Rabu, 11 Februari, 2026 – Hari Biasa Pekan V (Hari Orang Sakit Sedunia ke 33)

Rm Robertus Susilo Haryono SCJ dari Komunitas Seminari Menengah St Paulus Palembang – Indonesia

 
 

AUDIO RESI:

KOMENTAR – Persiapan  (Dibawakan oleh komentator/petugas)

Bapak/Ibu, Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

Hari ini, 11 Februari 2026, Gereja di seluruh dunia merayakan Hari Orang Sakit Sedunia ke-34, bertepatan dengan peringatan Santa Perawan Maria dari Lourdes, Bunda yang hadir dekat dengan mereka yang menderita.

Dalam pesannya, Paus Leo XIV mengajak kita merenungkan tema: “Belarasa orang Samaria: mengasihi dengan menanggung derita orang lain.”

Hari ini kita diundang untuk memandang orang sakit bukan sebagai beban, melainkan sebagai saudara dan saudari yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Dalam diri mereka, Kristus sendiri hadir dan mengetuk hati kita, memanggil kita untuk berhenti, mendekat, dan mengasihi.

Marilah kita mempersiapkan diri untuk merayakan Ekaristi Kudus ini dengan hati yang terbuka, seraya mempersembahkan doa dan pengharapan bagi saudara-saudari kita yang sedang sakit, serta memohon rahmat agar kita semua menjadi Gereja yang berbelarasa dan setia menemani. 

ANTIFON PEMBUKA – Mazmur 37:30

Mulut orang benar menuturkan kebijaksanaan, dan lidahnya mengatakan kebenaran.

PENGANTAR:

Bapak/Ibu, Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus, 

Pada Hari Orang Sakit Sedunia ini, Bacaan Injil mengingatkan kita bahwa yang menajiskan manusia bukanlah apa yang tampak dari luar, melainkan apa yang lahir dari hati. Dari hati yang bersih lahir belarasa; dari hati yang dikeraskan lahir pengabaian.

Yesus memanggil kita untuk memiliki hati yang baru, hati seorang Samaria yang baik, yang berani menanggung penderitaan orang lain dan menghadirkan kasih Allah secara nyata.

Dalam perayaan Ekaristi ini, marilah kita mempersembahkan seluruh penderitaan, luka, dan harapan kita kepada Tuhan, agar Dia sendiri menyucikan hati kita dan mengutus kita sebagai pembawa penghiburan bagi sesama.

DOA KOLEKTA: 

Marilah kita berdoa  (hening sejenak): Ya Allah Bapa kami, Putra-Mu telah menyatakan kepada kami pengharapan yang berasal dari salib. Berkatilah saudara-saudari kami yang sakit, dan semua orang yang mengabdikan diri untuk melayani mereka.

Anugerahkanlah mereka kekuatan Roh-Mu yang memberi hidup dan bukalah hati kami agar mampu berbelarasa seperti orang Samaria, yang mengasihi dengan setia dan berani menanggung derita sesama. Dengan pengantaraan Tuhan kami, Yesus Kristus, PutraMu, yang Hidup dan Berkuasa bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa.  U   Amin. 

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Pertama Raja-Raja 10:1-10

“Ratu Syeba melihat segala hikmat Salomo.”

Pada suatu ketika, ratu negeri Syeba mendengar kabar tentang Salomo, berhubung dengan nama Tuhan. Maka datanglah ia hendak menguji Salomo dengan teka-teki. Ia datang ke Yerusalem dengan pasukan pengiring yang sangat besar, dengan unta-unta yang membawa rempah-rempah, sangat banyak emas dan batu permata yang mahal-mahal. Setelah ia sampai kepada Salomo, dikatakannyalah segala apa yang ada dalam hatinya kepada Salomo. Dan Salomo menjawab segala pertanyaan ratu itu; bagi raja tidak ada yang tersembunyi, yang tidak dapat dijawabnya untuk ratu itu. Ketika ratu negeri Syeba melihat segala hikmat Salomo dan rumah yang telah didirikannya, makanan di mejanya dan cara duduk pegawai-pegawainya. Cara pelayan-pelayan melayani dan berpakaian; minumannya, dan kurban bakaran yang biasa dipersembahkannya di rumah Tuhan, maka tercenganglah ratu itu. Dan ia berkata kepada raja, “Benar juga kabar yang kudengar di negeriku tentang engkau dan tentang hikmatmu! Tetapi aku tidak percaya akan perkataan-perkataan itu sampai aku datang dan melihatnya dengan mataku sendiri; sungguh setengahnya pun belum diberitahukan kepadaku. Dalam hal hikmat dan kemakmuran, engkau melebihi kabar yang kudengar. Berbahagialah para isterimu! Berbahagialah para pegawaimu, yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu! Terpujilah Tuhan, Allahmu, yang telah berkenan kepadaku sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan Israel! Karena Tuhan mengasihi orang Israel untuk selama-lamanya, maka Ia telah mengangkat engkau menjadi raja untuk melakukan keadilan dan kebenaran.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 37:5-6.30-31.39-40

Ref. Mulut orang benar menuturkan hikmat.

  1. Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah pada-Nya, maka Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan menampilkan hakmu seperti siang.

  2. Mulut orang benar menuturkan kebijaksanaan, dan lidahnya mengatakan kebenaran. Taurat Allah ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidaklah goyah.

  3. Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan; Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan; Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik; Tuhan menyelamatkan mereka, sebab mereka berlindung pada-Nya.

BAIT PENGANTAR INJIL: 

U :  Alleluya

S : (Yoh 17:17ba) Sabda-Mu ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran. Alleluya.

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus 7:14-23

“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya.”

Pada suatu hari, Yesus memanggil orang banyak dan berkata kepada mereka, “Dengarkanlah Aku, dan camkanlah ini! Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskan dia! Tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya!” Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah itu Yesus masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak. Maka murid-murid bertanya kepada Yesus tentang arti perumpamaan itu. Yesus menjawab, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Camkanlah! Segala sesuatu yang dari luar masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskan dia, karena tidak masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban!” dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal. Yesus berkata lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya! Sebab dari dalam hati orang timbul segala pikiran jahat, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”
Demikianlah sabda Tuhan
U. Terpujilah Kristus.

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Robertus Susilo Haryono SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Para pendengar Resi Dehonian yang terkasih, berjumpa kembali dengan saya romo Robertus Susilo Haryono, SCJ dari komunitas SCJ Seminari menengah St. Paulus Palembang dalam renungan singkat Dehonian edisi Rabu 11 Februari 2026, bertepatan dengan Hari orang sakit sedunia. Kita berdoa bagi saudari-saudara kita yang sedang menderita sakit semoga Tuhan Yang Mahakasih menjamah mereka yang sakit  agar memperoleh kesembuhan dari sakitnya.

Para pendengar resi Dehonian yang terkasih, dihadapan para murid dan orang banyak Yesus memberikan sebuah pengajaran yang penting, yaitu pentingnya menjaga kebersihan dan kemurinian hati. Yesus ingin menegaskan  bahwa kenajisan bukanlah berasal hal lahiriah seperti makanan atau ritual cuci tangan, melainkan bersumber dari hati yang jahat. Hati kita merupakan ruang kendali utama manusia. Hati bukan hanya berfungsi alat pemompa darah tetpi hati merupankan pusat dari niat, emosi dan keputusan etis manusia. Hati adalah penjaga moralitas dan kesucian diri.

Para pendengar resi yang terkasih Yesus mengajak para murid untuk menjaga kesucian dan kemurniah hati karena hati kita punya peran penting dalam hidup sehari hari. Hati yang baik atau suci dan bersih akan menghatar kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang baik dan sesuai dengan kehendak Allah.  Dalam hiruk pikuk dunia yang penuh dengan berbagai macam goadaan, hati kita sering tercemar oleh pikiran negatif , iri hati atau nafsu-nafsu liat yang merusak.  Yesus mengajar dan mengajak kita semua untuk menjadi suci agar dapat melihat wajah Allah. Menjaga kesucian dan kemurnian hati bukan sekedar mengindari dosa lahiriah, melainkan mejaga pikiran dan kehendak kita agar tetap suci murni dihadapan Allah.

Para pendegar Resi dehonian yang terkasih, marilah mohon kekuatan dan rahmat Allah, supaya kita dimampukan untuk menjaga hati agar tetap suci sehingga kita dijauhkan dari tindakan-tindakan yang tercela. Mari kita mohon rahmat kesetiaan agar kita dapat menjalankan dan melaksanakan kehendaknya. Tuhan memberkati kita Amin.

SYAHADAT (dapat didoakan atau dinyanyikan)

DOA UMAT: 

I : Sabda Allah yang telah kita dengar memperkuat pengharapan kita akan belas kasih Allah. Karena itu, dengan penuh kepercayaan, kita sampaikan permohonan kepada-Nya.

L : Bagi Gereja, mempelai Kristus: Mengikuti teladan orang Samaria, yang bebas dari segala ketidakpedulian, semoga Gereja selalu siap untuk mengasihi tanpa menghakimi dan memberikan kesaksian yang kuat kepada semua orang, mendekati luka dan penderitaan sesama saat ini. Marilah kita mohon …

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L : Bagi Bapa suci Paus Leo XIV dan Dewan Uskup : Dalam kesetiaan kepada Kristus, Sang Gembala yang Baik, semoga mereka menjadi yang pertama dalam iman dan perbuatan, untuk membaktikan seluruh hidupnya atas penderitaan seluruh umat manusia, sembari menebar kasih yang telah mereka terima. Marilah kita mohon… 

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L : Bagi semua saudara dan saudari kita yang menderita jasmani, pikiran, dan rohani: Semoga mereka, dalam kemanusiaan kita bersama, merasakan kehadiran Kristus, Orang Samaria yang Baik, yang pertama kali menerangi dan menghibur pengalaman penderitaan mereka. Marilah kita mohon …

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L : Bagi semua tenaga kesehatan dan semua orang yang memberikan perawatan: Sadar akan luka yang mereka alami sendiri akibat pasang surut kehidupan, semoga mereka setiap hari memperoleh hati, pikiran, profesionalisme dan kompetensi yang lebih besar untuk merawat siapa pun yang mempercayakan diri mereka pada karya kesehatan mereka. Marilah kita mohon…

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L : Bagi keluarga-keluarga: Semoga kasih sayang timbal balik antara bapak, ibu dan anak-anak, menjadi sekolah kehidupan kekal dan belarasa yang nyata terhadap setiap kebutuhan dan kerapuhan, sehingga keluarga menjadi contoh sejati dan utama persekutuan dan belas kasih. Marilah kita mohon …

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

L : Bagi tenaga pastoral kesehatan dan kita semua yang hadir di sini: Setelah dinutrisi oleh Ekaristi dan dibimbing oleh Sabda Allah, semoga kita semua memahami bagaimana menggunakan minyak penghiburan dan anggur pengharapan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang makna setiap luka dan kerapuhan. Marilah kita mohon……

U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.

I : Ya Bapa, dengarkanlah doa-doa yang kami sampaikan ke hadirat-Mu. Semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonan  kami di hari orang sakit sedunia ini. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. 

U : Amin.

DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN: 

I : Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti yang kami persembahkan kepada-Mu, Hasil bumi dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan.

U : Terpujilah Allah selama-lamanya.

I : Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima anggur yang kami persembahkan kepada-Mu, hasil pokok anggur dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi minuman rohani.

U : Terpujilah Allah selama-lamanya.

I : Berdoalah, saudara-saudari, supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang Mahakuasa.

U : Semoga persembahan ini diterima demi kemuliaan Tuhan dan keselamatan kita serta seluruh umat Allah yang Kudus. 

DOA ATAS PERSEMBAHAN: 

I ; Tuhan, kami mohon, semoga persembahan roti dan anggur ini menyucikan dan membarui kami, sehingga kami yang melaksanakan kehendak-Mu akan memperoleh anugerah hidup abadi. Dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami. U : Amin

PREFASI III HARI MINGGU BIASA (Allah Selalu Menolong)

I : Tuhan bersamamu.
U : Dan bersama rohmu.
I : Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan.
U : Sudah kami arahkan.
I : Marilah bersyukur kepada Tuhan, Allah kita.
U : Sudah layak dan sepantasnya.
I : Sungguh pantas dan benar, layak dan menyelamatkan, bahwa kami selalu dan di mana pun bersyukur kepada-Mu, Tuhan, Bapa yang Kudus, Allah yang Mahakuasa dan Kekal.  Sungguh tak terhingga kemuliaan-Mu: Engkau menopang makhluk yang fana dengan keallahan-Mu; dengan mengubah kodrat yang menyebabkan kami jatuh menjadi sarana keselamatan kami, Engkau menyembuhkan kami yang fana ini, dengan pengantaraan Kristus, Tuhan kami.  Dengan pengantaraan Kristus itu, Bala Malaikat, yang bersukacita di hadapan-Mu dalam keabadian, menyembah keagungan-Mu.
Kami mohon, perkenankanlah kami memadukan suara dengan mereka dalam sukacita bersama sambil berseru:

I+U Kudus, kudus, kuduslah Tuhan, Allah segala kuasa. Surga dan bumi penuh kemuliaan-Mu. Terpujilah Engkau di surga. Diberkatilah yang datang dalam nama Tuhan. Terpujilah Engkau di surga.

ANTIFON KOMUNI – Mazmur 37:5

Serahkanlah nasibmu kepada Tuhan! Percayalah kepada-Nya dan la akan bertindak.

DOA UNTUK ORANG SAKIT:  

Tuhan Yesus, Samaria yang Baik Hati,

Engkau mencurahkan minyak penghiburan dan anggur pengharapan ke atas luka-luka kami. Datanglah untuk menemui mereka yang diuji oleh penyakit dan penderitaan, agar mereka dapat mengalami belas kasih-Mu yang menghibur, kasih-Mu yang mengampuni, dan rahmat-Mu yang menyelamatkan. 

Topanglah dengan Roh Kudus-Mu semua tenaga kesehatan agar mereka dapat memperlambat langkah mereka, mengenali kebutuhan saudara-saudari mereka, dan menjadi tanda belas kasih-Mu.

Engkau yang telah menempatkan dalam perintah kasih kepenuhan hukum, jadikanlah hati kami mampu berbelarasa dan berilah kami kekuatan untuk menjangkau mereka yang menderita dalam tubuh dan jiwa. Amin. 

DOA SESUDAH KOMUNI : 

Marilah kita berdoa (hening sejenak): Ya Allah, Engkau telah menguatkan kami dengan satu Roti, Tubuh dan Darah Yesus Kristus PutraMu dan Tuhan kami.  Dengan ekaristi ini, Engkau menopang kami dengan satu pengharapan. Kami mohon kuatkanlah kami dengan rahmat-Mu, agar, setelah menjadi satu tubuh dan satu roh di dalam Kristus, kami dapat bangkit bersama Dia dalam kemuliaan. Sebab Dialah yang Hidup dan Berkuasa, sepanjang segala masa.  U   Amin

DOWNLOAD AUDIO RESI: 

PESAN BAPA SUCI LEO XIV
UNTUK HARI ORANG SAKIT SEDUNIA KE-34
11 Februari 2026


B
elarasa orang Samaria:  
Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain

 

Saudara-saudari terkasih,

Hari Orang Sakit Sedunia yang ke-34 akan dirayakan dengan khidmat khusyuk di Chiclayo, Peru, pada tanggal 11 Februari 2026. Pada kesempatan ini, saya menawarkan agar kita merefleksikan kembali sosok belarasa orang samaria, sebab ia selalu relevan dan penting untuk menemukan kembali keindahan kasih dan dimensi sosial dari belas kasih, untuk semakin memberikan perhatian kepada mereka yang membutuhkan dan yang menderita, khususnya mereka yang sakit.

Kita semua pernah mendengar dan membaca kisah mengharukan dalam Injil Lukas ini (lih. Luk 10:25–37). Di sini, Kepada seorang ahli taurat yang mempertanyakan kepada Nya tentang siapa sesama yang harus ia kasihi, Yesus menjawab dengan kisah ini: Seseorang yang sedang bepergian dari Yerusalem ke Yerikho, diserang oleh para perampok dan ditinggalkan setengah mati. Sementara seorang imam dan seorang Lewi melewatinya begitu saja, seorang Samaria tergerak oleh belas kasihan, membalut luka-lukanya, membawanya ke sebuah penginapan, dan membayarnya agar ia memperoleh perawatan. Saya ingin menawarkan refleksi perikop ini, dalam terang Ensiklik Fratelli Tutti, yang ditulis oleh pendahulu saya, Paus Fransiskus, dimana, belarasa dan belaskasih terhadap mereka yang membutuhkan tidak dipersempit menjadi sekadar usaha individual, melainkan diwujudkan melalui relasi: dengan saudara-saudari kita yang membutuhkan, dengan mereka yang merawat, dan pada akhirnya dengan Allah yang menganugerahkan kepada kita kasih-Nya.

1.  Anugerah perjumpaan: sukacita berbagi kedekatan dan kehadiran

Kehidupan kita tenggelam dalam budaya kecepatan, terburu-buru, dan ketergesa-gesaan, budaya “membuang” dan ketidakpedulian, yang menghalangi kita untuk saling mendekat dan berhenti sejenak di sepanjang perjalanan, untuk menyadari kebutuhan dan penderitaan yang ada di sekitar kita. Dalam perumpamaan itu, ketika orang Samaria melihat orang yang terluka, ia tidak “lalu begitu saja.” Sebaliknya, ia memandangnya dengan tatapan yang terbuka dan penuh perhatian, tatapan khas Yesus, yang mendorongnya untuk bertindak dengan kedekatan yang manusiawi dan penuh belas kasih. Orang Samaria itu “berhenti, mendekati orang itu dan merawatnya sendiri, bahkan mengeluarkan uangnya sendiri untuk memenuhi kebutuhannya… [Terlebih lagi] ia memberikan waktunya.” [1] Yesus tidak sekadar mengajarkan  siapa sesama kita, melainkan bagaimana menjadi sesama; maksudnya bagaimana kita dapat menjadi dekat kepada orang lain. [2] Dalam hal ini, kita dapat menegaskan bersama St. Agustinus bahwa Tuhan tidak bermaksud menunjukkan kepada kita siapa sesama orang itu, melainkan kepada siapa ia harus menjadi sesama. Sesungguhnya, tidak seorang pun benar-benar menjadi sesama sampai ia dengan bebas mendekat kepada orang lain. Maka, dia yang menjadi sesama adalah dia yang mengalami belas kasihan. [3]

Kasih tidaklah pasif; melainkan pergi untuk bertemu sesama. Menjadi sesama tidak ditentukan oleh kedekatan fisik atau sosial, melainkan oleh keputusan untuk mengasihi. Inilah sebabnya orang Kristiani menjadi sesama bagi mereka yang menderita, mengikuti teladan Kristus, Sang Samaria ilahi yang merengkuh kemanusiaan yang terluka. Ini bukan sekadar tanda filantropi, melainkan tanda-tanda yang di dalamnya bisa dipahami bahwa keterlibatan pribadi dalam penderitaan sesama mengandung anugerah pemberian diri. Hal ini berarti melampaui sekadar pemenuhan kebutuhan, sehingga diri kita sendiri menjadi bagian dari anugerah itu. [4] Kasih semacam ini niscaya dipupuk oleh perjumpaan dengan Kristus, yang memberikan diri-Nya bagi kita karena kasih. St. Fransiskus mengungkapkannya dengan indah ketika, berbicara tentang perjumpaannya dengan para penderita kusta, ia berkata: “Tuhan sendirilah yang membawaku ke tengah-tengah mereka,[5] sebab melalui merekalah ia menemukan manisnya sukacita dalam mengasihi.

Anugerah perjumpaan mengalir dari persatuan kita dengan Yesus Kristus. Kita mengenal Dia sebagai Orang Samaria yang Baik Hati yang telah membawa  keselamatan kekal kepada kita, dan kita menghadirkan Dia setiap kali kita merengkuh saudara/i yang terluka. St. Ambrosius berkata: “Tidak ada seorang pun yang lebih sungguh menjadi sesama kita daripada Dia yang telah menyembuhkan luka-luka kita. Maka marilah kita mengasihi Dia sebagai Tuhan dan juga sebagai sesama; sebab tidak ada yang sedekat kepala dengan anggotaanggotanya. Marilah kita juga mengasihi mereka yang meneladan Kristus; marilah kita mengasihi mereka yang menderita karena kemiskinan orang lain, demi kesatuan Tubuh.” [6]Menjadi satu di dalam Yang Satu”, dalam kedekatan, kehadiran, serta kasih yang diterima dan dibagikan seperti St. Fransiskus, adalah bersukacita dalam kemanisan karena telah berjumpa dengan Tuhan.

2.  Perutusan bersama untuk merawat orang sakit

St. Lukas melanjutkan dengan mengingatkan bahwa orang Samaria itu “tergerak oleh belas kasih.” Belas kasih, dalam arti ini, mengandaikan suatu gerak batin mendalam yang mendesak kita untuk bertindak. Ia adalah rasa yang meluap dari kedalaman hati dan menuntun pada komitmen terhadap penderitaan sesama. Dalam perumpamaan ini, belas kasih merupakan ciri khas kasih yang aktif. Belas kasih tidak bersifat teoretis atau rasa sentimental belaka, melainkan menampakkan diri melalui tindakan-tindakan konkret. Orang Samaria itu mendekat, merawat luka-luka, mengambil tanggung jawab, dan memberikan perawatan. Namun ia tidak bertindak sendirian: “Orang Samaria itu mencari seorang pemilik penginapan yang akan merawat orang tersebut, seolah kita pun dipanggil untuk mengundang dan berpadu dalam sebuah “kita” yang lebih kuat dari pada sekedar jumlah perseorangan yang kecil”[7]

Dalam pengalaman saya sebagai misionaris dan uskup di Peru, saya secara pribadi telah menyaksikan banyak orang yang menunjukkan bela rasa dan belas kasih dalam semangat orang Samaria dan pemilik penginapan itu. Anggota keluarga, para tetangga, tenaga kesehatan, mereka yang terlibat dalam pelayanan pastoral bagi orang sakit, dan banyak orang yang berhenti di tengah perjalanan, mendekat, merawat, menanggung beban, mendampingi dan menawarkaan apa yang mereka miliki, memberikan dimensi sosial pada belas kasih. Pengalaman ini, yang terwujud dalam jejaring relasi, melampaui sekadar komitmen individual. Oleh karena itu, dalam Seruan Apostolik Dilexi Te, saya merujuk perawatan terhadap orang sakit bukan hanya sebagai “bagian penting” dari perutusan Gereja, melainkan sebagai suatu “tindak gerejawi” yang otentik (no. 49). Saya mengutip St. Siprianus untuk menunjukkan bagaimana dimensi ini menjadi ukuran kesehatan suatu masyarakat: “Wabah dan penyakit, yang tampak begitu mengerikan dan mematikan ini, menyelidiki kebenaran hidup setiap orang dan menguji batin umat manusia: apakah yang sehat melayani yang sakit; apakah sanak saudara saling mengasihi dengan tulus; apakah para majikan berbelas kasih kepada hamba-hamba mereka yang sakit; apakah para tenaga medis tidak mengabaikan orang-orang sakit yang memohon pertolongan.” [8]

Menjadi satu di dalam Yang Satu berarti sungguh mengambil bagian dari satu Tubuh, dimana seturut panggilan kita, menghadirkan belas kasih Allah bagi penderitaan semua manusia [9] Lebih lanjut, penderitaan yang menggerakkan kita untuk berbelas kasih bukanlah penderitaan orang asing, melainkan penderitaan dari anggota dari Tubuh kita sendiri, yang kepada-Nya Kristus, Kepala kita, memerintahkan kita untuk merawat demi kebaikan semua. Dalam arti ini, pelayanan kita dipersatukan dengan penderitaan Kristus sendiri dan, bila dipersembahkan dalam semangat Kristiani, mempercepat terwujudnya doa Sang Penyelamat demi kesatuan semua orang. [10]

3. Selalu digerakkan oleh kasih kepada Allah, untuk berjumpa dengan diri sendiri dan sesama

Dalam dua hukum yang utama, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap kekuatanmu, dan dengan segenap akal budimu; dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Luk 10:27), kita mengenali keutamaan kasih kepada Allah serta konsekuensi langsungnya tentang cara mengasihi dan berelasi dengan sesama dalam semua dimensinya. “Kasih kepada sesama merupakan bukti nyata keaslian kasih kita kepada Allah, sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Yohanes: ‘Tidak seorang pun pernah melihat Allah; jika kita saling mengasihi, Allah tinggal tetap di dalam kita, dan kasih-Nya menjadi sempurna di dalam kita… Allah adalah kasih, dan barangsiapa tinggal di dalam kasih, ia tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam dia’” (1Yoh 4:12.16). [11] Meskipun objek kasih ini berbeda: Allah, sesama dan diri sendiri, dan ini dapat dipahami sebagai ungkapan kasih yang berbeda-beda, namun ketiganya pada hakikatnya tetap tak terpisahkan. [12]

Keutamaan kasih ilahi mengandaikan bahwa tindak manusia dilakukan bukan demi kepentingan diri sendiri atau ganjaran, melainkan sebagai perwujudan kasih yang melampaui norma-norma ritual dan menemukan ungkapannya dalam ibadat yang sejati. Melayani sesama berarti mengasihi Allah melalui perbuatan. [13]  

Sudut pandang ini juga menolong kita memahami makna sejati mengasihi diri sendiri. Mengasihi diri sendiri berarti menyingkirkan segala upaya untuk mendasarkan harga diri atau martabat kita pada stereotip duniawi seperti keberhasilan, karier, status, atau latar belakang keluarga [14] , dan menemukan kembali tempat kita yang sejati di hadapan Allah dan sesama. Paus Benediktus XVI menegaskan bahwa “sebagai makhluk rohani, manusia mengejawantahkan dirinya melalui relasi antarpribadi. Semakin otentik ia menghayati relasirelasi ini, semakin matang pula identitas pribadinya. Bukan dengan mengasingkan diri manusia memberi nilai dirinya, melainkan dengan menempatkan dirinya dalam relasi dengan sesama dan dengan Allah.” [15]  

Saudara-saudari terkasih, “obat sejati bagi luka-luka umat manusia adalah gaya hidup yang berlandaskan kasih persaudaraan, yang berakar di dalam kasih kepada Allah.” [16] Saya sungguh berharap agar gaya hidup Kristiani kita senantiasa mencerminkan semangat persaudaraan yang “Samariawi” ini, inklusif, berani, berkomitmen, dan menopang, yang berakar dalam persatuan kita dengan Allah dan dalam iman kita akan Yesus Kristus. Dikobarkan oleh kasih ilahi ini, kita pasti akan mampu memberikan diri kita demi kebaikan semua orang yang menderita, khususnya saudara-saudari kita yang sakit, lanjut usia, dan mereka yang tertimpa kemalangan.

Marilah kita memanjatkan doa-doa kita kepada Santa Perawan Maria, Keselamatan Orang Sakit, sambil memohon agar ia menolong semua orang yang menderita dan membutuhkan belas kasih, penghiburan, serta telinga yang mau mendengarkan. Marilah kita memohon perantaraannya dengan doa kuno ini, yang didaraskan dalam keluarga-keluarga bagi mereka yang sakit dan menderita:

Bunda yang terkasih,  janganlah menjauhkan dirimu dari kami. Janganlah memalingkan wajahmu dari kami. Hadirlah selalu bersama kami dimanapun juga  dan jangan pernah meninggalkan kami sendirian. Engkau yang selalu melindungi kami sebagai seorang Ibu sejati, mohonkanlah bagiku berkat dari Bapa, Putra, dan Roh Kudus.

Dari lubuk hati terdalam, saya melimpahkan Berkat Apostolik saya bagi semua orang sakit, bagi keluarga mereka, serta bagi mereka yang merawatnya, baik para tenaga kesehatan maupun para pelayan pastoral, dan secara khusus bagi semua yang ambil bagian pada Hari Orang Sakit Sedunia ini.

 

Vatikan, 13 Januari 2026
Paus Leo XIV

 

  1. Fransiskus, Surat Ensiklik Fratelli Tutti (3 Oktober 2020), 63.
  2. ibid., 80-82.
  3. Santo Agustinus, Khotbah. 171, 2; 179/A, 7.
  4. Benediktus XVI, Surat Ensiklik Deus Caritas Est (25 Desember 2005), 34; Santo Yohanes Paulus II, Surat Apostolik Salvifici Doloris (11 Februari 1984), 28.
  5. Santo Fransiskus dari Assisi, Perjanjian, 2: Fonti Francescane, 110.
  6. Santo Ambrosius, Risalah Injil Santo Lukas, VII, 84.
  7. Fransiskus, Surat Ensiklik Fratelli Tutti (3 Oktober 2020), 78.
  8. Santo Siprianus, De mortalitate, 16.
  9. Santo Yohanes Pauls II, Surat Apostolik Salvifici Doloris (11 Februari 1984), 24.
  10. ibid., 31.
  11. Seruan Apostolik Dilexi Te (4 Oktober 2025), 26.
  12. ibid. 
  13. Fransiskus, Surat Ensiklik Fratelli Tutti (3 Oktober 2020), 79.
  14. ibid., 101.
  15. Benediktus XVI, Surat Ensiklik Caritas in Veritate (29 June 2009), 53.
  16. Fransiskus, Pesan kepada Para Peserta Festifal Orang Muda Internasional ke33 (MLADIFEST), Medjugorje, 1-6 Agustus 2022 (16 Juli 2022).

 

2 Comments

  • Kety Roma Februari 11, 2026 at 5:45 am

    Tuhan Yesus memberkati kita semua. Amin

    Reply
  • Firmus Dega Februari 11, 2026 at 7:09 am

    Makasih Romo

    Reply

Leave a Comment