Sabtu, 11 Februari 2023 – Hari Biasa Pekan V

Rm. Benediktus Mulyono SCJ dari Komunitas Resistencia, Provinsi Chaco – Argentina – Argentina

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA   —   Kejadian 3:19⁣⁣

Dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali menjadi tanah asalmu; sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu.⁣⁣

PENGANTAR⁣⁣

Kesepian dan penderitaan diakibatkan oleh dosa, dan karya pun menjadi sulit. Tugas panggilan kita menjadi kabur. Namun, Kristus datang meringankan beban. la membawa suka cita dalam pengabdian. la membagi-bagikan milik-Nya tanpa pamrih. Secara utuh diberikan-Nya diri-Nya. Itulah yang ter jadi dalam Ekaristi⁣⁣.

DOA PEMBUKA⁣⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa maharahim, orang lemah dan berdosa mendapat janji akan menerima pengampunan dan kesehatan berkat Yesus, Adam Baru. Semoga kami tetap rendah hati karena ingat bahwa hanya kesetiaan-Mulah yang sanggup melestarikan hidup kami. Demi Yesus Kristus Putra-Mu,….⁣

BACAAN PERTAMA: Pembacaan dari Kitab Kejadian 3:9-24

“Tuhan Allah mengusir manusia dari Taman Eden supaya mengolah tanah.”

Pada suatu hari, di Taman Eden, TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Manusia itu memberi nama Hawa kepada isterinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup. Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat; maka sekarang jangan sampai ia mengulurkan tangannya dan mengambil pula dari buah pohon kehidupan itu dan memakannya, sehingga ia hidup untuk selama-lamanya.” Lalu TUHAN Allah mengusir dia dari taman Eden supaya ia mengusahakan tanah dari mana ia diambil. Ia menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyala beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 90:2.3-4.5-6.12-13

Ref. Tuhan, Engkaulah tempat perlindungan kami turun-menurun.

  1. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, sebelum bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari sediakala sampai selama-lamanya Engkaulah Allah.

  2. Engkau mengembalikan manusia kepada debu, hanya dengan berkata, “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin atau seperti satu giliran jaga di waktu malam.

  3. Engkau menghanyutkan manusia seperti orang mimpi seperti rumput yang bertumbuh: di waktu pagi tumbuh dan berkembang, di waktu petang sudah lisut dan layu.

  4. Ajarlah kami menghitung hari-hari kami, hingga kami beroleh hati yang bijaksana. Kembalilah, ya Tuhan, -berapa lama lagi?- dan sayangilah hamba-hamba-Mu!

BAIT PENGANTAR INJIL:

U : Alleluya
S : (Mat 4:4) Manusia hidup bukan saja dari makanan, melainkan juga dari setiap sabda Allah

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 8:1-10

“Mereka semua makan sampai kenyang.”

Sekali peristiwa sejumlah besar orang mengikuti Yesus. Karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Inilah Injil Tuhan kita!
U. Sabda-Mu sungguh mengagumkan!

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm. Benediktus Mulyono SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Saudara Saudari Terkasih, Salam jumpa bersama saya, Rm Benediktus Mulyono SCJ dari Komunitas Resistencia, Argentina, dalam RESI (Renungan Singkat) Dehonian, Sabtu, 11 Februari 2023.

Saudara-Saudari Terkasih, hari ini Gereja mengenang Santa Perawan Maria yang menampakan diri di Lourdes. Gereja juga merayakan Hari Orang Sakit Sedunia. Maka dalam perlindungan Santa Maria, sangat baik kita juga menaruh perhatian bagi dunia, khususnya bagi mereka yang sedang sakit, melalui doa, sapaan, kunjungan atau dalam bentuk empati yang lain. Hal itu akan menjadi Berkat bagi mereka dan juga tentu saja bagi keluarga dan kita semua. 

Saudara-Saudari Terkasih, bacaan Injil hari ini memberikan peneguhan yang sangat istimewa bagaimana Yesus menaruh kepedulian terhadap mereka “yang berkekurangan”. Hati Yesus tergerak oleh belas kasihan karena orang banyak yang mengikuti Yesus ini harus tetap sehat dan tercukupi kebutuhan jasmani dan rohaninya.

Murid-murid-Nya belum mampu sepenuhnya menangkap atau mengerti akan kuat juasa Allah yang ada dalam Diri Yesus. Cara berpikir mereka sangat sederhana, bahwa tempat ini sunyi, jauh dari tempat untuk bisa membeli atau menyediakan makanan. Maka mereka berpikir bahwa ini tidak logis. 

Saudara-Saudari Terkasih, di sinilah Yesus menangkap situasi “kekurangan” baik secara jasmani, namun juga “kekurangan secara rohani atau spiritual”. Para murid belum mampu mengerti sesungguhnya apa artinya percaya kepada Yesus sepenuh hati. 

Merenungkan Injil hari ini, mengajak kita untuk pertama-tama menyerahkan secara penuh apa yang kita miliki dan menempatkannya di dalam tangan Yesus agar menjadi Berkat dan bahkan anugerah yang berlimpah. 

“Memberikan ketujuh roti dan ikan” yang kita punya mengandung arti mendalam agar kita berani mempersembahkan dan meletakkannya di hadapan Yesus hidup kita, segala milik kita, kekhawatiran – kecemasan kita dan apapun yang menyangkut diri kita. 

Hanya dengan cara demikian, meletakan hidup dan semuanya yang menyangkut diri kita dengan penuh iman yang mendalam itu, maka Tuhan akan mengembalikan kepada kita Berkat-Berkat-Nya dalam kelimpahan. 

Saudara-Saudari Yang Terkasih, hidup kita itu milik Tuhan, rezeki dan harta milik pun hanya semata-mata kemurahan hati Tuhan; maka bila dalam setiap usaha kita selalu menyertakan Tuhan, meletakkannya di dalam tangan kasih dan penyelenggaraan ilahi Tuhan, maka hidup kita tidak akan berkekurangan; bahkan berkelimpahan. Kita harus percaya itu. 

Berkat Allah Yang Maha Kasih menyertai kita: Dalam Nama Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, Amin.

DOA PERSIAPAN⁣ PERSEMBAHAN

Allah Bapa, sumber kehidupan sejati, berilah kami rezeki yang sanggup menghilangkan kelaparan kami akan kedamaian. Berikanlah kiranya Putra-Mu⁣ sebagai jaminan keselamatan kami. Sebab Dialah ….⁣

ANTIFON KOMUNI  —  Matius 4:4b⁣

Manusia hidup bukan saja dari makanan, tetapi juga dari setiap sabda Allah.⁣

DOA PENUTUP⁣

Marilah berdoa: Allah Bapa maharahim, kami bersyukur karena Engkau tak henti-hentinya berkenan memberi kami rezeki melalui Yesus Putra-Mu. Semoga rezeki itu memperkuat kami sehingga kami hidup rukun dan bantu-membantu penuh cinta kasih. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.

DOWNLOAD AUDIO RSI: 

Pesan Bapa Suci, Fransiskus pada Hari Orang Sakit Sedunia, 11 Februari 2023

“Rawatlah Dia”

Belas Kasih sebagai Reksa Penyembuhan Sinodal

Saudara-saudari terkasih!

Sakit merupakan bagian dari kondisi manusiawi. Tetapi, jika sakit itu ditanggung dalam kesendirian dan terabaikan, tanpa perhatian dan belas kasih, tentu dapat menjadi tidak manusiawi.

Saat kita berjalan bersama, tidak jarang seseorang merasakan sakit, harus berhenti karena kelelahan atau beberapa kejadian yang menimpanya di sepanjang jalan. Persis pada saat-saat seperti itu kita melihat bagaimana kita berjalan bersama: apakah kita benar-benar teman seperjalanan, atau hanya individu-individu yang berjalan sendiri-sendiri pada jalan yang sama, dengan urusan masing-masing dan masa bodoh terhadap orang lain yang “berlalu”. Karena itu, pada Hari Orang Sakit Sedunia ke-31, di tengah perjalanan sinode Gereja, saya mengundang kita semua untuk merenungkan kenyataan bahwa justru melalui pengalaman kerapuhan dan kondisi sakit kita dapat belajar berjalan bersama menurut gaya Allah, yakni kedekatan, belas kasih, dan kelembutan.

Dalam Kitab Nabi Yehezkiel, Tuhan menyerukan kata-kata ini yang menampilkan salah satu hal pokok dari Pernyataan Diri Allah: “Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku, dan Aku akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan Allah. Aku akan mencari yang hilang, dan akan membawa pulang yang tersesat, dan akan membalut yang terluka, dan akan menguatkan yang lemah […] Aku akan memberi makan mereka dengan keadilan” (Yeh. 34:15-16). Pengalaman kebingungan, sakit, dan lemah adalah bagian dari perjalanan manusia. Pengalaman-pengalaman itu tidak untuk memisahkan kita dari persekutuan umat Allah, melainkan justru membawa kita ke pusat perhatian Allah, karena Ia adalah Bapa kita yang tidak ingin kehilangan satu pun dari anak-anak-Nya di sepanjang jalan. Marilah kita belajar dari-Nya, bagaimana harus menjadi komunitas yang sungguh-sungguh berjalan bersama dan mampu melawan budaya menyingkirkan.

Ensiklik Fratelli Tutti mendorong kita untuk membaca kembali perumpamaan Orang Samaria yang baik hati, yang saya pilih untuk menggambarkan bagaimana kita dapat beralih dari “awan gelap” dunia yang tertutup ke “mimpi dan penciptaan dunia yang terbuka” (bdk. No. 56). Ada hubungan yang mendalam antara perumpamaan Yesus tersebut dan dunia sekarang ini yang menolak persaudaraan dengan berbagai macam cara. Ada satu realitas bahwa manusia yang telah dipukuli dan dirampok dibiarkan di pinggir jalan melukiskan kondisi saat ini di mana sekian banyak saudara-saudari kita ditinggalkan justru ketika mereka sedang membutuhkan pertolongan. Tidak mudah membedakan mana serangan terhadap kehidupan dan martabatnya yang berasal dari penyebab alami dan mana yang disebabkan oleh ketidakadilan dan kekerasan. Pada kenyataannya, meningkatnya tataran-tataran ketimpangan dan kepentingan segelintir orang kini mempengaruhi setiap lingkungan hidup manusia sedemikian rupa sehingga sulit untuk menilai pengalaman apapun sebagai hal yang “alamiah”. Semua penderitaan terjadi dalam suatu konteks “budaya” dan berbagai kontradiksinya.

Yang penting di sini adalah mengenali kondisi kesendirian dan penelantaran. Kepedihan semacam ini lebih mudah diatasi daripada kekejaman ketidakadilan lainnya, karena untuk mengatasinya – seperti dikisahkan oleh perumpamaan Orang Samaria yang baik hati – hanya perlu memikat perhatian kita sesaat dan gerakan belas kasih yang ada dalam diri kita. Dua pelintas, yang dianggap saleh dan religius,  melihat orang yang terluka itu, tetapi tidak mau berhenti menolong. Tetapi, orang ketiga yang lewat yaitu orang Samaria, seorang asing yang dicemooh, justru tergerak hatinya, merawat orang yang terluka itu, dan memperlakukannya sebagai saudara. Dengan melakukannya, bahkan tanpa banyak berpikir, dia membuat perbedaan, dia membuat dunia lebih bersaudara.

Saudara-saudari, kita sering tidak siap menghadapi penyakit. Kita bahkan sering tidak berani mengakui bahwa kita semakin menua. Kerapuhan membuat kita takut, dan berkembangnya budaya efisiensi mendorong kita untuk menyembunyikan kerapuhan itu, dengan tidak menyisihkan ruang bagi kerentanan manusiawi kita. Dalam arus semacam ini, ketika kekuatan jahat mendadak masuk dan melukai kita, kita akan terkesiap. Selain itu, orang lain mungkin mengabaikan kita pada saat-saat rapuh. Atau, pada saat-saat kita lemah, kita mungkin merasa bahwa kita sebaiknya meninggalkan orang lain supaya tidak menjadi beban. Begitulah kesepian muncul, dan kita dapat diracuni oleh rasa pahit ketidakadilan, seolah-olah Tuhan sendiri telah meninggalkan kita. Memang, kita mungkin sulit berdamai dengan Tuhan ketika hubungan kita dengan orang lain dan diri kita sendiri rusak. Oleh karena itu, terkait dengan penyakit tentu sangat penting seluruh Gereja mempertimbangkan dirinya sendiri terhadap teladan Injil tentang orang Samaria yang baik hati, supaya menjadi “rumah sakit lapangan” yang sejati. Misi Gereja dinyatakan dalam tindakan perawatan, khususnya pada lingkungan zaman kita ini. Kita semua rapuh dan rentan. Kita membutuhkan belas kasih yang mengerti bagaimana berhenti sejenak, datang mendekat, menyembuhkan dan bangkit kembali. Demikian, penderitaan orang sakit merupakan panggilan untuk menghentikan ketidakpedulian dan memperlambat langkah mereka yang berjalan sendirian seolah-olah tidak memiliki saudari dan saudara.

Hari Orang Sakit Sedunia mengajak kita untuk berdoa dan lebih dekat dengan mereka yang sedang menderita. Lebih dari itu, kesempatan ini juga bertujuan untuk membangkitkan kesadaran umat Allah, lembaga kesehatan dan masyarakat sipil terkait dengan cara baru bergerak maju bersama-sama. Kutipan Nabi Yehezkiel di atas dengan keras menegur prioritas-prioritas mereka yang memegang kekuasaan ekonomi, budaya, dan politik atas yang lain: “Kamu menikmati susunya, dari bulunya kamu buat pakaian, yang gemuk kamu sembelih, tetapi domba-domba itu sendiri tidak kamu gembalakan. Yang lemah tidak kamu kuatkan, yang sakit tidak kamu obati, yang luka tidak kamu balut, yang tersesat tidak kamu bawa pulang yang hilang tidak kamu cari, melainkan kamu injak-injak mereka dengan kekerasan dan kekejaman” (Yeh. 34:3-4). Firman Tuhan selalu menerangi dan tepat waktu; tidak hanya dalam apa yang dikecamnya, tetapi juga dalam apa yang diajukannya. Memang, pesan akhir dari perumpamaan orang Samaria yang baik hati menyarankan bagaimana gerak persaudaraan, yang mulai dari perjumpaan tatap muka, dapat diperluas ke dalam perawatan yang terorganisir. Unsur-unsur penginapan, pemilik penginapan, uang dan janji untuk datang kembali (bdk. Luk. 10:34-35) semua itu menunjukkan komitmen para petugas kesehatan dan pekerja sosial, anggota keluarga dan sukarelawan, melalui mana yang baik setiap hari tetap teguh berdiri menghadapi kekuatan jahat, di setiap bagian dunia.

Tahun-tahun pandemi yang lalu telah meningkatkan rasa syukur kita atas mereka yang bekerja setiap hari di bidang perawatan kesehatan dan penelitian. Namun, penghormatan bagi para pahlawan tersebut tidaklah cukup muncul dari tragedi kolektif yang besar itu. Covid-19 telah menguji jaringan-jaringan besar kepiawaian dan solidaritas, dan telah menyingkirkan batasan-batasan struktural dari sistem kesejahteraan umum. Oleh karena itu, di setiap negara, rasa syukur tersebut perlu disertai dengan upaya pencarian yang aktif akan strategi-strategi dan sumber-sumber daya untuk menjamin hak dasar setiap orang atas pemeliharaan kesehatan yang layak dan mendasar.

Orang Samaria memanggil pemilik penginapan untuk “merawat dia” (Luk. 10:35). Yesus menujukan panggilan yang sama kepada masing-masing dari kita. Ia mengutus kita, “pergilah dan pebuatlah demikian” (Luk. 10:37). Seperti saya tuliskan dalam Fratelli Tutti, “perumpamaan (orang Samaria yang baik hati) memperlihatkan bagaimana sebuah komunitas dapat dibangun kembali oleh pria dan wanita yang menjadikan kerapuhan orang lain sebagai kerapuhannya sendiri, yang menolak pembangunan masyarakat yang ditandai dengan pengucilan, tetapi menjadi sesama manusia dari orang yang jatuh, dan mengangkat serta memulihkannya, sehingga kebaikan itu menjadi kebaikan bersama (No. 67). Memang, “Kita diciptakan untuk suatu kepenuhan yang hanya dapat dicapai dalam cinta. Kita tidak dapat bersikap tak peduli pada orang yang menderita” (No. 68).

Pada 11 Februari 2023, marilah kita mengarahkan diri ke tempat suci Lourdes, pada sebuah warta kenabian, suatu pembelajaran yang dipercayakan kepada Gereja untuk zaman modern ini. Bukan hanya apa yang berfungsi baik atau mereka yang produktif yang diperhatikan. Melainkan, senyatanya orang sakitlah yang berada pada pusat persekutuan umat Allah, dan Gereja maju bersama dengan mereka sebagai tanda kemanusiaan di mana setiap orang berharga dan tak seorang pun dibuang atau ditinggalkan.

Pada pengantaraan Maria, Bunda Kesehatan bagi orang sakit, saya mempercayakan Anda semua yang sakit; Anda yang merawat mereka dalam keluarga-keluarga Anda, atau melalui karya-karya Anda, penelitian dan pelayanan sukarela; dan Anda yang berkomitmen untuk menjalin ikatan persaudaraan personal, gerejawi, dan sipil. Kepada Anda semua, saya dengan tulus menyampaikan berkat saya.

.

Roma, Santo Yohanes Lateran, 10 Januari 2023

Fransisku

 

Sumber: https://www.vatican.va/content/francesco/en/events/event.dir.html/content/vaticanevents/en/2023/1/10/messaggio-giornata-delmalato.html

3 Comments

  • Herlin Februari 11, 2023 at 3:58 am

    Amin

    Reply
  • Lucia Februari 11, 2023 at 10:14 pm

    Terimakasih renungannya Rm Mulyono…..Amin…

    Reply
  • Elisabeth Lilywati Februari 13, 2023 at 9:22 am

    Terima kasih Romo untuk ReSinya sangat memberkati.

    Reply

Leave a Comment