RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Thomas Suratno SCJ
Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Kudus Yesus melalui Hati Maria
Saudara-saudari yang terkasih, kita jumpa lagi dalam RESI – DEHONIAN RENUNGAN SINGKAT DEHONIAN hari ini, Jumat – 24 Juli 2026, Pekan Biasa XVI. Bersama saya Romo Thomas Suratno, SCJ dari Komunitas SCJ Teluk Betung-Bandar Lampung, mendengar dan merenungkan sabda Tuhan, yakni firman Tuhan yang tersurat dalam Mat 13:18-23.
Yesus, dalam warta Injil hari ini, menjelaskan perumpamaan tentang Penabur. Ia berbicara dengan jelas dan pribadi kepada para murid karena mereka terbuka—hati mereka siap menerima kebenaran. Perumpamaan ini mengungkapkan empat jenis hati: keras hati , dangkal hati , mudah teralihkan , dan mudah menerima . Dengan menyajikan keempat disposisi batin ini, dengan hanya satu yang ideal, Yesus menunjukkan bahwa menjadi mudah menerima Firman Tuhan membutuhkan usaha, kerendahan hati, dan kasih karunia. Tiga jenis pertama mencerminkan perkembangan penerimaan yang semakin dalam, tetapi masing-masing masih kurang sempurna. Jenis terakhir, tanah yang baik, mewakili tujuan yang menjadi panggilan bagi semua hati.
Yang pertama — benih yang ditabur di jalan—merujuk kepada mereka yang hatinya begitu keras sehingga Firman Tuhan tidak dapat masuk. Telinga mereka mendengar Firman Tuhan tetapi tanah hati mereka telah diinjak-injak oleh banyak dosa dan kebiasaan egois, sehingga benih tidak dapat menembus. Akibatnya, mereka tidak memahami Injil, dan mereka juga tidak berusaha untuk memahaminya. Ini bahkan mungkin merujuk kepada beberapa orang yang menghadiri gereja, mendengarkan bacaan dan khotbah, namun tetap tidak tergerak oleh Injil.
Yang kedua — benih yang ditabur di tanah berbatu—merujuk kepada mereka yang hatinya dangkal. Mereka menerima Firman Tuhan dengan sukacita dan antusiasme awal, mungkin bahkan dengan emosi dan semangat rohani. Tetapi sukacita itu tidak berakar pada keyakinan yang mendalam atau didukung oleh iman yang tekun. Ketika cobaan datang mereka dengan cepat jatuh, kecewa. Akar kebenaran ilahi tidak pernah menembus lapisan jiwa yang lebih dalam. Inilah mereka yang menyukai gagasan Injil tetapi tidak menyukai harga yang harus dibayar untuk menghidupinya sepenuhnya.
Yang ketiga — benih yang ditabur di antara semak duri—merujuk kepada mereka yang hatinya teralihkan. Mereka menerima Firman Tuhan dan membiarkannya berakar, tetapi pada saat yang sama mereka berpegang teguh pada kecemasan, keterikatan, dan keinginan duniawi. Duri—yang melambangkan kekayaan, kenyamanan, ambisi, dan kekhawatiran kehidupan sehari-hari—mencekik Firman sehingga menjadi tidak berbuah. Inilah jiwa-jiwa yang mencoba hidup untuk Tuhan dan untuk dunia. Mereka menginginkan Surga, tetapi mereka juga mendambakan kendali, kesenangan, atau keamanan dengan cara mereka sendiri. Di tanah seperti itu, Firman berjuang untuk tumbuh dan tidak dapat menghasilkan buah yang kekal.
Yang terakhir — benih yang ditabur di tanah yang subur—merujuk kepada mereka yang hatinya benar-benar terbuka. Mereka tidak hanya mendengar Firman Tuhan tetapi juga memahaminya, menerimanya, merenungkannya, dan membiarkannya mengubah hidup mereka. Hati ini terbuka, rendah hati, penuh doa, dan terlepas dari gangguan duniawi. Firman menembus jauh ke dalam dan menjadi sumber buah rohani yang melimpah—tiga puluh, enam puluh, atau seratus kali lipat. Inilah orang-orang kudus yang sedang dalam proses pembentukan: jiwa-jiwa yang, meskipun tidak sempurna, bekerja sama dengan kasih karunia dan membiarkan kebenaran Tuhan menguduskan mereka hari demi hari.
Maka renungkanlah tentang pertumbuhan dan perkembangan yang terungkap dalam perumpamaan ini. Seberapa terbuka hatimu terhadap Firman Tuhan? Sebagai benih rohani, Firman Tuhan sangatlah berkuasa. Ketika diterima dalam pikiran yang dipenuhi iman, dan hati yang dipenuhi harapan dan kasih, benih itu dipelihara dan tumbuh. Saat tumbuh, transformasi sejati terjadi. Buah yang baik menjadi nyata, dan Tuhan melakukan hal-hal besar di dalam dan melalui jiwa yang kudus ini. Maka terimalah benih firman dengan sukacita, dan bertekadlah untuk memelihara benih itu sehingga buah yang baik berlimpah dapat dihasilkan dari hidupmu—tiga puluh, enam puluh, atau seratus kali lipat.
DOA:
Ya Tuhanku, Engkau menabur benih Kebenaran dengan murah hati dan berlimpah. Engkau selalu berbicara kepadaku, mengungkapkan Kasih-Mu dan Kehendak-Mu yang sempurna, namun aku seringkali keras hati, dangkal, atau teralihkan. Mohon garaplah tanah hatiku dan jadikan aku peka terhadap semua yang Engkau nyatakan, sehingga hidupku dapat menghasilkan buah yang melimpah dan baik bagi Kerajaan-Mu. Amin.
Semoga Allah yang mahakuasa memberkati saudara dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.
DOA PERSIAPAN PERSEMBAHAN:
Allah Bapa mahakudus, semoga kami Kauberkati dengan buah tanaman gandum dan anggur; semoga kami Kauberkati dengan Roh Yesus, Putra-Mu, yang berada di tengah-tengah kami. Sebab Dialah Tuhan dan pengantara kami.
ANTIFON KOMUNI – Matius 13:23
Benih yang tertabur di tanah subur, ialah orang yang mendengarkan warta itu, memahaminya dan menghasilkan buah, ada yang seratus, enam puluh, dan tiga puluh ganda.
DOA SESUDAH KOMUNI:
Marilah berdoa: Allah Bapa sumber kebenaran, kami bersyukur atas sabda yang telah Kausampaikan kepada kami melalui Yesus, Saudara kami se-Bapa. Semoga sabda itu menghasilkan buah melimpah dan membuat gembira semua orang. Demi Kristus, ….
DOWNLOAD AUDIO RESI:
No Comments