Jumat, 26 Juni 2026 – Hari Biasa Pekan XII

Rm Aegidius Warsito SCJ dari Komunitas SCJ Toronto Kanada

 
 
 

AUDIO RESI:

ANTIFON PEMBUKA — Yeh. 34: 11.23–24

Aku akan memperhatikan domba-domba-Ku, mengangkat seorang gembala sebagai pemimpin, dan Aku, Tuhan sendiri, menjadi Allah mereka.

PENGANTAR: 

Ireneus diakui sebagai theolog dan saksi tradisi kuno gerejani. Di Smir na ia belajar pada Uskup Polikarpus yang masih mengenal Rasul Yoha nes; kemudian ia ke Perancis dan tahun 177 menggantikan Pothinus, us kup Lyon yang gugur sebagai inartir Selama 25 tahun ia memimpin mi si di Perancis, menata Gereja yang masih muda. Pada waktu itulah ia menulis karya tulisnya yang terkenal ‘Melawan Kesesatan’ yaitu aliran Gnostik. Di samping itu ia mendasari ‘Tradisi’ yang sejak para rasul di ajarkan oleh Gereja dari generasi ke generasi. ‘Di mana ada Gereja, di situ pula ada Roh Kudus.” katanya.

DOA KOLEKTA: 

Marilah berdoa: Allah Bapa, pokok damai sejati, berkat bantuan-Mu Santo Ireneus berhasil mempertahankan ajaran benar dan meneguhkan damai bagi Gereja. Semoga berkat bantuannya kami dikuatkan dalam iman dan cinta kasih sehingga selalu memperhatikan kesatuan dan memajukan kerukunan. Demi Yesus Kristus, Putra-Mu, …..

BACAAN PERTAMA: Bacaan dari Kitab Kedua Raja-Raja 25:1-12

“Rakyat Yehuda diangkut ke pembuangan.”

Pada tahun kesembilan dari pemerintahan Raja Zedekia, dalam bulan yang kesepuluh, pada tanggal sepuluh bulan itu, datanglah Nebukadnezar, raja Babel, dengan segala tentaranya menyerang Yerusalem. Ia berkemah mengepungnya dan mendirikan tembok pengepungan sekelilingnya. Demikianlah kota itu terkepung sampai tahun yang kesebelas zaman raja Zedekia. Pada tanggal sembilan bulan yang keempat, ketika kelaparan sudah merajalela di kota itu dan tidak ada lagi makanan pada rakyat negeri itu, maka dibelah oranglah tembok kota itu dan semua tentara melarikan diri malam-malam melalui pintu gerbang antara kedua tembok yang ada di dekat taman raja, sekalipun orang Kasdim mengepung kota itu sekeliling. Mereka lari menuju ke Araba-Yordan. Tetapi tentara Kasdim mengejar raja dari belakang dan mencapai dia di dataran Yerikho; segala tentaranya telah berserak-serak meninggalkan dia. Mereka menangkap raja dan membawa dia kepada raja Babel di Ribla, yang menjatuhkan hukuman atas dia. Orang menyembelih anak-anak Zedekia di depan matanya, kemudian dibutakannyalah mata Zedekia, lalu dia dibelenggu dengan rantai tembaga dan dibawa ke Babel. Dalam bulan yang kelima pada tanggal tujuh bulan itu–itulah tahun kesembilan belas zaman raja Nebukadnezar, raja Babel–datanglah Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal, pegawai raja Babel, ke Yerusalem. Ia membakar rumah TUHAN, rumah raja dan semua rumah di Yerusalem; semua rumah orang-orang besar dibakarnya dengan api. Tembok sekeliling kota Yerusalem dirobohkan oleh semua tentara Kasdim yang ada bersama-sama dengan kepala pasukan pengawal itu. Sisa-sisa rakyat yang masih tinggal di kota itu dan para pembelot yang menyeberang ke pihak raja Babel dan sisa-sisa khalayak ramai diangkut ke dalam pembuangan oleh Nebuzaradan, kepala pasukan pengawal itu. Hanya beberapa orang miskin dari negeri itu ditinggalkan oleh kepala pasukan pengawal itu untuk menjadi tukang-tukang kebun anggur dan peladang-peladang.

Demikianlah sabda Tuhan
U. Syukur kepada Allah.

MAZMUR TANGGAPAN: Mazmur 137:1-2.3.4-5.6

Ref. Hanya pada Tuhanlah hatiku tenang.

  1. Di tepi sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion. Pada pohon-pohon gandarusa di tempat itu kita gantungkan kecapi kita.

  2. Sebab di sanalah orang-orang yang menawan kita meminta kepada kita memperdengarkan nyanyian, dan orang-orang yang menyiksa kita meminta nyanyian sukacita: “Nyanyikanlah bagi kami nyanyian dari Sion!”

  3. Bagaimanakah mungkin kita menyanyikan nyanyian Tuhan di negeri asing? Jika aku melupakan engkau, hai Yerusalem, biarlah menjadi kering tangan kananku!

  4. Biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak mengingat engkau, biarlah lidahku melekat pada langit-langitku, jika aku tidak menjadikan Yerusalem puncak sukacitaku!

BAIT PENGANTAR INJIL:

U :  Alleluya, alleluya
S : 
(Mat 8:17) Yesus memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita. 

BACAAN INJIL: Inilah Injil Yesus Kristus menurut Matius 8:1-4

“Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.”

Setelah Yesus turun dari bukit, banyak orang berbondong-bondong mengikuti Dia. Maka datanglah kepada-Nya seorang yang sakit kusta. Ia sujud menyembah Yesus dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan daku.” Yesus lalu mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir!” Seketika itu juga tahirlah orang itu dari kustanya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Ingatlah, jangan engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah persembahan yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

Demikianlah Sabda Tuhan 
U : Terpujilah Kristus

RESI DIBAWAKAN OLEH Rm Aegidius Warsito SCJ

Vivat Cor Iesu per Cor Mariae. Hiduplah Hati Yesus melalui Hati Maria.

Jumpa lagi saudara-saudari pendengar Resi Dehonian bersama saya: Rm. Aegidius Warsito SCJ, dari Komunitas SCJ Toronto Kanada, di dalam Resi: renungan singkat Dehonian edisi hari Jumat Pekan ke 12 Masa Biasa. Mari kita baca bersama perikopa pada hari ini yang diambil dari Injil Matius 8:1 – 4.

Para pendengar Resi Dehonian yang budiman, perikopa Injil hari ini menawarkan sebuah perjumpaan yang sangat menyentuh antara Yesus dan seorang pria yang menderita kusta. Pada zaman Yesus, kusta bukan hanya penyakit yang menyakitkan dan melemahkan, tetapi juga membawa stigma sosial yang menghancurkan. Penderita kusta dipaksa untuk hidup terpisah dari keluarga dan komunitas mereka, terputus dari ibadah, dan diperlakukan seolah-olah mereka najis secara rohani. Mendekati siapa pun, apalagi seorang guru yang dihormati, berarti berisiko ditolak atau bahkan dihukum.

Akan tetapi pria ini maju dengan keberanian dan kerendahan hati yang luar biasa. Ia berlutut di hadapan Yesus dan berkata, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Kata-katanya ini mengungkapkan iman dan penyerahan dirinya. Ia tidak menuntut kesembuhan, tetapi sepenuhnya percaya pada kehendak Yesus. Ini bukan hanya permintaan untuk pemulihan fisik. Ini adalah permohonan untuk martabat, rasa memiliki, dan kesempatan untuk menjadi utuh kembali.

Apa yang terjadi selanjutnya sungguh luar biasa. Sebelum mengucapkan sepatah kata pun tentang kesembuhan, Yesus mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Gerakan sederhana ini sangat revolusioner. Pada saat itu, Yesus menerobos tembok ketakutan, prasangka, dan hukum kesucian ritual. Ia tidak mundur dari kondisi pria itu, sebaliknya, Ia mendekat untuk menegaskan nilai pria ini di hadapan Allah dan di hadapan dunia. Sentuhan datang sebelum penyembuhan, menunjukkan bahwa kasih dan belas kasihan tidak ditahan sampai kita “disembuhkan” atau “layak.”

Para pendengar Resi Dehonian yang budiman, perjumpaan ini mengajak kita untuk merenungkan kehidupan kita sendiri. Kita mungkin tidak menderita kusta, tetapi banyak dari kita membawa luka:bekas luka emosional, dosa tersembunyi, atau perasaan tidak layak, yang menjauhkan kita dari orang lain dan dari Allah. Terkadang kita meyakinkan diri sendiri bahwa kita harus “membersihkan diri” sebelum mendekati Yesus. Tetapi Injil mengingatkan kita bahwa Yesus menemui kita tepat di tempat kita berada, bahkan di tempat-tempat yang paling kita merasa malu atau jatuh karena kesalahan dan dosa yang kita buat. Sentuhan-Nya tidak takut akan kerapuhan kita.

Injil juga menantang kita untuk mempertimbangkan bagaimana kita menanggapi mereka yang terpinggirkan, dikucilkan, atau dihakimi dengan keras oleh masyarakat. Apakah kita menjaga jarak, atau apakah kita, seperti Yesus, mengulurkan tangan dengan belas kasihan? Kuasa penyembuhan Kristus sering kali dimulai dengan tindakan kehadiran yang sederhana, kesediaan untuk melihat dan menegaskan martabat orang lain.

Maka untuk menutup permenungan kita pada hari ini, baiklah kalau kita melihat diri kita sendiri, khususnya pada saat kita merasa dikucilkan atau tidak layak. Bernikah kita membawa luka dan kegagalan kita kepada Tuhan tanpa rasa malu atau takut? Bagaimana kasih Tuhan menjangkau kita pada saat itu? Bagaimana kita dapat memberikan kasih yang sama kepada seseorang yang merasa tidak terlihat hari ini, yang terpuruk dan dikucilkan masyarakat?

Akhir kata, semoga Tuhan memberkati dan melindungi perjalanan hidup kita di sepanjang hari ini, dan semoga Hati Kudus Yesus senantiasa merajai hati kita semua. Amin

DOA PENGANTAR PERSEMBAHAN:

Allah Bapa, benteng kekuatan kami, roti anggur ini kami hunjukkan dengan gembira untuk memuji Engkau pada peringatan Santo Ireneus, uskup-Mu. Semoga kami cinta akan kebenaran taat setia pada iman Gereja dan senantiasa berpegang teguh pada-Mu. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.

ANTIFON KOMUNI —  Yoh. 10:10

Aku datang supaya mereka memiliki hidup, bahkan hidup yang berlimpah-limpah.

DOA SESUDAH KOMUNI: 

Marilah berdoa: Allah Bapa, pencinta damai, sudilah kiranya memperkuat iman kami dengan sukrumen kudus. Santo Ireneus telah mencapai kemuliaan, karena berpegang teguh pada iman sampai mati. Semoga kami pun setia dalam iman, sehingga memperoleh keselamatan kekal. Demi Kristus, Tuhan dan pengantara kami.

DOWNLOAD AUDIO RESI:

No Comments

Leave a Comment