Jumat, 14 Agustus 2026 – Peringatan Wajib St. Maksimilianus Maria Kolbe, Imam – Martir

Fr Simeon Salos Epri Sanjaya SCJ dari Komunitas SCJ Visma Vijaya Praya VVP Yogyakarta – Indonesia

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA   – 1Sam 2:35

Seorang imam akan Kuangkat bagi-Ku. Ia setia pada-Ku dan bertindak menurut maksud dan keinginan-Ku.

PENGANTAR: 

“Kebencian bukanlah kekuatan yang membangun. Hanya kasih merupakan kekuatan yang membangun” demikianlah keyakinan Santo Maximilianus Maria Kolbe yang kita peringati hari ini. Bimbingan dan perlindungan kasih Bunda Maria yang dia wartakan memberikan kekuatan baginya untuk menggantikan posisi para tahanan yang akan di dihukum mati oleh kaum Nazi. Suatu suntikan carbolic acid mempercepat kematiannya pada tanggal 14 Agustus 1941 dan dinyatakan kudus dan martir oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1982.

DOA KOLEKTA: 

Marilah berdoa: Allah Bapa Mahapengasih, dengan kekuatan-Mu, Santo Maximilianus Maria Kolbe telah menghadapi derita martir dan mengurbankan nyawa demi kehidupan seorang saudara dalam Kristus. Pandanglah kelemahan kami dan berilah kami kekuatan, agar dapat menjadi saksi kebenaran dan cinta kasih-Mu dalam hidup dan mati kami. Demi Yesus Kristus, Putera-Mu,…

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yehezkiel 16:59-63      

“Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan dikau, dan engkau akan merasa malu.”

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Aku akan melakukan kepadamu seperti engkau lakukan, yaitu engkau memandang ringan kepada sumpah dengan mengingkari perjanjian. Tetapi Aku akan mengingat perjanjian-Ku dengan engkau pada masa mudamu dan Aku akan meneguhkan bagimu perjanjian yang kekal. Barulah engkau teringat kepada kelakuanmu dan engkau merasa malu, pada waktu Aku mengambil kakak-kakakmu, baik yang tertua maupun yang termuda, dan memberikan mereka kepadamu menjadi anakmu, tetapi bukan berdasarkan engkau memegang perjanjian. Aku akan meneguhkan perjanjian-Ku dengan engkau, dan engkau akan mengetahui bahwa Akulah TUHAN, dan dengan itu engkau akan teringat-ingat yang dulu dan merasa malu, sehingga mulutmu terkatup sama sekali karena nodamu, waktu Aku mengadakan pendamaian bagimu karena segala perbuatanmu.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

KIDUNG TANGGAPAN: Yes 12:2-3.4bcd.5-6

Ref. Tuhan, Dikaulah sumber air hidup.

  1. Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gemetar; sebab Tuhan Allah itu kekuatan dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku. Maka kamu akan menimba air dengan kegirangan dari mata air keselamatan.

  2. “Bersyukurlah kepada Tuhan, panggillah nama-Nya, beritahukanlah karya-Nya di antara bangsa-bangsa, masyhurkanlah bahwa nama-Nya tinggi luhur.

  3. Bermazmurlah bagi Tuhan, sebab mulialah karya-Nya; Baiklah hal ini diketahui di seluruh bumi! Berserulah dan bersorak-sorailah, hai penduduk Sion, sebab Yang Mahakuasa, Allah Israel, agung di tengah-tengahmu.”

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya, alleluya
S : Sambutlah pewartaan ini sebagai sabda Allah, bukan sebagai perkataan manusia

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 19:3-12

“Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kalian menceraikan isterimu, tetapi semula tidaklah demikian.”

Pada suatu hari datanglah orang-orang Farisi kepada Yesus, untuk mencobai Dia. Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya dengan alasan apa saja?” Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan? Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan isterinya?” Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian. Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah.” Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus

RESI DIBAWAKAN OLEH Fr. Simeon Salos Epri Sanjaya SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Salam jumpa dengan saya Frater Simeon Salos Epri Sanjaya, SCJ, dari komunitas Visma Vijaya Praya Yogyakarta. Sekarang marilah kita persiapkan hati dan pikiran kita untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Allah dari Injil Matius 19:3-12.

Para pendengar Resi Dehonian yang terkasih, Injil hari ini berbicara tentang kesetiaan dalam panggilan hidup. Ketika orang Farisi bertanya kepada Yesus tentang perceraian, Yesus tidak hanya menjawab dari sisi hukum, tetapi mengajak mereka kembali kepada kehendak Allah sejak semula: “Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Sabda ini menunjukkan bahwa Allah menuntut kita untuk hidup dalam komitmen dan kesetiaan. Komitmen dan kesetiaan tidak hanya dibutuhkan dalam hidup perkawinan, tetapi juga dalam setiap panggilan hidup kita. Apa pun panggilan kita, Allah menghendaki agar kita menjalaninya dengan sungguh-sungguh dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Semangat kesetiaan itulah yang dapat kita lihat dalam diri St. Maksimilianus Maria Kolbe. Ia adalah seorang imam dan biarawan yang hidup pada masa Perang Dunia II dan mengalami kekejaman kamp konsentrasi Auschwitz. Ketika seorang tahanan dijatuhi hukuman mati dan mengungkapkan kesedihannya karena memikirkan keluarganya, Kolbe menawarkan dirinya untuk menggantikannya. Ia sadar bahwa pilihannya berarti penderitaan dan kematian. Namun, ia memilih memberikan hidupnya bagi orang lain. Dengan demikian, Kolbe menunjukkan bahwa kasih Kristiani bukan sekadar kata-kata, melainkan kesediaan untuk memberikan diri bagi sesama.

Dari Injil dan teladan St. Maksimilianus Kolbe, kita menemukan satu pesan yang kuat: kesetiaan kepada Tuhan harus diwujudkan dalam kasih yang memberikan diri kepada sesama. Kita mungkin tidak dipanggil untuk melakukan pengorbanan sebesar Kolbe, tetapi kita dipanggil untuk memberikan diri melalui hal-hal sederhana: setia kepada keluarga, bertanggung jawab dalam pelayanan, bersedia untuk membantu sesama, mau mengampuni, dan tetap hadir bagi orang lain ketika mereka membutuhkan. Justru melalui kesetiaan dalam perkara-perkara kecil itulah kita belajar menjadi pribadi yang semakin mampu memberikan diri.

Pada akhirnya, teladan St. Maksimilianus Kolbe mengarahkan kita kepada Kristus sendiri. Dalam Ekaristi, Kristus memberikan Tubuh dan Darah-Nya bagi keselamatan kita. Ia tidak hanya mengatakan bahwa Ia mengasihi manusia, tetapi membuktikan kasih itu dengan memberikan diri-Nya, “Inilah Tubuh-Ku – Inilah Darah-Ku yang diserahkan bagimu.” Kolbe mengikuti jalan yang sama: menerima hidup sebagai anugerah dan kemudian menjadikannya persembahan bagi Allah dan sesama. Maka, marilah kita memohon melalui perantaraan St. Maksimilianus Maria Kolbe agar kita semakin setia pada panggilan masing-masing, senantiasa hidup dalam kasih, dan berani untuk memberikan diri bagi sesama. Semoga hidup kita, melalui hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari, menjadi tanda bahwa kasih Kristus masih hadir dan bekerja di tengah dunia. Semoga Tuhan memberkati kita. Amin.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN: 

Allah Bapa, Raja Mahamulia, terimalah dengan rela roti dan anggur ini, yang kami persembahkan untuk mengenangkan Santo maximilianus Maria Kolbe, yang mengurbankan nyawanya demi keselamatan seorang bapak muda. Sebagaimana darah martir-Mu berharga di hadapan-Mu, demikian pula semoga pengabdian kami bernilai bagi-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami. Amin

ANTIFON KOMUNI  –  Yoh. 15:13

Tiada cinta kasih yang lebih besar daripada cinta kasih orang yang menyerahkan nyawanya demi sahabatnya.

DOA SESUDAH KOMUNI: 

Marilah berdoa: Allah Bapa Mahapengasih dan Penyayang, kami telah Kausegarkan dengan santapan suci. Semoga kami sebagaimana Santo maximilianus Maria Kolbe menghayati iman dan cinta kasih sejati dengan nyata dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari. Demi Kristus Tuhan dan pengantara kami. Amin,

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

Santo Maximilianus Maria Kolbe

Martir Cinta Kasih

Raymond Kolbe dilahirkan di Polandia pada tahun 1894. Ia bergabung dengan Ordo Fransiskan pada tahun 1907 dan memilih nama seperti kita mengenalnya sekarang: Maximilianus. Maximilianus amat mencintai panggilannya dan secara istimewa ia mencintai Santa Perawan Maria. Ia menambahkan nama “Maria” pada namanya ketika ia mengucapkan kaul agungnya pada tahun 1914.

Maximilianus meyakini bahwa dunia abad keduapuluh membutuhkan Bunda Surgawi mereka untuk membimbing serta melindunginya. Ia mempergunakan media cetak agar Maria lebih dikenal luas. Ia bersama dengan teman-teman Fransiskannya menerbitkan bulletin yang terbit dua bulan sekali yang segera saja tersebar dan dibaca orang di seluruh dunia.

Bunda Allah memberkati karyanya. Maximilianus kemudian membangun sebuah biara besar di Polandia. Biara tersebut dinamainya “Kota Immaculata”. Pada tahun 1938, delapan ratus biarawan Fransiskan tinggal serta berkarya  di sana untuk mewartakan kasih sayang Maria. Kolbe juga membangun sebuah Kota Immaculata di Nagasaki, Jepang. Dan sebuah lagi dibangunnya di India.

Pada tahun 1938, Nazi menyerbu Kota Immaculata Polandia. Mereka menghentikan karya mengagumkan yang berlangsung di sana. Pada tahun 1941, kaum Nazi menangkap Maximillianus Kolbe. Mereka menjatuhkan hukuman kerja paksa di Auschwitz.

Maximillianus telah berada di Kamp Konsentrasi Auschwitz selama tiga bulan ketika seorang tahanan berhasil melarikan diri. Para Nazi menghukum tahanan yang tersisa oleh karena tahanan yang melarikan diri tersebut. Mereka memilih secara acak sepuluh orang tahanan untuk dihukum mati dalam bunker kelaparan.

Seluruh tahanan berdiri tegang sementara sepuluh orang ditarik keluar dari barisan. Seorang tahanan bernama Franciszek Gajowniczek terpilih, ia adalah pria yang telah menikah dan mempunyai keluarga. Franciszek kemudian merengek serta memohon dengan sangat agar diampuni demi anak-anaknya namun para Nazi tidak peduli.

Maximillianus Kolbe, yang tidak terpilih, mendengarnya dan hatinya tergerak oleh belas kasihan untuk menolong Franciszek. Ia maju ke depan dan bertanya kepada komandan NAZI apakah ia dapat menggantikan Franciszek. Sang komandan setuju dengan permintaannya.

Pater Kolbe dan sembilan tahanan yang lain digiring masuk ke dalam bunker kelaparan. Mereka tetap hidup tanpa makanan atau pun air selama beberapa hari. Satu per satu, sementara mereka mati kelaparan, Pater Kolbe menolong serta menghibur mereka. Saat pintu bunker dibuka semua tahanan sudah meninggal kecuali Maximillianus Kolbe. Para Nazi kemudian memberikannya suatu suntikan carbolic acid untuk mempercepat kematiannya pada tanggal 14 Agustus 1941.

Maximillianus Maria Kolbe dinyatakan sebagai seorang kudus dan martir cinta kasih oleh Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1982.

Arti Nama

Maximilianus adalah nama latin yang diturunkan dari kata Maximus yang berarti “The Greatest” atau “Yang Terbesar”

Variasi Nama

Maximillian (English), Maximianus, Maximilianus, Maximinus, Maximus (Ancient Roman), Maxmilián (Czech), Maximiliaan, Max (Dutch), Maxime, Maximilien (French), Miksa (Hungarian), Massimiliano, Massimo (Italian), Maksim (Macedonian), Maksym, Maksymilian (Polish), Maximiano, Maximiliano, Maximino (Portuguese), Maksim, Maksimilian, Maxim, Maks (Russian), Maximilián (Slovak), Maximiano, Maximiliano, Maximino, Máximo (Spanish), Macsen, Maxen (Welsh)

No Comments

Leave a Comment