiran Allah yang berkarya melalui diri-Nya. Akibat ketidakpercayaan mereka, Tuhan Yesus tidak banyak mengadakan mukjizat di sana. Pada Hari ini Gereja emperingati St. Ignatius dari Loyola dan kita diajak untuk melihat sikap St Ignatius yang berlawanan dari orang-orang di nazaret yang menolak Yesus. Setelah mengalami pertobatan, St. Ignatius justru belajar melepaskan kesombongan dan ambisi pribadinya. Dengan rendah hati dan dengan hati yang terbuka, ia mampu mengenali kehendak Allah dan menjadikannya arah seluruh hidupnya: Ad Maiorem Dei Gloriam, semua demi kemuliaan Tuhan. Lalu dari peristiwa ini apa yang bis akita refleksikan? Saya menawarkan 3 hal saja:

  1. Iman yang Melihat Lebih Dalam daripada Penampilan: Orang-orang Nazaret hanya melihat Tuhan Yesus sebagai anak tukang kayu. Mereka berhenti pada apa yang tampak di mata sehingga gagal melihat karya Allah yang hadir di tengah mereka. Kita diundang demham peuh iman untuk memandang lebih dalam, melampaui penampilan, latar belakang, atau prasangka. Allah sering berkarya melalui hal-hal sederhana dan orang-orang yang dekat dengan kita. Pertnyaan Refleksi:Apakah aku sungguh mampu melihat karya Allah di balik hal-hal yang sederhana dalam hidupku?”

  2. Kerendahan Hati Membuka Hati untuk Dibentuk Tuhan: Pertobatan St. Ignatius bermula ketika ia berani mengakui bahwa jalan hidupnya selama ini belum sesuai dengan kehendak Tuhan. Kerendahan hati membuatnya mau belajar, berubah, dan membiarkan Tuhan membimbing setiap langkahnya. Kerendahan Hati membuat kita tidak merasa sudah tahu segalanya, tetapi selalu siap dibentuk oleh rahmat Allah. Yang menjadi pertanyaanya adalah: “Apakah aku masih memberi ruang bagi Tuhan untuk mengubah dan membentuk hidupku setiap hari?”

  3. Menjadi Sarana Kehadiran Allah bagi Sesama: Karena hati yang terbuka kepada Tuhan, St. Ignatius kemudian menjadi sarana lahirnya begitu banyak karya pelayanan dan pendidikan yang membawa banyak orang semakin mengenal Kristus. Hidup yang dipenuhi iman tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi menjadi berkat bagi sesama melalui pelayanan yang tulus dan rendah hati. Yang menjadi pertanyaannya adalah: “Sudahkah hidupku menjadi jalan agar orang lain semakin mengenal dan mengalami kasih Tuhan?”

Nah para sahabat, saudari-saudara yang dikasihi dan mengasihi Hati Yesus, ketika hati kita dipenuhi prasangka dan kesombongan, kita akan sulit mengenali karya Allah. Sebaliknya, kerendahan hati, ketebukaan hat, dan kepekaan hati seperti St. Ignatius akan mampu menemukan Tuhan dalam segala sesuatu (finding God in all things). Dari sanalah lahir kehidupan yang semakin berpusat pada Kristus dan menjadi saluran kasih-Nya bagi dunia.

Semoga Hati Kudus Yesus semakin merajai hati kita sehingga kita memiliki hati yang rendah, terbuka terhadap kehendak Allah, mampu mengenali karya-Nya dalam setiap peristiwa, dan setia menjadi saksi kasih-Nya di tengah dunia.

Hati Yesus yang Lemah Lembut dan Rendah Hati, jadikanlah hati kami seperti Hati-Mu. Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin. Tuhan memberkati, Berkah Dalem..

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN: 

Allah Bapa sumber kebijaksanaan, semoga anggur roti ini Kaukuduskan menjadi lambang kebijaksanaan-Mu. Semoga Kautunjukkan kepada kami, bahwa Yesuslah jalan menuju kepada-Mu. Demi Kristus, ….

ANTIFON KOMUNI – Matius 13:54-55

Dari mana diperoleh-Nya hikmat dan kuasa itu? Bukankah Dia itu anak tukang kayu?

DOA SESUDAH KOMUNI: 

Marilah berdoa: Allah Bapa sumber kebijaksanaan, ajarilah kami mengimani Yesus Putra Manusia, yang telah memancarkan kebijaksanaan-Mu. Semoga kami selalu tabah mengikuti Dia sekarang juga. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami.

DOWNLOAD AUDIO RESI:

Santo Ignasius dari Loyola

Ad maiorem Dei gloriam ( Demi keagungan Tuhan yang lebih besar )

 

Ignacio López de Loyola  atau yang kita kenal sebagai St.Ignasius de Loyola adalah pendiri dari Serikat Yesus. Ia dilahirkan di Kastil keluarga bangsawan Loyola di wilayah Basque, Spanyol. Ketika masih kanak-kanak, ia dikirim untuk menjadi abdi di istana raja. Di sana ia tinggal sambil berangan-angan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seorang kesatria yang hebat. Ignasius kemudian masuk militer dan menjadi seorang perwira.

Pada penyerbuan benteng Pamplona, Ignasius bertempur dengan berani namun ia terkena peluru meriam dan terluka parah.  Di kemudian hari, ia mendapat penghargaan karena kegagahannya dalam pertempuran itu. Tetapi, luka di tubuhnya membuat Ignatius terbaring tak berdaya selama berbulan-bulan di atas pembaringannya di Benteng Loyola.

Ignatius meminta buku-buku bacaan untuk menghilangkan rasa bosannya. Ia menyukai cerita-cerita tentang kepahlawanan, tetapi di sana hanya tersedia kisah hidup Yesus dan para kudus. Karena tidak ada pilihan lain, ia membaca juga buku-buku itu. Perlahan-lahan, buku-buku itu mulai menarik hatinya. Hidupnya mulai berubah. Ia berkata kepada dirinya sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang sama seperti aku, jadi mengapa aku tidak bisa melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan?” Semua kemuliaan dan kehormatan yang sebelumnya sangat ia dambakan, tampak tak berarti lagi baginya sekarang. Ia mulai meneladani para kudus dalam doa, silih dan perbuatan-perbuatan baik.

Setelah sembuh, Ignasius mengunjungi sebuah biara dimana ia menanggalkan jubah militernya dan mempersembahkannya pada lukisan Sang Perawan Maria. Ia kemudian pergi ke kota Catalunya, dan selama beberapa bulan tinggal di sebuah gua di dekat kota itu di mana ia bertapa dengan keras. Ignatius juga mengalami beberapa penampakan di tengah-tengah hari selama di rumah sakit. Penampakan-penampakan yang terjadi berulang kali ini tampil sebagai “suatu wujud yang mengambang di udara yang berada di dekatnya dan wujud ini memberinya rasa ketenangan yang amat mendalam karena wujud itu sangatlah indah … wujud itu entah bagaimana terlihat memiliki bentuk mengular dan memiliki banyak benda yang bersinar seperti mata, tapi bukanlah mata. Ia menjadi bahagia dan mengalami ketenangan hanya dengan menatap wujud ini … namun ketika wujud ini hilang ia menjadi sedih.”  

Ignasius lalu berziarah ke Tanah Suci dan ia bertekad untuk mentobatkan orang-orang yang belum mengenal Yesus disana. Namun ia tidak diperkenankan. Lalu veteran perang yang berusia 30 tahun itu pulang dan mulai belajar untuk mempersiapkan dirinya berkarya bagi nama Yesus. Mula-mula ia  belajar bahasa Latin bersama anak-anak sekolah Dasar si Barcelona sampai kemudian meraih Gelar sarjana di Universitas Paris.

Sejak masih kuliah Ignasius sering memberikan bimbingan rohani kepada teman-temannya. Di masa itu (bahkan sampai sekarang) tidaklah lazim apabila seorang awam mengajar spiritualitas; ia lalu  dicurigai sebagai penyebar bidaah (=agama sesat) dan dipenjarakan untuk sementara waktu  namun kemudian dilepaskan.  Kejadian itu tidak menghentikan Ignatius. “Seluruh kota tidak akan cukup menampung begitu banyak rantai yang ingin aku kenakan karena cinta kepada Yesus,” katanya.  

Di Paris Ignasius mengilhami tujuh mahasiswa (dua diantaranya adalah St.Fransiskus Xaverius dan St. Petrus Faber) untuk bersatu mengadakan ikatan. Mereka berjanji setia dan bersepakat untuk menyebarkan injil kepada mereka yang belum mengenal Kristus. Kelompok mereka ini kemudian menghadap Paus Paulus III dan menawarkan diri untuk menjalankan tugas apa saja. Bapa suci yang melihat semangat kerasulan mereka; dan pendidikan mereka yang tinggi akhirnya mengabulkan keinginan Ignasius dan kelompoknya. Bahkan lebih jauh lagi; Bapa Suci mentahbiskan mereka menjadi imam dan ikatan persaudaraan mereka dikokohkan menjadi Serikat  Rohaniwan. Serikat ini kemudian dinamakan Serikat Jesus dan mendasarkan diri pada tiga kaul yaitu : Kemiskinan, Ketaatan, dan Kemurnian; ditambah lagi dengan satu kaul khusus yaitu : Kesigapan untuk melaksanakan perintah Tahta Suci Kapan saja dan dimana saja.

Selama 15 tahun sejak persetujuan paus itu Ignasius memimpin Serikat Jesus dari Roma. Ia meyaksikan perkembangan Serikatnya berawal dari 10 orang sampai menjadi lebih dari 1000 orang. Para Jesuit berkarya dari Eropa, Asia sampai ke Benua baru Amerika.  Saat ini para Jesuit memiliki lebih dari 500 Universitas dan Perguruan Tinggi, 30.000 anggota, dan mengajar lebih dari 200.000 siswa setiap tahun.

Seringkali Ignatius berdoa, “Berilah aku hanya cinta dan rahmat-Mu, ya Tuhan. Dengan itu aku sudah menjadi kaya, dan aku tidak mengharapkan apa-apa lagi.” St. Ignatius wafat di Roma pada tanggal 31 Juli 1556. Ia dinyatakan kudus pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Arti Nama

Ignatius berasal dari nama keluarga Romawi yang artinya tidak diketahui. Namun sering dihubungkan dengan kata Latin : IGNIS  yang berarti “api“.

Variasi Nama

Egnatius (Ancient Roman), Iñaki (Basque), Ignasi (Catalan), Ignác (Czech), Ignaas (Dutch), Ignace (French), Ignatz (German), Ignác (Hungarian), Ignazio (Italian), Ignas (Lithuanian), Ignacy (Polish), Inácio (Portuguese), Ignac, Ignacij, Nace (Slovene), Ignacio, Nacho, Nacio (Spanish)

 

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/juli/ignatius-dari-loyola.html

No Comments

Leave a Comment