Rm Cornelius Maruli Widyan Raswata SCJ dari Komunitas SCJ Pangkalan Kerinci Riau Keuskupan Padang – Indonesia
AUDIO RESI:
ANTIFON PEMBUKA – Matius 8:11
Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat, Dan duduk makan bersama di dalam kerjaan surga. Dengan Abraham, Ishak, dan Yakub.
PENGANTAR:
Nabi-nabi palsu telah mengelabui Yerusalem. Yeremia menyerukan pertobatan. Tuhan akan mendengarkan, asal ada penyesalan. Yesus membelokkan penyesalan itu ke arah iman. Iman mantap orang bukan Yahudi yang dijumpai-Nya, dijadikan contoh bagi kita. Yesus menghendaki siapa pun diselamatkan.
DOA KOLEKTA:
Marilah berdoa:Allah Bapa maha pengasih, Orang yang secara sederhana berseru mohon pertolongan,Tentu Kaudengarkan. Kami mohon, hadirlah di tengah-tengah kami,:Tinggallah di antara kami. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, ….
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Ratapan 22:2.10-14.18-19
“Berteriaklah kepada Tuhan dengan nyaring, hai putri Sion.”
Tanpa belas kasihan Tuhan memusnahkan segala ladang Yakub. Dalam amarah-Nya Ia menghancurkan benteng-benteng puteri Yehuda. Ia mencampakkan ke bumi, dan mencemarkan kerajaan serta pemimpin-pemimpinnya. Maka duduklah para tua-tua puteri Sion tertegun di tanah. Mereka menabur abu di atas kepala, dan mengenakan kain kabung. Dara-dara Yerusalem menundukkan kepalanya ke tanah. Mataku kusam dengan air mata, hatiku remuk redam. Hancur luluh hatiku karena reruntuhan puteri bangsaku, sebab kanak-kanak dan bayi jatuh pingsan di lapangan-lapangan kita. Mereka bertanya kepada ibunya, “Mana roti dan anggur?” Di lapangan-lapangan kota mereka jatuh pingsan seperti orang yang gugur ketika menghembuskan napas di pangkuan ibunya. Apa yang dapat kunyatakan kepadamu? Dengan apa aku dapat menyamakan dikau, ya puteri Yerusalem? Dengan apa aku dapat membandingkan engkau untuk dihibur, ya dara Sion? Karena luas bagaikan lautlah reruntuhanmu. Siapa yang akan memulihkan dikau? Nabi-nabimu melihat penglihatan yang dusta dan hampa bagimu. Mereka tidak menyatakan kesalahanmu guna memulihkan dikau kembali. Mereka mengeluarkan bagimu ramalan-ramalan yang dusta dan menyesatkan. Berteriaklah dengan nyaring kepada Tuhan, hai puteri Sion! Cucurkanlah air mata bagaikan sungai siang dan malam. Janganlah kauberi dirimu istirahat. Janganlah matamu tenang! Bangunlah, mengeranglah, pada malam hari, pada permulaan giliran jaga malam. Curahkanlah isi hatimu bagaikan air di hadapan Tuhan. Angkatlah tanganmu kepada-Nya demi hidup anak-anakmu, yang jatuh pingsan di ujung-ujung jalan karena lapar! Demikianlah sabda Tuhan U. Syukur kepada Allah.
MAZMUR TANGGAPAN: MAZMUR 74:1-2.3-5a.5b-7.20-21
Ref. Ya Tuhan, janganlah Kaulupakan terus-menerus umat-Mu yang tertindas.
Mengapa, ya Allah, Kaubuang kami untuk seterusnya? Mengapa menyala murka-Mu terhadap kambing domba gembalaan-Mu? Ingatlah akan umat-Mu yang telah Kauperoleh pada zaman purbakala, yang Kautebus menjadi bangsa milik-Mu sendiri! Ingatlah akan gunung Sion yang Engkau diami.
Ringankanlah langkah-Mu ke tempat yang rusak terus-menerus; segala-galanya telah dimusnahkan musuh di tempat kudus. Lawan-lawanmu mengaum di tempat pertemuan-Mu dan telah mendirikan panji-panji mereka sebagai tanda. Mereka kelihatan seperti orang mengayunkan kepalan tinggi-tinggi.
Mereka siap menebas kayu-kayuan yang lebat; dan sekarang ukir-ukirannya seluruhnya dipalu mereka dengan kapak dan beliung; mereka menyulut tempat kudus-Mu dengan api, mereka menajiskan tempat kediaman nama-Mu sampai pada tanah.
Pandanglah kepada perjanjian, sebab tempat-tempat gelap di bumi penuh kekerasan. Janganlah biarkan orang yang terinjak-injak kembali dengan kena noda. Biarlah orang sengsara dan orang miskin memuji-muji nama-Mu.
BAIT PENGANTAR:
U : Alleluya, alleluya S : (Mat 8:17) Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.
BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 8:5-17
“Banyak orang akan datang dari timur dan barat, dan duduk makan bersama Abraham, Ishak, dan Yakub.”
Pada suatu hari Yesus masuk ke kota Kapernaum. Maka datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan mohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh, dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi perwira itu berkata kepada-Nya, “Tuan, aku tdak layak menerima Tuan di dalam rumahku. Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit, ‘Pergi!’ maka ia pergi; dan kepada seorang lagi, ‘Datang!’, maka ia datang. Ataupun kepada hambaku, ‘Kerjakanlah ini!’ maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus heran dan berkata kepada mereka yang mengikutinya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu, Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga, sedangkan anak-anak Kerajaan itu sendiri akan dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.” Lalu Yesus berkata kepada perwira itu, “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” Maka pada saat itu juga sembuhlah hambanya. Setibanya di rumah Petrus, Yesus pun melihat ibu mertua Petrus terbaring karena sakit demam. Maka dipegang-Nya tangan wanita itu, lalu lenyaplah demamnya. Wanita itu lalu bangun dan melayani Yesus. Menjelang malam dibawalah kepada Yesus banyak orang yang kerasukan setan, dan dengan sepatah kata Yesus mengusir roh-roh itu, dan menyembuhkan orang-orang yang menderita sakit. Hal itu terjadi supaya genaplah sabda yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.” Demikianlah Sabda Tuhan U. Terpujilah Kristus.
RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Cornelius Maruli Widyan Raswata SCJ
Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.
Para Sahabatku, Saudari-saudara yang dicintai dan mencintai Hati Kudus Yesus. Salam jumpa bersama Saya, Rm Cornelius Maruli SCJ dari Komunitas SCJ Pangkalan Kerinci, Riau, Keuskupan Padang, Indonesia. Kita akan mendengarkan RESI (Renungan Singkat) Edisi Sabtu, 27 Juni 2026, Minggu Biasa XII. Semoga Kasih Hati Yesus yang Maha Kudus memberkati Anda semua. Amin.
Tema Resi kita kali ini adalah “Berani Mengakui Keterbatasan” Namun sebelumnya, mari kita persiapkan hati dan kita awali permenungan kita dengan tanda kemenangan Kristus. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. AMIN
Pendengar Resi Dehonian terkasih, dimanapun engkau berada. Ada tiga kisah penyembuhan oleh Yesus hari ini, namun kita ingin merenungkan penyembuhan hamba seorang perwira Kapernaum. Iman Perwira Kapernaum ini mengagumkan. Dalam kacamata Yahudi, dia yang adalah seorang non Yahudi (prajurit Romawi) dianggap “orang luar” atau bahkan musuh oleh bangsa Israel namun ia datang kepada Yesus dengan kerendahan hati luar biasa.
Perwira ini bukan orang sembarangan. Ia adalah seorang penguasa, pemimpin dari seratus prajurit Romawi, memiliki kedudukan, harga diri dan kuasa. Ia datang kepada Yesus, seorang Rabi Yahudi miskin dari desa, bukan untuk menuntut, melainkan memohon. Mari kita perhatikan apa yang dikatakan ketika berhadapan dengan Yesus. Ia berkata, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Mat 8:8) Di hadapan Yesus, semua atribut duniawinya ditanggalkan. Ia tidak memamerkan jabatan, tidak juga menuntut haknya. Mengapa? Ia menyadari siapa dirinya di hadapan kekudusan dan kuasa Yesus. Ia berani mengakui keterbatasannya. Ia tahu bahwa di hadapan Sang Pencipta, ia hanyalah manusia biasa yang penuh dengan keterbatasan dan ketidaklayakan.
Kita merenungkan tiga hal dari Iman Perwira ini. Pertama, kerendahan hati. Perwira yang secara politis dan sosial lebih tinggi itu merendahkan diri di hadapan Yesus. Ia bisa saja menyuruh prajuritnya menjemput paksa Yesus. Namun, Ia sadar bahwa di hadapan kekudusan Yesus, seragam kebesarannya tidak ada artinya. Ia menyadari diri sebagai orang berdosa yang tidak layak didatangi oleh Yang Suci. Kita diingatkan untuk memiliki sikap kerendahan hati saat datang ke hadapanNya.
Kedua, Hati yang Mengasihi dan Peduli. Perwira ini datang bukan untuk dirinya, namun untuk hambanya (pelayannya) yang sedang sakit. Pada jaman itu, dalam budaya Romawi, seorang hamba dianggap alat kerja saja, yang saat rusak atau sakit bisa dibuang atau diganti. Namun, perwira ini tak kehilangan empati. Ia mengajari kita bahwa kekuasaan sejati itu diukur dari seberapa besar kita peduli pada mereka yang lemah.
Ketiga, Iman yang memahami kuasa “sepatah kata”. Iman ini membuat Yesus terkagum, hingga ia berkata bahwa belum pernah menemukan iman sebesari ini di antara orang Israel sendiri. Apakah kita memiliki iman yang mempercayai “sepatah kata” dari Tuhan? Seringkali kita hanya mau percaya kalau sudah melihat tanda, merasakan sentuhan di hati, melihat bukti, dst. Iman Perwira ini menjangkau apa yang tidak terlihat.
Kisah ini ditutup dengan indah ketika Yesus mengabulkan permohonannya dan memuji imannya sebagai yang terbesar. “Pulanglah dan jadilah kepadamu seperti yang engkau percaya.” (Mat 8: 13) Melalui perwira ini, kita diundang untuk menanggalkan “seragam kesombongan” kita dan datang kepada Yesus dengan kerendahan hati. Hidup kita akan menjadi lebih baik saat kita mau mempercayakan segala keterbatasan kita pada firman-Nya yang berkuasa.
Ya Hati Yesus yang lemah lembut dan rendah hati, jadikanlah hatiku seperti hati-Mu! Dan, Semoga Allah Mahakuasa memberkatimu, Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:
Allah Bapa sumber kehidupan, Berilah kami santapan kehidupan. Bebaskanlah kami dan sembuhkanlah kami Dengan perantaraan Yesus Putra-Mu terkasih, yang ….
ANTIFON KOMUNI – Matius 8:8
Tuhan, saya tidak pantas menerima Tuhan di rumah saya. Tetapi ucapakan kata sepatah, maka hamba-Mu akan sembuh.
DOA SESUDAH KOMUNI:
Marilah berdoa: Allah Bapa mahakuasa dan kekal, Kami bersyukur, Bahwasanya manusia tidak Kautinggalkan kesepian, Tetapi Kauperkenankan menikmati kedamaian-Mu Berkat sabda Yesus Putra-Mu. Semoga kami selalu berpegang teguh pada-Nya, Sebab Dialah ….
No Comments