
Rm Vincen Suparman SCJ dari Komunitas SCJ Wisconsin – USA
AUDIO RESI:
ANTIFON PEMBUKA:
Inilah perawan yang budiman, yang keluar menyongsong Kristus dengan pelita yang bernyala.
PENGANTAR:
Kata-kata terakhir seseorang yang mau meninggal selalu dicatat, diingat-ingat sebagai wasiat. Biasanya memang mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam. “Tuhan, betapa bahagia aku Kauciptakan!” demikianlah ucapan Klara, yang berasal dari Assisi, pada akhir hidupnya sebagai biarawati. Rasa syukur atas hidup yang segar ini sekaligus mengungkapkan jalan hidupnya. Pada umur 18 tahun ia tertarik pada cara hidup Fransiskus dan lari dari rumah. Dialah Fransiskanes pertama dan pemimpin biara pertama Santa Klara di Assisi.
DOA KOLEKTA:
Marilah berdoa: Allah Bapa yang penuh belas kaslih, dalam diri Santa Klara Engkau telah menumbuhkan cinta akan kemiskinan. Semoga berkat doanya kami mengikuti Kristus dengan semangat kemiskinan, supaya layak memandang Engkau dalam kerajaan surga. Demi Yesus Kristus, …
BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Nubuat Yehezkiel 2:8 – 3:4
“Diberikan-Nya gulungan kitab itu untuk kumakan, dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku.”
Tuhan bersabda kepadaku, “Hai anak manusia, dengarkanlah sabda-Ku kepadamu. Janganlah membantah seperti kaum pemberontak ini. Ngangakanlah mulutmu dan makanlah apa yang Kuberikan kepadamu.” Aku melihat, ada tangan yang terulur kepadaku, dan sungguh, dipegang-Nya sebuah gulungan kitab. Ia membentangkannya di hadapanku. Gulungan kitab itu ditulisi timbal balik dan di sana tertulis nyanyian-nyanyian ratapan, keluh kesah, dan rintihan. Sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah apa yang engkau lihat di sini; makanlah gulungan kitab ini dan pergilah, berbicaralah kepada kaum Israel.” Maka kubukalah mulutku dan diberikan-Nya gulungan kitab itu untuk kumakan. Lalu sabda-Nya kepadaku, “Hai anak manusia, makanlah gulungan kitab yang Kuberikan ini dan isilah perutmu dengannya.” Lalu aku memakannya dan rasanya manis seperti madu dalam mulutku. Tuhan bersabda lagi, “Hai anak manusia, mari, pergilah! Temuilah kaum Israel, dan sampaikanlah sabda-Ku kepada mereka.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah
MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 119:14.24.72.103.111.131
Ref. Betapa manis janji Tuhan bagi langit-langitku.
-
Aku bergembira atas peringatan-peringatan-Mu, melebihi segala harta.
-
Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, dan kehendak-Mu menjadi penasihat bagiku.
-
Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku, lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak,
-
Betapa manis janji-Mu bagi langit-langitku, melebihi madu di mulutku.
-
Peringatan-peringatan-Mu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku.
-
Mulutku kungangakan dan mengap-mengap, sebab aku mendambakan perintah-perintah-Mu.
BAIT PENGANTAR INJIL:
U : Alleluya
S : (Mat 1:29ab) Terimalah beban-Ku dan belajarlah dari pada-Ku, sebab Aku lemah lembut dan rendah hati.
BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 18:1-5.10.12-14
“Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak ini.”
Sekali peristiwa datanglah murid-murid dan bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Maka Yesus memanggil seorang anak kecil, dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata, “Aku berkata kepadamu: Sungguh, jika kalian tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kalian tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Dan barangsiapa menyambut seorang anak kecil seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Ingatlah, jangan menganggap rendah seorang pun dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Malaikat-malaikat mereka di surga selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.” Lalu Yesus bersabda lagi, Bagaimana pendapatmu? Jika seseorang mempunyai seratus ekor domba dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang 99 ekor di pegunungan lalu pergi mencari yang sesat itu? Dan Aku berkata kepadamu, sungguh, jika ia berhasil menemukannya, lebih besarlah kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian pula Bapamu yang di surga tidak menghendaki seorang pun dari anak-anak ini hilang.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus
RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Vincen Suparman SCJ
Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.
Matius 18:1-5; 12-14 menyajikan gambaran yang kuat tentang kerendahan hati, kasih terhadap mereka yang rentan, dan urgensi untuk mencari mereka yang hilang. Jesus mengawali dengan mengubah sudut pandang murid-murid mengenai kebesaran menjadi sebuah panggilan untuk menjadi “seperti anak kecil” — bukan dalam hal ukuran fisik, melainkan dalam keterbukaan, kepercayaan, dan ketergantungan kepada Allah. Kerendahan hati layaknya anak kecil ini merupakan ciri warga Kerajaan Allah yang sejati; sikap ini menolak kesombongan dan kepentingan diri sendiri demi berserah sepenuhnya pada kehendak Allah. Perumpamaan tentang domba yang hilang (ayat 12-14) menjadi inti dari bagian ini. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa hati Allah tertuju bukan pada sembilan puluh sembilan domba yang aman, melainkan pada satu domba yang telah tersesat. Sang gembala meninggalkan kawanannya untuk melakukan pencarian dan bersukacita saat menemukannya kembali. Hal ini mencerminkan keinginan Allah sendiri: “Bukan kehendak Bapa-Ku bahwa seorang pun dari anak-anak kecil ini akan binasa.” Perumpamaan ini menantang kita untuk memandang setiap orang — khususnya mereka yang telah tersesat — sebagai sosok yang berharga di mata Allah, serta menjangkau mereka dengan kesabaran, belas kasih, dan kasih yang tak tergoyahkan. Dalam ayat 1-8, Yesus juga memperingatkan agar kita tidak menyebabkan orang lain jatuh ke dalam dosa. Seruan untuk “memotong” tangan atau kaki yang menyebabkan dosa, atau “mencungkil” mata, bukanlah perintah harfiah melainkan simbol akan perlunya disiplin diri yang radikal demi melindungi komunitas iman. Hal ini bukan tentang hukuman, melainkan tentang menjaga integritas tubuh Kristus dan melindungi mereka yang rentan. Implikasi praktis: Kerendahan hati di atas kesombongan: Pemuridan bukan tentang status atau pengakuan, melainkan tentang melayani dan mengasihi sebagai anak-anak Allah. Kesabaran terhadap mereka yang hilang: Kita tidak boleh menyerah terhadap mereka yang telah tersesat; sebaliknya, kita harus mencari mereka, mendoakan mereka, dan menyambut mereka kembali. Melindungi mereka yang rentan: Kita dipanggil untuk melindungi dan mempedulikan “anak-anak kecil” — mereka yang lemah, terpinggirkan, dan mereka yang telah jatuh dari iman — karena kita dipanggil untuk menyambut mereka sebagaimana kita menyambut Kristus sendiri. Disiplin diri demi kebaikan orang lain: Kita harus bersedia menyingkirkan apa pun yang membahayakan komunitas, bahkan jika hal itu menuntut pengorbanan pribadi. Singkatnya, ayat-ayat ini mengajak kita untuk hidup dengan kepercayaan layaknya seorang anak, mengejar mereka yang hilang dengan kegigihan yang penuh sukacita, melindungi mereka yang rentan, serta mendisiplinkan diri demi kebaikan seluruh tubuh Kristus.
Mengakhiri renungan ini, marilah kita mendisplinkan diri kita agar kita layak menjadi murid-murid Jesus yang dalam pelayanan kita memprioritaskan mereka yang tersesat dan tersinkir. Amin.
DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:
Allah Bapa yang mahamurah, dalam diri Santa Klara Kaulebur manusia lama dan Kauciptakan manusia baru menurut citra-Mu. Semoga kami pun Kauperbaharui sehingga Engkau berkenan menerima kurban perdamaian yang kami rayakan ini. Demi Kristus,…
ANTIFON KOMUNI – Lih. Matius 19:27-29.
Kalian telah meninggalkan segalanya dan mengikuti Aku. Kalian akan menerima ganjaran seratus kali lipat dan mewarisi hidup abadi.
DOA SESUDAH KOMUNI:
Marilah berdoa: Allah Bapa yang mahakuasa dan mahamulia, semoga berkat kekuatan sakramen ini kami belajar dari teladan Santa Klara. Kiranya kami mengutamakan Dikau di atas segala-galanya dan di dunia ini sudah hidup sebagai manusia baru. Demi Kristus, …
DOWNLOAD AUDIO RESI
St. Klara dari Asisi, Perawan

Terima kasih Romo atas homilinya