Sabtu, 24 Oktober 2020 – Hari Biasa Pekan XXIX

Rm. Albertus Joni SCJ dari Komunitas SCJ Milwaukee USA

 
 
 

ANTIFON PEMBUKA- Efesus 4:16

Dari Kristus seluruh tubuh menerima daya tumbuh guna membangun diri dalam cinta kasih. Tubuh itu rapi tersusun dan rukun bersatu. Karena pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan peranan dan kegiatan setiap anggota.

 

PENGANTAR

Biarkanlah pohon ini tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkuli tanah sekelilingnya dan memberi pupuk. Mungkin tahun depan akan berbuah.’ Hidup kristiani yang tidak terawat, kekurangan udara, cahaya dan air akan layu dan kering. Orang kristiani harus secara teratur meninjau kembali hidupnya agar dapat hidup menurut Roh.

 

DOA PEMBUKA

Marilah berdoa Allah Bapa kami, sumber persatuan, himpunlah kami menjadi satu tubuh, menjadi umat-Mu, yang dijiwai oleh satu Roh, yaitu Roh Yesus, Putra-Mu. Semoga hidup kami ini menghasilkan buah kebaikan, kerukunan dan belas kasih bagi semua saja yang menderita kesulitan dan kesengsaraan. Demi Yesus Kristus Putra-Mu…

 

BACAAN PERTAMA: Efesus 4:7-16

“Kristuslah kepada tubuh, dan daripadanya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya.”

Saudara-saudara, kepada kita masing-masing telah dianugerahkan kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus. Itulah sebabnya Kitab Suci berkata, “Tatkala naik ke tempat tinggi, Ia membawa tawanan-tawanan; Ia memberikan pemberian-pemberian kepada manusia.” Bukankah “Ia telah naik” berarti bahwa Ia juga telah turun ke bagian bumi yang paling bawah? Dia yang telah turun itu Dialah pula yang telah naik jauh lebih tinggi daripada semua langit, untuk memenuhi segala sesuatu. Dialah juga yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pewarta Injil, gembala umat maupun pengajar; semuanya itu untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi tugas pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus. Dengan demikian akhirnya kita semua akan mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus. Dengan demikian kita bukan lagi anak-anak kecil, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, atau oleh permainan palsu dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Sebaliknya dengan berpegang teguh pada kebenaran dalam kasih, kita bertumbuh dalam segala hal menuju Kristus Sang Kepala. Dari pada-Nya seluruh tubuh menerima pertumbuhannya guna membangun diri dalam kasih; itulah tubuh yang rapi tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota.

 
 

MAZMUR TANGAPAN: Mazmur 122:1-2.3-4a.4b-5

Ref. ‘Ku menuju ke altar Allah dengan sukacita atau. Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan.”

  1. Aku bersukacita, ketika orang berkata kepadaku, “Mari kita pergi ke rumah Tuhan.” Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.

  2. Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat, kepadamu suku-suku berziarah, yakni suku-suku Tuhan.

  3. Untuk bersyukur kepada nama Tuhan sesuai dengan peraturan bagi Israel. Sebab di Yerusalemlah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga Raja Daud.

 

Bait Pengantar Injil

U: Alleluya, alleluya

S: Tuhan telah berfirman, “Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan kepada pertobatannya supaya ia hidup.”

 

BACAAN INJIL: Lukas 13:1-9

“Jikalau kalian semua tidak bertobat, kalian pun akan binasa dengan cara demikian.”

Pada waktu itu beberapa orang datang kepada Yesus dan membawa kabar tentang orang-orang Galilea, yang dibunuh Pilatus, sehingga darah mereka tercampur dengan darah kurban yang mereka persembahkan. Berkatalah Yesus kepada mereka, “Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu? Tidak! kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kalian tidak bertobat, kalian semua pun akan binasa dengan cara demikian. Atau sangkamu kedelapan belas orang yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya daripada semua orang lain yang tinggal di Yerusalem? Tidak! Kata-Ku kepadamu. Tetapi jikalau kalian tidak bertobat, kalian semua pun akan binasa dengan cara demikian.” Kemudian Yesus menceritakan perumpamaan ini, “Ada seorang mempunyai sebatang pohon ara, yang tumbuh di kebun anggurnya. Ia datang mencari buah pada pohon itu, tetapi tidak menemukannya. Maka berkatalah ia kepada pengurus kebun anggur itu, ‘Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara itu, namun tidak pernah menemukannya. Sebab itu tebanglah pohon ini. Untuk apa pohon itu hidup di tanah ini dengan percuma?’ Pengurus kebun anggur itu menjawab, “Tuan, biarkanlah pohon ini tumbuh selama setahun ini lagi. Aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan akan berbuah. Jika tidak, tebanglah!”

 

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Albertus Joni SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Kudus Yesus melalui Hati Maria.

Pernahkah engkau dibuat kesal oleh orang yang ada di sekitarmu – oleh orang yang lewat di jalan atau yang melintas di depanmu? Suatu saat, ada frater bule yang usianya jauh lebih muda dari saya menepuk kepala saya dari belakang saat kami ngobrol dan bercanda. Tawa saya lenyap dan diganti dengan kemarahan. Wajah saya memerah. Kurang ajar, pikir saya. Masih frater saja sudah berani main kepala saya. Besok kalau sudah jadi romo, apa mau main kepala dengan umatnya. Dasar anak tidak tahu adat, pikir saya. Tapi, hey, wait… tunggu dulu: adat kita berbeda, bukan?! Saya hidup dengan adat timur yang tradisional dan dia hidup dalam adat barat yang lebih bebas. Sejenak saya lupa bahwa frater bule ini tumbuh dalam budaya dan tradisi yang berbeda dengan kita.

Yang saya ingin katakan adalah: jangan kau cepat menghakimi!

Injil hari ini juga berkisah tentang kebenaran yang sama. Orang Yahudi punya keyakinan bahwa penderitaan adalah buah dosa dan kutukan dari Allah. Maka, orang-orang sezaman dengan Tuhan Yesus sudah menghakimi lebih dulu bahwa mereka yang dibunuh Pilatus dan yang mati ditimpa menara dekat Siloam adalah orang-orang celaka yang dihukum Tuhan. Pasti mereka berdosa berat. Yesus mengkritik penghakiman mereka karena mereka “merasa lebih baik” dari orang-orang yang celaka itu. Bukankah saat kita menghakimi orang lain, tak jarang sebenarnya kita merasa diri lebih baik dari mereka yang kita hakimi.

“Eh, tahu gak sih, ibu A dekat sekali dengan romo X, lho! Dasar ibu-ibu gatel! Kalau ke pastoran parfumnya mengalahkan kemenyan untuk adorasi…” Hahahaha… tak jarang kan kita dengan nada sumbang seperti ini justru di sekitar rumah Tuhan. Hehehehe…

Saya merasa bahwa kita harus mulai berlatih memiliki semangat menyembuhkan, semangat memulihkan daripada semangat mengkritik demi merusak dan menghancurkan orang lain. Menghakimi, mengkiritik boleh saja asal proporsional dengan usahamu untuk menyembuhkan, memulihkan, menolong.

Itu sebabnya, ketika pohon ara yang tidak berbuah itu hendak ditebang, sang petani mohon pada Tuan yang Empunya Kebun agar memberinya waktu. Sang petani akan menolong, membuat tanahnya gembur kembali, mengusahakan banyak cara agar pohon ini kembali berbuah.

Mari, sahabatku, hari ini kita berlatih untuk mengenali sisi-sisi tersembunyi dari sesama yang sering menjengkelkan hati; yang luput dari pengamatan kita. Mulailah mengenali “misteri” setiap pribadi di keluargamu: suamimu, istrimu, anakmu, adik-kakakmu, orangtuamu. Pasti ada yang menyebabkan dia dan mereka memiliki sikap tertentu yang membuatmu kurang nyaman. Pasti ada sejarah yang membuat dia dan mereka memiliki pandangan tertentu yang tidak kau sukai.

Dalam suatu retreat, saya berjumpa dengan seorang anak laki-laki yang sering merasa jengkel karena mamanya cukup keras mendidik dia dan adik-adiknya. “Ada satu momen di mana saya tidak suka dengan ibu saya yang cerewet, yang suka bicara keras, dan yang selalu siap dengan rotan di tangan kanan dan buku pelajaran kami di tangan kiri. My mom is so demanding,” ujar anak yang sedih ini. Selama retreat itu, si anak baru menyadari bahwa Mamanya memang tak punya banyak refrensi dalam mendidik anak-anaknya. Sang ibu tumbuh dalam lingkungan yang keras: ayahnya sakit ia kecil, ia harus bekerja dari usia 11 tahun untuk menopang keluarganya. Ibu anak ini pada usia muda berhenti sekolah dan bekerja sebagai pembantu rumah tangga agar adik-adiknya bisa sekolah dan hidup. Dan itu sebabnya sang ibu tak ingin anak-anaknya hidup menderita seperti dirinya: ia ingin agar anak-anaknya belajar, bersekolah setinggi mungkin agar dapat melihat luasnya dunia. Itu sebabnya sang ibu keras menanamkan disiplin; karena si ibu tahu bahwa impian harus diwujudkan dengan kerja keras.

Hehehe, maafkan saya Mama karena dulu sempat salah menilai dirimu. Terimakasih Mama, anak itu sekarang menjadi imam yang bahagia, yang mengenal luasnya dunia, yang mengisi renungan harian setiap tanggal 24. Hahahaha… Maka, sahabatku, sebelum menghakimi, mengertilah. Sebelum membenci, kenalilah. Sebelum menaruh prasangka, selidikilah. Sebelum menjadi jauh satu sama lain, bantulah … tolonglah.

Tuhan memberkatimu!

 

DOA PERSIAPAN

Allah Bapa sumber kehidupan. semoga kami Kaupuaskan dengan roti anggur ini dan selalu Kauhidupi berkat Yesus Kristus, santapan hidup kami yang…

 

ANTIFON KOMUNI

Betapa gembira hatiku ketika dikatakan kepadaku, Mari kita pergi ke rumah Tuhan.”

 

DOA PENUTUP

Marilah berdoa: Allah Bapa, sumber kedamaian, kami bersyukur karena telah memperoleh harapan akan kedamaian, yang kami terima berkat sabda Putra-Mu, saksi yang tepercaya. Semoga kami tak jemu-jemunya mendengarkan sabda itu. Demi Kristus,…..

2 Comments

  • Makarius Kriswantoro Oktober 24, 2020 at 12:10 am

    Sebelum menaruh prasangka.. selidikilah…
    Trimakasih Romo Joni untuk sharing ya.. Salam kasih dari Bandarlampung…🙏🙏💞
    Asiik dan betah ya Mo di Milwaukee…

    Reply
  • Trisanna Lanson Oktober 24, 2020 at 3:55 am

    Terimakasih ya Rm Joni.
    Sampaikan Salam hormat saya kepada mamanya Rm Joni. Katakan Terimakasih kepada beliau.
    Sampai terharu saya mendengarkan renungan dari Rm Joni.
    Jadilah selalu gembala yg baik dan benar ya Romo

    Salam hormat saya
    Trisanna Lanson

    Reply

Leave a Comment