Sabtu, 15 Agustus 2026 – Hari Biasa Pekan XIX

Rm Paulus Dito Rahmadi SCJ dari Komunitas SCJ Bangko Merangin Jambi – Indonesia

 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA – Matius 19:14

Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku. Sebab orang seperti merekalah yang memiliki kerajaan surga.

PENGANTAR:

Kita cenderung melemparkan tanggung jawab kepada orang lain, bahkan cuci tangan seperti Pilatus. Orang dapat mempersulit kita, namun akhirnya kita sendirilah yang harus bertobat. Keterbukaan hati dan kesederhanaan anak-anak menunjukkan jalan menuju hati dan semangat baru yang menandai manusia Perjanjian Baru.

DOA KOLEKTA:

Marilah bedoa: Allah Bapa, sumber segala harapan, berilah kiranya kami Roh baru dan hati yang sederhana serta terbuka terhadap sabda-Mu. Semoga hidup kami mengungkapkan pengharapan yang sudah tertanam di dalam hati kami. Demi Yesus Kristus Putra-Mu, ….

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Yehezkiel 18:1-10.13b.30-32

“Aku menghukum kalian sesuai dengan tindakanmu sendiri.”

Tuhan bersabda kepadaku, “Apakah maksudnya kalian mengucapkan pepatah ini di Israel, ‘Ayah-ayah makan buah mentah, dan gigi anak-anaknya menjadi ngilu’? Demi Aku yang hidup, demikianlah sabda Tuhan, kalian tidak akan mengucapkan pepatah itu lagi di Israel. Sungguh, semua jiwa itu Aku yang punya! Baik jiwa ayah maupun jiwa anak Akulah yang punya! Dan orang yang berbuat dosa, dia sendirilah yang harus mati. Orang benar ialah yang melakukan keadilan dan kebaikan. Ia tidak makan daging persembahan di atas gunung. Ia tidak memuja-muja berhala-berhala kaum Israel. Ia tidak mencemari isteri sesamanya dan tidak menghampiri wanita yang sedang haid. Ia tidak menindas orang lain. Ia mengembalikan gadaian orang dan tidak merampas apa-apa. Ia memberi makan orang lapar dan memberi pakaian kepada orang telanjang. Ia tidak memungut bunga dan tidak memakan riba. Ia menjauhkan diri dari kecurangan dan melakukan hukum yang benar dalam hubungan dengan sesama manusia. Ia hidup menurut ketetapan-Ku, dan tetap mentaati peraturan-Ku; ia berlaku setia. Orang demikianlah orang yang benar, dan ia pasti hidup,” demikianlah sabda Tuhan Allah. “Tetapi kalau ia melahirkan seorang anak yang menjadi perampok, dan yang suka menumpahkan darah atau melakukan salah satu dari kejahatan tersebut, maka anak itu sendirilah yang harus mati, dan darahnya tertumpah pada dia sendiri. Oleh karena itu Aku akan menghukum kalian masing-masing menurut tindakanmu, hai kaum Israel,” demikianlah sabda Tuhan Allah. “Maka bertobatlah dan berpalinglah dari segala durhakamu, jangan sampai itu menjadi batu sandungan, yang menjatuhkan kamu ke dalam kesalahan. Buanglah dari padamu segala durhaka yang kalian lakukan terhadap-Ku dan perbaharuilah hari serta rohmu! Mengapa kalian mau mati, hai kaum Israel? Aku tidak berkenan akan kematian seseorang yang harus ditanggungnya,” demikianlah sabda Tuhan Allah. “Oleh karena itu bertobatlah, supaya kalian hidup.”
Demikianlah sabda Tuhan
Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 51:3-4.5-6a.12-13.14.17

Ref. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah.

  1. Ciptakanlah hati yang murni dalam diriku, ya Allah, dan baharuilah semangat yang teguh dalam batinku. Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

  2. Berilah aku sukacita karena keselamatan-Mu, dan teguhkanlah roh yang rela dalam diriku. Maka aku akan mengajarkan jalan-Mu kepada orang-orang durhaka, supaya orang-orang berdosa berbalik kepada-Mu.

  3. Tuhan, Engkau tidak berkenan akan kurban sembelihan; dan kalaupun kupersembahkan kurban bakaran, Engkau tidak menyukainya. Persembahanku kepada-Mu ialah jiwa yang hancur; hati yang remuk redam tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya, alleluya
S : (Mat 11:25) Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 19:13-15

“Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku.”

Sekali peristiwa orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia meletakkan tangan-Nya atas mereka dan mendoakan mereka. Tetapi murid-murid Yesus memarahi orang-orang itu. Maka Yesus berkata, “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku. Sebab orang-orang seperti merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Lalu Yesus meletakkan tangan-Nya atas mereka dan kemudian Ia berangkat dari situ.
Demikianlah Sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Paulus Dito Rahmadi SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Kudus melalui Hati Maria.

Para Sahabatku, Saudari-saudara yang dicintai dan mencintai Hati Kudus Yesus. Salam jumpa bersama Saya, Rm. Paulus Dito Rahmadi SCJ dari Komunitas SCJ Bangko, Merangin, Jambi, Indonesia, dalam Resi (Renungan singkat) Edisi Sabtu, 15 Agustus 2026. Semoga Belas Kasih dan Kerahiman dari Hati Yesus yang Maha Kudus memberkati Anda semua. Amin.

Sebelum merenungkan sabda Tuhan, mari kita persiapkan hati dan kita awali permenungan kita dengan tanda kemenangan Kristus. Dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus..

Ada sebuah keluarga atau mungkin anda yang mendengarkan ReSi ini telah menjadi bagian dari apa yang saya sampaikan dalam permenungan ini tentang melakukan kebiasaan sederhana. Kebiasaan sederhana yang dilakukan oleh sebuah keluarga itu adalah jika anak mereka hendak pergi, entah ke sekolah, kerja atau hendak pergi jauh, orang tua memberikan tanda salib di dahi atau mengatakan “Tuhan memberkatimu”. Jika hal itu dilakukan berarti orang tua menyertai kepergian anak-anaknya dengan sebuah berkat, berkat yang dimohonkan dari Kristus sendiri.

Memberikan tanda salib di dahi merupakan tindakan yang sangat sederhana, tidak memerlukan waktu lebih dari 5 detik. Tindakan itu mempunyai makna yang mendalam yakni menunjukkan iman yang sungguh hidup dalam sebuah keluarga tentang memberikan berkat.

Tindakan Yesus yang sungguh sederhana dimana Ia membiarkan anak-anak datang kepada-Nya dan Ia memberkati mereka dengan meletakkan tanganNya atas mereka, mengajak kita untuk bertindak seperti Yesus. Ketika berjumpa dengan anak, kita memberi berkat kepada mereka. Tujuan memberikan berkat adalah supaya orang yang kita berkati, atas nama kuasa Allah sendiri, orang tersebut mengalami damai. Tentulah bahwa kita juga perlu belajar dari sikap anak-anak yang dibiarkan oleh Yesus datang kepadaNya. Yesus mengatakan “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Sorga.” Mengapa demikian? Karena kalau kita lihat dan pahami, ketulusan dan kemurnian hati merekalah yang dilihat oleh Yesus sebagai keutamaan. Maka, ketulusan dan kemurnian hati adalah keutamaan yang harus kita teladani dari anak-anak kecil. Hal apa yang senantiasa menghalangi ketulusan dan kemurnian hati? Tentu yang menghalangi adalah hati yang tidak damai yang disebabkan oleh banyak hal. Misalnya dendam, amarah, permusuhan dan segala hal yang berada dibawah kuasa kegelapan.

Maka, mari kita kembali menata hati kita. Jangan sampai hati kita dikuasi oleh kuasa kegelapan. Mari kita juga menjadi orang yang tulus dalam mengasihi orang-orang di sekitar kita dengan memberikan berkat dari Allah.

Saudara saudariku yang dikasihi Tuhan, semoga Hati Kudus Yesus semakin merajai hati kita dan menerangi hati kita sehingga kita berani mengatakan “Hati Yesus yang Mahakudus, jadikanlah hati kami seperti hatiMu”.

Semoga Allah yang Mahakuasa memberkati aktivitas dan keluarga anda masing-masing (+) Dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus. Amin.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:

Allah Bapa maha pengasih, jadikanlah kiranya kami putra dan putri-Mu yaitu orang-orang yang mirip dengan Dia, yang sungguh pantas disebut Putra-Mu, ialah Yesus, Saudara kami se-Bapa, ….

ANTIFON KOMUNI – Matius 19:14

Janganlah menghalang-halangi anak-anak datang kepada-Ku, sebab orang seperti merekalah yang memiliki kerajaan surga.

DOA SESUDAH KOMUNI:

Marilah berdoa: Allah Bapa mahakudus, kami bersyukur, bahwasanya Engkau telah berkenan membuka pintu kerajaan surga bagi kami dengan perantaraan Yesus Putra-Mu terkasih. Semoga kami mengakui, bahwa Dialah jalan, kehidupan dan kebenaran kami dalam segala tingkah laku kami. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami.

DOWNLOAD AUDIO RESI:

Santo Tarsisius

Pelindung Para Misdinar

St. Tarsisius – Pelindung Para Misdinar

Keberadaan martir muda Romawi ini ditemukan dalam sebuah puisi yang ditulis oleh Paus Damasus untuk menghormatinya.  Dalam puisi itu  Paus Damasus membandingkan kemartiran Santo Tarsisius dengan kemartiran Santo Stefanus di abad pertama. Mereka sama-sama mati dirajam demi iman mereka akan Yesus Kristus. Stefanus mati dirajam orang-orang Yahudi di Yerusalem dan Tarsisius yang sedang membawa Sakramen Mahakudus, mati diserang gerombolan orang kafir Romawi.  

Paus Damasus menulis :

Selain tulisan dari Paus Damasus,  tidak ada catatan tentang kehidupan pahlawan belia ini.  Dia mungkin seorang diakon; karena Paus Damasus membandingkan dia dengan Stefanus. Tradisi yang berkembang beberapa abad setelah kemartirannya kemudian menyebutkan bahwa Santo Tarsicius adalah seorang putera altar, yang menerima mahkota kemartirannya saat sedang menghantarkan Sakramen Ekaristi bagi para tahanan  kristiani yang akan dihukum mati.  Suatu hal yang pasti adalah; kemartirannya terjadi pada masa penganiayaan umat  Kristiani di pertengahan abad ketiga, pada masa pemerintahan kaisar Valerianus.  Santo Tarsisius dimakamkan di Katakombe Santo Kalisitus di Roma. Sebuah Prasasti yang indah dikemudian hari dibangun oleh Paus Damasus dimakamnya.   

Berikut kisah Santo Tarsisius menurut tradisi yang berkembang beberapa abad setelah kemartirannya.

Tarsisius adalah seorang pelayan altar (akolit) yang hidup di abad ketiga, pada zaman pemerintahan Kaisar Valerianus. Ia tinggal di Roma, Italia. Ketika berumur sepuluh tahun, ia bersama ibunya biasa mengikuti Misa pagi. Masa itu masa penganiayaan bagi umat Kristiani; karena itu Misa pagi dilakukan di tempat yang tersembunyi.  Setelah memastikan sekelilingnya aman, Tarsisius mengetuk sebuah dinding batu. Itu adalah pintu masuk menuju sebuah makam bawah tanah yang dijadikan kapel. Tempat ini sering disebut katakombe. Mereka berjalan merangkak masuk, dan di sana ditemukan begitu banyak umat Kristiani yang sedang berdoa.

Tak lama kemudian, muncul seorang imam. Mereka bersama-sama merayakan Perjamuan Tuhan. Tarsisius merasa amat bahagia bila menerima Tubuh Kristus. Setiap kali mendengar imam berkata: “Makanlah dan minumlah, inilah Tubuh-Ku, inilah Darah-Ku”, Tarsisius merasa damai.

Namun hari itu, setelah Misa selesai, pastor yang memimpin misa (Tradisi lain menyebutkan : Paus yang memimpin misa) melihat sekeliling. Ia berseru, “Kita sama seperti saudara-saudara kita yang rela mati demi iman akan Tuhan yang bangkit. Saat ini mereka sedang dalam penjara. Besok, mereka akan dilemparkan ke tengah singa lapar. Mereka hanya berharap agar sebelum mati di mulut singa- singa lapar itu, mereka menerima santapan kekal, Tubuh Tuhan yang Mahakudus. Siapakah yang rela ke penjara mengantar roti kudus ini?”

Mendengar pertanyaan itu, umat saling memandang ketakutan. “Pastor, Anda tak boleh pergi. Pastor pasti ditangkap,” kata salah seorang umat. Dari umat yang hadir ada seorang serdadu Roma yang baru saja bertobat. Mantan serdadu ini menawarkan diri untuk melakukan tugas itu. Namun, umat juga keberatan karena mantan serdadu ini pun sedang dicari-cari.

Tarsisius merasa mampu melaksanakan tugas mulia itu. Tanpa bersuara, ia menengadah ke arah ibunya. Ibunya mengerti maksud Tarsisius dan menganggukkan kepala. Tarsisius berdiri dan berkata, “Pastor, biarkan aku ke sana membawa Tubuh Kristus untuk saudara-saudara kita.” Pastor menggeleng, “Engkau masih terlalu kecil. Kalau serdadu Romawi menangkapmu, apa yang akan kau perbuat?”

Tarsisius berusaha meyakinkan pastor. “Percayalah, Pastor. Saya akan berhati-hati dan menjaga Ekaristi Mahakudus ini supaya tiba dengan selamat.” Melihat keberanian Tarsisius, imam lalu membungkus Sakramen Mahakudus dan memberikannya kepada Tarsisius.

Perjalanan melewati daerah serdadu Romawi aman. Namun, justru saat melewati sebuah lapangan tempat teman-teman Tarsisius sedang bermain, halangan muncul. Teman-temannya mengajaknya bermain. Tarsisius menolak. Teman-temannya heran. Mereka mengerumuni Tarsisius. Ketika mereka melihat Tarsisius memegang sesuatu di tangan, mereka menarik tangan Tarsisius, dan berusaha melihat apa yang ada di dalamnya. Tarsisius tidak melepaskan tangannya. Bahkan, ia semakin kuat mempertahankan apa yang sedang dipegangnya. Akhirnya, Tarsisius jatuh.

Satu di antara anak-anak itu kesal, karena tidak berhasil melepaskan tangan Tarsisius. Katanya, “Ayo kita buktikan siapa yang paling kuat!” Ia mengambil batu dan melemparkannya ke arah Tarsisius. Tarsisius bergeming namun tangannya tetap tak terbuka. Kini, ia semakin kuat memeluk Sakramen Mahakudus di dadanya. Anak-anak itu semakin marah dan brutal. Mereka merajam Tarsisius dengan batu berkali-kali.

Beberapa menit kemudian, Tarsisius sudah tak sadarkan diri. Tiba-tiba terdengar suara, “Berhenti! Mengapa kalian menganiaya dia?” Anak-anak itu lari terbirit-birit. Ternyata, suara itu berasal dari serdadu Romawi yang bertobat, yang sebelumnya telah menawarkan diri untuk membawa Sakramen Mahakudus. Mantan serdadu ini mengikuti Tarsisius dari jauh. Ia lari ke arah Tarsisius, memeluknya dengan perasaan sedih. Ia menggendong Tarsisius yang sudah tak sadarkan diri. “Tarsisius, Tarsisius,” panggilnya dengan suara halus. Tarsisius membuka matanya yang memar dan berkata pelan, “Tubuh Kristus masih di tanganku.” Setelah mengatakan itu, Tarsisius menutup matanya.

Tarsisius meninggal dalam perjalanan pulang menuju katakombe. Jasadnya dimakamkan di katakombe santo Kalisitus, Roma. 

Arti nama

Tarsisius berasal dari kata latin : “Tharsicius”. Mungkin diturunkan dari nama Yunani : “Tarsikos”  yang berarti : “Orang Tarsus” atau “Berasal dari Tarsus”.  Tarsus  adalah nama sebuah kota Yunani pada abad pertama.

Variasi Nama

Tarcisius (Late Roman), Tarkisius (Late Roman), Tarsitius (Late Roman), Tarzisius (Late Roman), Tharcisius (Late Roman), Tarcisio (Italian), Tarcisio (Spanish), Tarcísio (Portuguese).

Sumber: https://katakombe.org/para-kudus/agustus/tarsisius.html

No Comments

Leave a Comment