Rabu, 16 September 2020 – Peringatan St. Kornelius, Paus dan St. Siprianus, Uskup dan Martir

Rm. Benediktus Mulyono SCJ dari Komunitas SCJ Biara Gentiaras Palembang Indonesia

 
 
 

ANTIFON PEMBUKA 

Para kudus bergembira di surga, sebab mengikuti jejak Kristus. Mereka menumpahkan darahnya demi Dia, sehingga kini bersukaria selamanya.

 

PENGANTAR

Persahabatan umumnya merupakan daya pendorong semangat. Korneljus dan Siprianus hidup di tempat yang berlainan dan meninggal pada saat yang berbeda pula. Tetapi karena selaMa hidup mereka bersahabat, maka diperingati secara bersama.

Setahun setelah Paus Fabianus gugur sebagai martir, Komelius seorang imam menjadi penggantinya (th.251). Sementara itu timbul persoalan, apakah mereka yang murtad dalam masa penganiayaan dapat diterima kembali dalam pangkuan Gereja. Kornelius dengan dukungan Siprianus dan uskup-uskup lain menganut garis moderat, sedangkan Novatianus dengan keras menolak pengampunan bagi yang meninggalkan Gereja. Dalam penganiayaan berikut Kornelius dibuang dan gugu: tahun 253.

Siprianus pada zamannya temasuk yang disegani di antara para uskup di Afrika Utara. Semula ia mengajar retorika dan pada tahun 248 diangkat menjadi uskup Kartago. Ia giat mempelajari Kitab Suci dan para Bapa Gereja dan meninggalkan tulisan-tulisan, antara lain keterangan mengenai Bapa Kami. Tugasnya dilaksanakan dengan baik dan tegas. Ia disayang dan disegani umat. Pada masa penganiayaan berikutnya ia gugur sebagai martir (Th. 258)

DOA PEMBUKA

Marilah berdoa: Allah Bapa, Gembala para gembala kami, Engkau telah memberi umat-Mu pemimpin setia dan martir perkasa, yaitu Santo Kornelius dan Siprianus. Semoga berkat doa mereka kami tetap teguh, kuat dalam iman dan ulet dalam memajukan kesatuan di dalam Gereja. Dengan pengantaraan Yesus Kristus, Putra-Mu, Tuhan kami, yang bersama dengan Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan berkuasa, Allah, sepanjang segala masa. Amin.
 

BACAAN PERTAMA: I Korintus (12:31-13:13)

Saudara-saudara, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi. Sekalipun aku dapat berbicara dalam semua bahasa manusia dan malaikat, tetapi tidak mempunyai kasih, aku seperti gong yang bergaung atau canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia bernubuat dan aku tahu segala rahasia serta memiliki seluruh pengetahuan; sekalipun aku memiliki iman sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar, murah hati dan tidak cemburu. Kasih tidak memegahkan diri, tidak sombong dan tidak bertindak kurang sopan. Kasih tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak cepat marah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Kasih tidak bersukacita atas kelaliman, tetapi atas kebenaran. Kasih menutupi segala sesuatu, percaya akan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan. Nubuat akan berakhir, bahasa roh akan berhenti, dan pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi bila yang sempurna tiba, hilanglah yang tidak sempurna. Ketika masih kanak-kanak, aku berbicara seperti kanak-kanak, mereka seperti kanak-kanak, dan berpikir seperti kanak-kanak pula. Tetapi sekarang, setelah menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Sekarang ini kita melihat gambaran samar-samar seperti dalam cermin, tetapi nanti dari muka ke muka. Sekarang aku mengenal secara tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal secara sempurna sebagaimana aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini: iman, harapan dan kasih. Namun yang terbesar di antaranya ialah kasih!

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 33:2-3.4-5.12.22

Ref. Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya.

  1. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali! Nyanyikanlah bagi-Nya lagu yang baru; petiklah kecapi baik-baik mengiringi sorak-sorai.

  2. Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-nya dengan kesetiaan. Ia senang pada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.

  3. Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya! Kasih setia-Mu, ya Tuhan, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.

BAIT PENGANTAR INJIL:

U: Alleluya
S: Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan. Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.

BACAAN INJIL: Lukas 7:31-35

Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang dari angkatan ini? Mereka sama dengan anak-anak yang duduk di pasar dan berseru-seru. ‘Kami meniup seruling bagimu, tetapi kalian tidak menari. Kami menyanyikan kidung duka, tetapi kalian tidak menangis.’ Sebab ketika Yohanes Pembaptis datang, dan ia tidak makan roti, dan tidak minum anggur, kalian berkata, ‘Ia kerasukan setan.’ Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kalian berkata, ‘Lihatlah, seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.’ Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” 

 

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Benediktus Mulyono SCJ

Vivat Cor IESU Per Cor Mariae, hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria!

Saudara-Saudari Ytk, jumpa lagi bersama saya: Rm Benediktus Mulyono SCJ dari Palembang dalam Resi (Renungan Singkat) Dehonian edisi Rabu, 16 September 2020.

Saudara-Saudari Terkasih, Yesus dalam Injil hari ini kecewa dengan orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat dengan mengulang kata-kata komentar yang terlontar dari mulut mereka: “Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa.” Perkataan Yesus ini sungguh amat tajam ditujukan kepada mereka orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat yang cenderung berpikir dan berkata-kata sinis; merendahkan dan menghakimi.

Saudara-Saudari Ytk, merenungkan Sabda Yesus hari ini saya teringat akan ungkapan dalam bahasa Latin: Nemo Dat Quod Non Habet, yang artinya: “Tak Seorangpun Memberi Apa Yang Ia Sendiri Tak Punya”. Seperti halnya orang-orang Farisi dan Ahli-ahli Taurat; kita pun dapat bertindak seperti itu. Artinya, ketika kita tidak memiliki cinta kasih dalam diri kita….ketika kita tidak memiliki cara berpikir positif…ketika kita tidak memiliki sikap hati yang mudah mengapresiasi orang lain… maka yang keluar dari pebendaharaan kata-kata lewat mulut kita pun yaa hanya yang negatif. Kita sulit mengasihi karena memang kita tidak memiliki kasih dalam diri kita. Kita gampang berbicara hal-hal negatif tentang orang lain; karena memang yaa hanya itu yang kita punya dalam otak kita. Kita mudah menghakimi sesama secara tidak adil, ya karena kita tidak memiliki sikap adil penuh belas kasih.

Maka Saudara-Saudari Ytk, mari kita berrefleksi bertanya diri: “Apa yang sebenarnya yang saya punya? Lebih banyak hal kebaikan atau kejahatan yang ada dalam diriku?”

Kita mudah berkata-kata yang baik atau sebaliknya? Kita lebih mudah membicarakan kebaikan orang atau mudah ngerasani orang? Kita lebih mudah mengapresiasi atau lebih mudah mencela? Apa yang kita lakukan, apa yang kita katakan, apa yang kita pikirkan itu menjadi cerminan terhadap apa yang senyatanya kita miliki dalam diri kita. Anda yang mencitai kebaikan; maka hal-hal baiklah yang akan Anda lakukan; karena itulah yang memang Anda miliki.

Saudara-Saudari Ytk, Yesus mengakhiri perkataanNya dengan berkata: “Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya”. Sabda Yesus ini menyadarkan kita bahwa hidup dan berkarya / bekerja untuk orang lain itu memang tidak mudah. Selalu ada suka dan dukanya. Berbuat baik pun akan selalu ada penolakan, komentar sinis dan segala resiko lainnya. Namun, semua akan menjadi indah pada waktunya bila kita mempunyai hikmat yang berasal dari Allah, yaitu keutamaan yang diajarkan Yesus: tulus, tanpa pamrih, rendah hati; dan hidupnya penuh cinta kasih.

Berkat Allah atas kita semua: Dalam Nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, Amin

 

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN

Allah Bapa, kekuatan para martir, dalam memperingati para martir-Mu Santo Kornelius dan Siprianus, terimalah kiranya persembahan umat-Mu Semoga bagaimana pun kami tetap bertahan berkat ekaristi sumber kekuatan para martir dalam penderitaan. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami

 

ANTIFON KOMUNI – Luk 22:28-30

Kalian tetap bertahan dalam kesusahan. Kerajaan-Ku tersedia bagi kalian, dan kalian akan makan minum bersama-Ku.

 

DOA PENUTUP

Marilah berdoa: Allah Bapa, perisai dan perlindungan kami, kuatkanlah kiranya kami berkat santapan suci ini, agar mampu mengikuti teladan Santo Kornelius dan Siprianus Semoga kami diteguhkan oleh Roh-Mu sehingga bersedia mewartakan kebenaran-Mu, yaitu kabar gembira bagi seluruh dunia Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.

6 Comments

  • Velisiana Eka Ayu Nita September 15, 2020 at 3:47 pm

    Terimakasih renungan nya Romo Benediktus Mulyono 🙏

    Reply
    • Rm Bene Mul SCJ September 16, 2020 at 4:19 am

      Sama-sama
      Terimakasih
      Salam doa
      Tuhan memberkati

      Reply
  • Kartika September 15, 2020 at 10:40 pm

    Amin…🙏
    Siyap, akan selalu bijaksana dalam menguasai dan mengendalikan segala pikiran, ucapan dan perbuatan.
    Terima kasih Romo.

    Reply
    • Rm Bene Mul SCJ September 16, 2020 at 4:20 am

      Sama-sama
      Terimakasih
      Salam doa
      Tuhan memberkati

      Reply
  • Yan September 16, 2020 at 1:11 am

    Terima kasih mo mul atas renungan nya,selalu belajar dan berefleksi dalam kehidupan ,belajar berpikir positif ,belajar bertindak kasih dan berkata kata positif,salam sehat dan tetap semangat mo

    Reply
    • Rm Bene Mul SCJ September 16, 2020 at 4:20 am

      Sama-sama
      Terimakasih
      Salam doa
      Tuhan memberkati

      Reply

Leave a Comment