
Rm. Agustinus Riyanto SCJ dari Komunirtas SCJ Palembang Indonesia
AUDIO RESI:
ANTIFON PEMBUKA:
Inilah perawan yang budiman, yang keluar menyongsong Kristus dengan piala bernyala.
PENGANTAR:
Cobaan dan derita sering mempercepat kedewasaan seseorang Penganiayaanpun kerapkali bukan menghancurkan, tetapi malahan memurnikan iman. Di Roma penganiayaan sering kejam sekali, tanpa pandang umur. Agnes baru berumur 12 tahun ketika ditahan dan disamakan saja dengan orang dewasa. Tetapi seperti seorang dewasa ia dengan tabah mengalami perganiayaan dan membela iman sampai mati
DOA KOLEKTA:
Marilah berdoa: Allah Bapa kami yang kekal dan kuasa, yang lemah dalam pandangan orang, Kaupilih untuk mempermalukan yang kuasa. Hari ini kami kenangkan kesaksian Santa Agnes, yang menyerahkan nyawa demi imannya. Buatlah kami teguh dalam iman dan tetap setia sampai akhir. Demi Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan…
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Pertama Samuel 17:32-33.37.40-51
“Daud mengalahkan Goliat dengan umban dan batu.”
Pada suatu hari Daud menghadap Saul dan berkata kepadanya, “Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena Goliat! Hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu.” Tetapi Saul berkata kepada Daud, “Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu! Mustahil engkau dapat melawan Goliat! Sebab engkau masih muda, sedang Goliat sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit.” Tetapi Daud berkata kepada Saul, “Tuhan telah melepaskan daku dari cakar singa dan dari cakar beruang. Dia pun akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu!” Kata Saul kepada Daud, “Pergilah! Tuhan menyertai engkau.” Maka Daud mengambil tongkatnya lalu pergi. Ia memilih dari dasar sungai lima batu yang licin dan menaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni wadah batu, sedang umban tali dipegangnya. Demikianlah Daud mendekati Goliat, orang Filistin itu. Goliat sendiri makin dekat menghampiri Daud, dan di depannya berjalan orang yang membawa perisainya. Ketika Goliat melayangkan pandangannya dan melihat Daud, dihinanya Daud karena ia masih muda, kemerah-merahan dan elok parasnya. Goliat, orang Filistin itu, berkata kepada Daud, “Anjingkah aku, maka engkau mendatangi aku dengan tongkat?” Lalu demi para dewa, orang Filistin itu mengutuki Daud. Lalu dia menantang Daud, “Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung di udara dan kepada binatang-binatang di padang.” Tetapi Daud berkata kepada Goliat, orang Filistin itu, “Engkau mendatangi aku dengan pedang, tombak serta lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu. Hari ini juga Tuhan akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku! Aku akan mengalahkan engkau dan memenggal putus kepalamu! Hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu bahwa Tuhan menyelamatkan bukan dengan pedang atau lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran, dan Ia akan menyerahkan kamu ke dalam tangan kami.” Ketika orang Filistin itu bergerak maju menyongsong Daud, segera larilah Daud ke barisan musuh menghadapi Goliat. Lalu Daud memasukkan tangannya ke dalam kantung batu, diambilnyalah sebuah batu, lalu diumbankannya. Maka kenalah dahi Goliat, dan terjerumuslah ia dengan mukanya ke tanah. Demikianlah Daud mengalahkan orang Filistin itu dengan umban dan batu; ia mengalahkan Goliat dan membunuhnya, tanpa pedang di tangan. Daud berlari mendapatkan orang Filistin itu, lalu berdiri di sebelahnya; diambilnyalah pedang Goliat, dihunusnya dari sarungnya, lalu ia menghabisi Goliat. Dipancungnyalah kepala Goliat dengan pedangnya sendiri.
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.
MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 144:1b.2.9-10
Ref. Terpujilah Tuhan, gunung batuku.
-
Terpujilah Tuhan, Gunung Batuku! Ia mengajar tanganku bertempur, Ia melatih jari-jariku berperang!
-
Ia menjadi tempat perlindungan dan kubu pertahananku, kota bentengku dan penyelamatku; Ia menjadi perisai, tempat aku berlindung; Dialah yang menundukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasaku!
-
Ya Allah, aku hendak menyanyikan lagu baru bagi-Mu; dengan gambus sepuluh tali aku hendak bermazmur. Sebab Engkaulah yang memberikan kemenangan kepada raja-raja, dan yang membebaskan Daud, hamba-Mu!
BAIT PENGANTAR INJIL:
U : Alleluya
S : (Mat 4:23) Yesus memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan menyembuhkan semua orang sakit.
BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 3:1-6
“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?”
Pada suatu hari Sabat Yesus masuk ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang mati sebelah tangannya. Orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang mati sebelah tangannya itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian Yesus berkata kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat? Menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” Tetapi mereka itu diam saja. Yesus jengkel karena kedegilan mereka! Dengan marah Ia memandang sekeliling, lalu berkata kepada orang tadi, “Ulurkanlah tanganmu!” Ia pun mengulurkan tangannya, dan sembuhlah seketika. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera bersekongkol dengan orang-orang Herodian untuk membunuh Dia.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.
RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Agustinus Riyanto SCJ
Vivat cor Jesu per cor Maria. Hiduplah Hati Yesus, melalui hati Maria.
KEBAIKAN DALAM KEBEKUAN HATI
Saudara-saudariku pencinta RESI yang terkasih, dalam Injil hari ini, kita melihat Yesus masuk ke rumah ibadat dan bertemu dengan seorang yang mati sebelah tangannya. Hari itu adalah hari Sabat, hari yang suci. Tetapi justru pada hari suci itu, hati banyak orang menjadi beku dan tertutup karena legalisme yang mereka genggam erat. Mereka tidak bertanya: “Bagaimana orang ini bisa sembuh?” tetapi: “Apakah Yesus melanggar aturan?” Yesus berhadapan dengan hukum, tradisi, dan kekerasan hati manusia. Hari Sabat yang sejatinya adalah hari untuk memuliakan Allah malah dipakai sebagai alasan untuk menutup mata terhadap penderitaan sesama.
Yesus tidak meniadakan hukum, tetapi mengembalikan makna sejatinya: hukum ada untuk kehidupan dan keselamatan manusia, bukan untuk membelenggu bahkan menambah penderitaan manusia. Karena itu, Yesus mengajukan pertanyaan sederhana tetapi tajam: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat: berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan orang atau membunuh orang?” Mereka diam. Diam karena hati mereka telah keras membeku.
Sobat RESI terkasih, Injil ini sangat relevan dengan kehidupan bangsa kita hari-hari ini. Kita hidup di tengah masyarakat yang sering ramai dengan aturan, slogan moral, dan kata-kata tentang kebenaran, tetapi sepi dari kepedulian dan empati. Mudah sekali kita menghakimi, menyalahkan, bahkan memusuhi, tetapi sulit untuk sungguh-sungguh mendengarkan dan menolong. Di media sosial, perbedaan pendapat sering berakhir dengan hujatan. Dalam kehidupan berbangsa, hukum kadang dipakai bukan untuk melindungi yang lemah, tetapi untuk membenarkan kepentingan sendiri. Kita berbicara tentang keadilan, tetapi lupa pada manusia yang terluka di balik persoalan itu. Inilah bentuk baru dari “hari Sabat” yang kehilangan maknanya.
Yesus hari ini marah, tetapi Injil menegaskan: Ia lebih dulu berduka karena kekerasan hati manusia. Dan di tengah kekerasan itu, Yesus tetap memilih menyembuhkan, dan menyelamatkan. Ia mengulurkan tangan kasih-Nya, meski tahu bahwa kebaikan itu akan membuat-Nya disingkirkan dan dibenci. Mari kita juga merefleksikan hidup kita, apakah iman kita membuat orang lain sembuh dan dikuatkan, atau justru merasa dihakimi dan disingkirkan? Apakah kehadiran kita di tengah bangsa ini menjadi tanda pengharapan, atau malah menambah luka dan perpecahan?
Saudara-saudariku terkasih, bangsa Indonesia hari ini tidak hanya membutuhkan orang yang pandai berbicara tentang kebenaran, tetapi orang-orang yang berani berbuat baik, yang mau mengulurkan tangan kepada sesama tanpa syarat. Itulah iman yang hidup. Itulah Gereja yang diharapkan Kristus. Semoga Tuhan menyembuhkan bukan hanya tangan yang mati, tetapi juga hati kita yang mungkin mulai mengeras dan beku, agar kita menjadi saksi kasih-Nya di tengah bangsa dan masyarakat kita. Amin.
DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:
Allah Bapa kami yang maha mulia, pandanglah roti anggur yang kami sajikan. Semoga derita jaya Putra-Mu yang dihadirkan dalam tanda ini, memperteguh iman kami berkat kesaksian Santa Agnes, martir-Mu Demi Kristus, Tuhan dan pengantara lami
ANTIFON KOMUNI — Lih. Rom 8:38-39
Kematian maupun kehidupan dan makhluk manapun takkan mampu memisahkan kita dari cinta kasih Kristus.
DOA SESUDAH KOMUNI:
Marilah berdoa: Allah Bapa kami yang mahamulia, Engkau telah memuliakan Santa Agnes di hadapan orang suci-Mu. la Kaumahkotai karena jaya sebagai perawan den martir. Semoga berkat kekuatan sakramen yang kami terima hari ini kami dapat mengatasi segala kejahatan dan memperoleh kemuliaan surgawi Demi Kristus,…
DOWNLOAD AUDIO RESI:
Resi-Rabu 21 Januari 2026 oleh Rm. Agustinus Riyanto SCJ dari Komunirtas SCJ Palembang IndonesiaUnduh
Santa Agnes dari Roma
St.Ines del Campo

St.Agnes hidup pada masa Gereja Perdana, yaitu masa ketika orang-orang Kristen mengalami penindasan serta penganiayaan yang kejam dalam pemerintahan bangsa Romawi. Ia wafat sebagai martir sekitar tahun 304 – 305 dalam pemerintahan Kaisar Diocletian. Usia Agnes pada waktu itu baru 13 tahun. Meskipun tidak banyak catatan sejarah yang ada mengenai St. Agnes, ia amat populer. Hal ini terutama karena St. Ambrosius serta para kudus Gereja lainnya banyak menulis tentangnya.
Agnes seorang gadis remaja yang cantik jelita dan berasal dari keluarga kaya. Banyak pemuda bangsawan Romawi terpikat padanya; mereka saling bersaing agar dapat memperisteri Agnes. Tetapi Agnes menolak mereka semua dengan halus dan mengatakan bahwa ia telah mengikatkan diri pada seorang Kekasih yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Procop, putera Gubernur Romawi, termasuk salah seorang di antara para pemuda yang amat marah dan merasa terhina oleh penolakan Agnes. Mereka melaporkan Agnes kepada Gubernur dengan tuduhan pengikut Kristus.
Pada mulanya Gubernur bersikap ramah serta lembut kepadanya. Ia menjanjikan harta serta kedudukan jika saja Agnes mau menyangkal imannya dan menikah dengan Procop. Agnes menolak, berkali-kali diulanginya pernyataannya bahwa ia tidak dapat memiliki mempelai lain selain dari Yesus Kristus. Karena pernyataannya itu, Agnes diseret ke depan mezbah berhala dan diperintahkan untuk menyembahnya. Bukannya menyembah berhala, Agnes malahan mengulurkan tangannya dan membuat Tanda Salib, tanda kemenangan Kristus. Gubernur kemudian memperlihatkan kepadanya api penyiksaan, kait besi, serta segala macam alat penyiksa lainnya, tetapi gadis muda itu tetap tabah dan tidak gentar sedikit pun.
Karena Agnes tetap keras kepala, Gubernur mengancam akan mengirim Agnes ke rumah pelacuran. Tetapi Agnes menjawab, “Yesus Kristus amat pencemburu, Ia tidak akan membiarkan kemurnian para mempelainya dicemarkan seperti itu. Ia akan melindungi dan menyelamatkan mereka.”
Katanya lagi, “Kalian dapat menodai pedang kalian dengan darahku, tetapi kalian tidak akan pernah dapat menodai kesucian tubuhku yang telah kupersembahkan kepada Kristus.”
Gubernur amat marah mendengar perkataannya itu. Ia memerintahkan agar Agnes, saat itu juga, dikirim ke rumah pelacuran dengan perintah bahwa semua orang berhak menganiayanya sesuka hati mereka.
Orang banyak datang untuk menyaksikan peristiwa itu. Tetapi, ketika melihat pancaran sinar wajah Agnes yang kudus dan agung serta sikapnya yang tenang, penuh kepercayaan kepada Kristus yang melindunginya, orang banyak itu takut dan tidak berani mendekat. Seorang pemuda tampil dan berusaha mengganggu Agnes. Pada saat itu juga, dengan kilat yang dari surga, pemuda itu tiba-tiba menjadi buta dan jatuh ke tanah dengan tubuh gemetar. Teman-temannya dengan ketakutan membopongnya serta membawanya kepada Agnes yang kemudian menyanyikan lagu puji-pujian kepada Kritus, sehingga pemuda itu dapat melihat serta sehat kembali.
Gubernur amat murka dan menjatuhkan hukuman mati pada Agnes. Algojo mendapat perintah rahasia untuk dengan segala cara membujuk Agnes, tetapi Agnes menjawab bahwa ia tidak akan pernah menyakiti hati Mempelai Surgawi-nya. Orang banyak menangis menyaksikan seorang dara yang lembut dan jelita dengan belenggu dan rantai yang terlalu besar bagi ukuran tubuhnya yang kecil, digiring ke tempat hukuman mati. Ia terlalu muda untuk memahami arti kematian, namun demikian ia siap menghadapinya tanpa gentar sedikit pun. Sesungguhnya, Agnes diliputi sukacita yang besar karena ia akan segera diperkenankan menyongsong mempelainya. Sama sekali tidak dihiraukannya ratap tangis mereka yang memohonnya untuk menyelamatkan nyawanya.
“Aku tidak akan mengkhianati Mempelai-ku dengan menuruti keinginan kalian,” katanya, “Ia telah memilihku dan aku adalah milik-Nya.” Kemudian Agnes berdoa, membungkukkan badannya untuk menyembah Tuhan, dan segera menerima hujaman pedang yang menghantarkan jiwanya yang suci kepada kekasihnya. Agnes telah mempertahankan kemurniannya dan memperoleh mahkota martir di surga.
Jenazah Agnes disemayamkan di pemakamam keluarga di Via Nomentana dekat kota Roma. Kurang lebih lima puluh tahun kemudian, yaitu pada tahun 354, Kaisar Konstantin Agung mendirikan sebuah gereja besar di tempat itu. Tubuh Agnes disemayamkan di bawah altar Gereja. Pada abad ketujuh, gereja itu kemudian dipugar, diperbesar serta diperindah dan sekarang dikenal sebagai Basilika St. Agnes.
Selama berabad-abad, setiap tahun sekali, yaitu pada pesta St. Agnes (21 Januari), dua anak domba tak bercela dipersembahkan dan diberkati di Basilika St Agnes. Kemudian kedua anak domba itu dipelihara oleh para biarawati Benediktin dari Santa Cecilia di Trastevere hingga hari Kamis Putih, yaitu pada saat mereka digunting bulunya. Dari bulu mereka dibuatlah 12 pallium yaitu semacam stola istimewa yang dikirimkan kepada Bapa Suci. Bapa Suci memberikan pallium tersebut kepada para Uskup Agung yang mengenakannya sebagai lambang anak domba yang digendong oleh Gembala Yang Baik.
Arti Nama
Berasal dari bahasa Yunani αγνος (hagnos) yang berarti : Suci. Nama Agnes juga sering diasosiasikan dengan kata Latin : Agnus (anak domba)
Variasi Nama
Annis, Inez, Annice (English), Agneta, Agnetha (Swedish), Agnetha (Norwegian), Agnete, Agnetha, Agnethe (Danish), Ines (Slovene), Hagne (Ancient Greek), Oanez (Breton), Agnès (Catalan), Agneza, Ines, Janja, Nensi (Croatian), Aune, Iines (Finnish), Agnès, Inès (French), Ágnes, Ági (Hungarian), Aignéis, Nainsí (Irish), Agnese, Ines (Italian), Agnese, Agnija (Latvian), Agné (Lithuanian), Agnija (Macedonian), Agnieszka, Jagienka, Jagna, Jagusia (Polish), Inês (Portuguese), Agnessa (Russian), Senga (Scottish), Agnija (Serbian), Inés (Spanish)
Bentuk pendek : Aggie, Nancy (English), Nes, Neske (Dutch), Neža (Slovene)
Bentuk Maskulin : Agnetus (Latin)
Tuhan Yesus.
Kasihanilah kami org berdosa.
Sta.Agnes.
Doakanlah kami.
Tuhan
Makasih Romo